Arsyad Benyal, Striker Galatama yang Pernah Bersinar lalu Pergi dalam Sunyi

21 hours ago 12

Bola.com, Surabaya - Namanya mungkin asing bagi generasi sepak bola modern. Tidak ada video highlight viral, tak ada dokumentasi digital yang terus diputar ulang di media sosial. Namun pada era Galatama, Arsyad Benyal pernah menjadi sosok yang disegani di lini depan klub-klub besar Indonesia.

Ia tumbuh di masa ketika sepak bola nasional dipenuhi rivalitas keras, stadion penuh penonton, dan nama pemain dibangun lewat performa di lapangan, bukan popularitas di internet.

Nama “Benyal” bahkan lebih dikenal dibanding nama keluarganya sendiri, Latuamurry, yang berasal dari Negeri Pelauw. Julukan itu melekat di jersey dan perjalanan kariernya hingga menjadi identitas yang dikenang publik sepak bola era 1980 hingga 1990-an.

Untuk memahami perjalanan Arsyad, orang harus menoleh kembali ke era Galatama. Kompetisi semi-profesional paling bergengsi sebelum lahirnya Liga Indonesia itu menjadi panggung utama pemain-pemain terbaik tanah air.

Pada masa tersebut, klub-klub seperti Niac Mitra, Pelita Jaya, Krama Yudha Tiga Berlian, Warna Agung, hingga Arseto Solo menjadi simbol kekuatan sepak bola modern Indonesia. Galatama menghadirkan atmosfer kompetisi yang keras dan penuh gengsi.

Berbeda dengan kompetisi Perserikatan yang berbasis daerah, Galatama dihuni klub-klub profesional dengan dukungan perusahaan besar dan diperkuat pemain nasional. Di tengah ketatnya persaingan itulah Arsyad Benyal menempa namanya.

Persebaya Surabaya pincang jelang tandang ke markas Borneo FC pada pekan ke-25 BRI Super League 2025/2026 di Stadion Segiri, Sabtu (7/3/2026), setelah Malik Risaldi, Bruno Paraiba, dan Mihailo Perovic cedera, ditambah Arief Catur serta Sadida Nugraha...

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Bakat Sepak Bola dari Sang Ayah

Bakat sepak bolanya disebut mengalir dari sang ayah, Nawa Haji Latuamurry, yang juga dikenal sebagai pesepak bola pada zamannya.

Dari sana, Arsyad tumbuh menjadi penyerang cepat dengan karakter khas pemain Indonesia timur: agresif, eksplosif, dan berani dalam duel satu lawan satu.

Kariernya kemudian membawanya memperkuat sejumlah klub besar Galatama seperti PS Arseto Solo, PS Barito Putera, Persiraja Banda Aceh, hingga Medan Jaya pada akhir kariernya.

Salah satu fase penting perjalanan Arsyad terjadi saat membela Arseto Solo pada 1988. Kala itu, Arseto bukan sekadar tim kuat, tetapi simbol kejayaan sepak bola profesional Indonesia.

Klub milik Bambang Trihatmodjo tersebut dikenal memiliki fasilitas modern dan skuad bertabur pemain nasional. Nama-nama besar seperti Ricky Yakobi dan Eduard Ivakdalam menjadi bagian dari kekuatan Arseto.

Di tengah skuad penuh bintang itu, Arsyad mendapat tempat. Dalam foto tim Arseto Solo 1988 yang kini menjadi kenangan bersejarah, ia berdiri bersama para pemain besar dengan logo sponsor SONY di dada mereka, simbol glamornya Galatama saat itu.

Arsyad bahkan sempat bermain bersama Ricky Yakobi, salah satu striker terbaik Indonesia sepanjang masa. Kombinasi keduanya menghadirkan ancaman besar bagi pertahanan lawan.

Tenang dan Cerdas Membaca Permainan

Ricky dikenal tenang dan cerdas membaca permainan, sementara Arsyad hadir dengan pergerakan agresif dan tusukan tajam dari berbagai sisi lapangan.

Arseto ketika itu memainkan sepak bola menyerang dengan tempo cepat dan teknik tinggi. Atmosfer kompetitif seperti itu membantu Arsyad berkembang menjadi striker papan atas nasional.

