Anggota DPR Minta Kemensos Evaluasi Penyebab Sekolah Rakyat Sepi Peminat

1 day ago 17

ANGGOTA Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat Derta Rohidin mendesak Kementerian Sosial mengevaluasi penyebab rendahnya minat masyarakat terhadap program sekolah rakyat pada jenjang sekolah dasar. Menurut politikus Partai Golkar ini, pemerintah harus mencari akar persoalannya agar pelaksanaan program tidak hanya berorientasi mencapai target, tetapi juga memperhatikan tumbuh kembang anak.

“Sepinya peminat sekolah rakyat tingkat SD tidak boleh dipandang semata-mata sebagai persoalan sosialisasi yang belum maksimal. Pemerintah perlu melihat persoalan ini secara lebih mendalam,” kata dia dalam keterangan tertulis di laman Fraksi Golkar dikutip Jumat, 17 Juli 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Derta mengatakan pemerintah perlu melihat aspek psikologis, sosial dan budaya yang akan memengaruhi keputusan orang tua. Apalagi bagi anak usia SD masih memiliki kelekatan emosional yang cukup tinggi dengan orang tua sehingga konsep sekolah berasrama dipandang menjadi tantangan tersendiri.

Dia pun meyakini sistem pengasuhan di asrama dengan fasilitas terbaik pun tidak dapat sepenuhnya menggantikan kasih sayang orang tua. Sebab, kata Derta, keluarga masih menjadi lingkungan utama membentuk karakter, rasa aman, kepercayaan diri hingga perkembangan moral dan spiritual anak usia SD.

“Banyak orang tua yang merasa belum siap berpisah dengan anaknya pada usia yang masih sangat dini. Kekhawatiran itu adalah sesuatu yang wajar dan harus dihormati," tutur dia.

Meski konsep sekolah berasrama bermanfaat untuk anak-anak yang terkendala akses pendidikan, dia meminta agar penerapannya tidak diseragamkan untuk semua kelompok masyarakat tanpa mempertimbangkan karakteristik kebutuhan peserta didik. Sehingga dia mendorong Kementerian Sosial mengevaluasi desain sekolah rakyat, termasuk memperhatikan psikologis anak, kesiapan keluarga, efektivitas pengasuhan serta penerimaan masyarakat.

“Di daerah yang memungkinkan, konsep sekolah reguler atau semi-boarding dapat menjadi alternatif yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” kata dia mengusulkan alternatifnya.

Selain itu, ia mendorong agar target sekolah rakyat diprioritaskan untuk anak-anak dengan kondisi khusus, seperti yatim piatu, terlantar, berasal dari keluarga miskin ekstrem, atau korban bencana. Derta mengingatkan bahwa indikator keberhasilan tidak hanya diukur dari jumlah sekolah yang dibangun, tapi bagaimana anak bisa bahagia saat belajar dan seberapa tenang orang tua mempercayakan anaknya.

Sebelumnya saat meninjau pembukaan masa pengenalan lingkungan sekolah di Sekolah Rakyat Sragen, 14 Juli 2026, Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengungkap target siswa sekolah rakyat jenjang SD belum tercapai. Dari 9.000 siswa yang ditarget secara nasional, Kemensos baru menjaring 5.000 siswa.

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online