Angkutan Petikemas KAI Tumbuh 21,75% pada Januari–April 2026

3 weeks ago 37

Volume angkutan mencapai 1.912.392 ton, meningkat dibanding periode yang sama tahun 2025 sebesar 1.570.835 ton, memperkuat efisiensi logistik nasional berbasis rel

Jakarta (ANTARA) - Pergerakan logistik nasional terus berkembang seiring meningkatnya aktivitas industri, perdagangan, dan distribusi barang di berbagai wilayah Indonesia. Di tengah kebutuhan rantai pasok yang semakin cepat dan efisien, transportasi berbasis rel mulai mengambil peran lebih besar sebagai moda distribusi barang berkapasitas besar yang lebih terukur dari sisi waktu, biaya, maupun daya angkut.

PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat volume angkutan petikemas selama Januari–April 2026 mencapai 1.912.392 ton, meningkat 21,75% dibanding periode yang sama tahun 2025 sebanyak 1.570.835 ton. Pertumbuhan ini menunjukkan semakin besarnya kebutuhan distribusi logistik berbasis rel, terutama untuk mendukung konektivitas kawasan industri, pelabuhan, hingga pusat distribusi di Pulau Jawa.

Vice President Public Relations KAI Anne Purba mengatakan peningkatan angkutan petikemas mencerminkan perubahan pola distribusi logistik yang mulai bergerak menuju sistem transportasi massal yang lebih efisien dan terintegrasi.

“Angkutan berbasis rel mampu membawa muatan dalam jumlah besar secara lebih terukur. Ketika distribusi barang berjalan lebih efisien, dampaknya ikut dirasakan oleh rantai pasok industri, pelaku usaha, hingga masyarakat sebagai pengguna akhir produk,” ujar Anne.

Menurut Anne, peningkatan angkutan petikemas juga berkaitan erat dengan kebutuhan industri terhadap sistem distribusi yang semakin kompetitif. Saat aktivitas logistik tumbuh, kebutuhan terhadap moda angkutan dengan kapasitas besar dan waktu tempuh yang stabil menjadi semakin penting.

KAI saat ini terus memperkuat pengembangan infrastruktur logistik barang melalui kolaborasi dengan berbagai pihak. Salah satunya dilakukan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman pengembangan logistik berbasis rel di Dryport Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang bersama PT Kawasan Industri Terpadu Batang, PT Pelabuhan Indonesia (Persero), PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah (Perseroda), dan Perumda Aneka Usaha Kabupaten Batang.

Pengembangan dryport tersebut diarahkan untuk membangun sistem logistik yang terhubung langsung antara kawasan industri, jalur kereta api, hingga pelabuhan. Skema ini dinilai mampu memangkas proses distribusi yang selama ini bergantung pada angkutan jalan raya dengan tingkat kepadatan tinggi.

“Ketika kawasan industri terhubung langsung dengan jaringan rel dan pelabuhan, proses distribusi menjadi lebih efisien. Barang dapat bergerak dalam volume besar dengan pola operasional yang lebih stabil dan biaya logistik yang lebih kompetitif,” jelas Anne.

Saat ini biaya logistik Indonesia masih berada di kisaran 15% hingga di atas 20% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sementara standar global berada di kisaran 7–8%. Selisih tersebut menjadi tantangan besar sekaligus peluang bagi pengembangan sistem logistik nasional yang lebih efisien.

Di Pulau Jawa sendiri, sekitar 60% aktivitas logistik nasional berada di wilayah ini dengan nilai biaya logistik diperkirakan mencapai Rp2.400–2.500 triliun per tahun. Dalam skala tersebut, efisiensi distribusi memiliki dampak ekonomi yang sangat besar terhadap biaya produksi industri nasional.

KAI juga terus meningkatkan kapasitas angkutan barang melalui penguatan sarana. Saat ini KAI mengoperasikan gerbong dengan kapasitas rata-rata 50 ton per gerbong dan tengah mengembangkan kapasitas hingga 70 ton per gerbong. Dengan satu rangkaian mencapai 60 gerbong, kapasitas angkut dapat mencapai sekitar 4.200 ton dalam satu perjalanan.

Selain kapasitas angkut, ketepatan waktu operasional juga menjadi faktor penting dalam distribusi logistik nasional. Selama Januari–April 2026, KAI mencatat on time performance (OTP) angkutan barang untuk keberangkatan mencapai 95,97% dan kedatangan sebesar 91,77%. Capaian tersebut menunjukkan bagaimana distribusi berbasis rel mampu memberikan kepastian waktu pengiriman yang semakin dibutuhkan oleh kawasan industri, pelabuhan, hingga rantai pasok nasional.

Besarnya kapasitas tersebut memberi gambaran bagaimana angkutan berbasis rel mampu mengurangi kepadatan distribusi di jalan raya. Dalam satu perjalanan, kereta api barang dapat mengangkut muatan dalam jumlah besar secara bersamaan dengan kebutuhan energi dan ruang distribusi yang lebih efisien.

Selain penguatan kapasitas angkut, KAI juga mendorong pengembangan jalur langsung menuju pelabuhan untuk meningkatkan fleksibilitas distribusi barang. Saat ini distribusi menuju Pelabuhan Tanjung Priok masih memanfaatkan jalur eksisting dengan keterbatasan waktu operasional tertentu. Pengembangan konektivitas langsung diharapkan dapat mempercepat arus barang dari kawasan industri menuju pelabuhan ekspor maupun distribusi domestik.

Anne menambahkan bahwa pengembangan logistik berbasis rel juga membuka peluang pertumbuhan ekonomi baru di berbagai wilayah. Keberadaan dryport dan jaringan distribusi barang dapat mendorong tumbuhnya kawasan pergudangan, pusat konsolidasi logistik, hingga aktivitas ekonomi pendukung di sekitar simpul distribusi.

“Kereta api barang berkembang menjadi bagian penting dalam membangun rantai pasok nasional yang lebih efisien dan terhubung. Saat distribusi semakin baik, industri lebih kompetitif, mobilitas barang lebih lancar, dan pertumbuhan ekonomi daerah ikut bergerak,” tutup Anne.

Pewarta: PR Wire
Editor: PR Wire
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online