loading...
Sheikh Ahmad Yassin memiliki pandangan tentang perjuangan rakyat Palestina. Foto/X/@AlFayad13
GAZA - Pada bulan Oktober 1997, Sheikh Ahmad Yassin yang setengah buta dan hampir lumpuh total, yang telah tewas dalam serangan udara Israel pada usia sekitar 67 tahun. Namun, perjuangannya selalu menginspirasi rakyat Palestina untuk terus bangkit dan melawan penjajahan Israel.
Menurut David Hirst, jurnalis The Guardian, Yassin tidak memiliki kebesaran istimewa seperti Nelson Mandela. Namun, Yassin, sang pendiri sekaligus pemimpin organisasi pejuang Islam Hamas, yang lebih mendekati. "Peran kualitas-kualitas tertentu yang sangat pribadi—seperti tidak mementingkan diri sendiri, kesederhanaan, keyakinan, dan rasa pengabdian yang sejati—yang berperan dalam mewujudkannya," katanya.
4 Tanda Palestina Akan Merdeka Menurut Syekh Ahmad Yassin
1. Selalu Melawan Penjajahan Israel
Memang, hampir sepanjang kariernya, sebagai pemimpin lokal Ikhwanul Muslimin internasional, Yassin memiliki penentangan yang berakar kuat dan bermotivasi strategis terhadap tindakan kekerasan langsung terhadap musuh Zionis, apalagi yang ekstrem dan keji. "Ia lebih mengabdikan diri pada kebangkitan Islam daripada penyelamatan Palestina, menganggap bahwa tujuan kedua hanya dapat dicapai setelah tujuan pertama tercapai," ujar Hirst.
Sebenarnya, pernah ada masa ketika, karena sikapnya yang pendiam, tantangan ideologis yang ia ajukan terhadap nasionalisme sekuler militan, dan penentangannya terhadap perjuangan bersenjata yang didukung oleh Organisasi Pembebasan Palestina, Israel memandang Yassin dan karya-karyanya dengan baik.
Baca Juga: 600 Mantan Pejabat Israel Minta Trump Bantu Akhiri Perang Gaza, Berikut 5 Alasannya
2. Membangun Gerakan Politik yang Kuat
Sementara itu, di bawah bayang-bayang karier formalnya, ia meletakkan fondasi bagi ketenarannya di masa depan sebagai seorang ulama sekaligus ahli politik. Ia mendirikan al-Mujamma' al-Islami, Pusat Islam, yang kemudian mengendalikan hampir semua organisasi keagamaan—termasuk Universitas Islam—di Gaza.
"Ia menyebarkan pandangan Islamis standar bahwa Israel, dengan keberadaannya, merupakan penghinaan terhadap Islam, dan bahwa Palestina adalah milik umat Islam hingga hari kiamat yang tidak berhak dilepaskan oleh penguasa mana pun," ujar Hirst.