Meski tak selalu mendapat sorotan sebesar pemain timnas lain, keberadaan Arsyad di skuad Arseto membuktikan kualitasnya berada di level tertinggi sepak bola Indonesia era tersebut.

Sebagai catatan, Arseto Solo nyaris selalu menghuni papan atas Galatama dan konsisten bersaing di tiga besar. Klub itu mencapai puncak kejayaan pada 1992 dengan meraih gelar juara Galatama dan lolos ke delapan besar Liga Champions Asia, sebelum menjadi juara turnamen klub ASEAN pada 1993.

Perjalanan Arsyad berlanjut ke PS Barito Putera pada 1990. Saat itu, Barito mulai dikenal sebagai tim pekerja keras dengan semangat kolektif yang kuat.

Dalam skuad tersebut, ia bermain bersama nama-nama seperti Slamet Riyanto, Muhammad Yusuf, Ridwan Sirait, hingga Salahuddin. Dukungan publik Banjar yang fanatik membuat atmosfer pertandingan Barito selalu hidup.

Arsyad menjadi salah satu andalan di lini depan. Ia dikenal sulit dijaga dan beberapa kali masuk daftar pencetak gol penting bagi tim.

Akhir Karier

Selain Barito dan Arseto, Arsyad juga pernah membela Persiraja Banda Aceh serta Medan Jaya. Fakta itu menunjukkan bahwa sepanjang kariernya, ia selalu berada di lingkungan klub-klub besar sepak bola nasional.

Namun seperti banyak pesepak bola lain, waktu akhirnya membawa Arsyad meninggalkan hingar-bingar stadion. Setelah pensiun, ia memilih kembali ke Maluku dan menjalani kehidupan yang jauh lebih sederhana.

Di sana ia menikahi Nurhalima Tualeka, perempuan sekampungnya, dan membangun keluarga kecil bersama dua anak mereka, Muhammad Raditya Surya Akbar dan Marsya Rahmatya Cantika Purnama.

Jika dahulu ia dikenal sebagai striker Galatama, maka di Masohi ia menjalani kehidupan yang tenang sebagai kepala keluarga biasa.

Tak ada lagi sorakan tribun atau tekanan pertandingan besar. Hari-harinya lebih banyak dihabiskan bersama keluarga dan mengantar anak sekolah.

Sementara sang istri bekerja sebagai ASN di Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah, Arsyad mengambil peran menjaga rumah dan keluarganya.

Kondisi Kesehatan Mulai Menurun pada Tahun 2025

Bagi keluarga, Arsyad bukan mantan pesepak bola terkenal. Ia adalah sosok ayah dan suami yang hangat serta selalu hadir di tengah keluarga.

Namun, kehidupan sederhana itu juga diiringi kebiasaan yang perlahan memengaruhi kesehatannya: merokok, minum kopi saset, dan sering begadang. Kebiasaan tersebut tetap melekat meski ia telah lama meninggalkan dunia sepak bola profesional.

Menjelang akhir 2025, kondisi kesehatannya mulai menurun. Ia beberapa kali keluar masuk rumah sakit dan kabarnya menyebar perlahan di kalangan keluarga.

Hingga akhirnya pada Senin siang, 4 Mei 2026, Arsyad Benyal menghembuskan napas terakhirnya. Ia pergi jauh dari sorotan publik dan hiruk-pikuk stadion yang dulu mengenal namanya. Namun bagi mereka yang pernah hidup di era Galatama, Arsyad Benyal bukan sekadar mantan pemain bola.

Ia adalah bagian dari generasi pesepak bola yang membangun nama lewat perjuangan di lapangan, di masa ketika sepak bola Indonesia hidup dari gairah tribun dan kualitas permainan.

Hari ini mungkin tak banyak generasi muda mengenalnya. Tetapi bagi penikmat sepak bola era Galatama, Arsyad Benyal tetap dikenang sebagai striker asal timur yang pernah berkelana di klub-klub besar Indonesia, sebelum akhirnya pulang dan menjalani hidup sederhana hingga akhir hayatnya.

Yuk Lihat Peta Persaingan

  • 0%suka
  • 0%lucu
  • 0%sedih
  • 0%marah
  • 0%kaget
  • 0%aneh
  • 0%takut
  • 0%takjub
  • Aditya Wany
  • Hendry Wibowo
Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online