BEM UI: Reformasi Sudah Mati

10 hours ago 9

BADAN Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia atau BEM UI menggelar aksi simbolik di Tugu Makara, Kampus Depok, Rabu, 20 Mei 2026. Dalam aksi itu, mereka menyatakan reformasi telah mati.

Sejak sekitar pukul 17.00 WIB, sejumlah mahasiswa mulai berkumpul di kawasan Putaran Tugu Makara UI. Mereka membawa spanduk bertuliskan “Reformasi Mati, Prabowo Happy” dan “Adili Prabowo dan Kroninya”. Massa juga menyiapkan replika makam dengan nisan bertuliskan “RIP Reformasi”.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Mahasiswa yang mengenakan pakaian serba hitam sebagai simbol duka turut menutup Tugu Makara dengan kain putih. Aksi tersebut menjadi bagian dari rangkaian simbolik yang mereka sebut sebagai “pemakaman reformasi”.

Koordinator aksi, Hafidz Haernanda, mengatakan kegiatan itu merupakan pernyataan sikap mahasiswa terhadap kondisi demokrasi saat ini. “Kami menyatakan bahwa reformasi yang selama ini diperjuangkan kini telah mati,” ujar Hafidz di lokasi.

Menurut dia, indikator “kematian” reformasi terlihat dari tidak tercapainya sejumlah tuntutan yang selama ini diperjuangkan mahasiswa dan masyarakat. “Kami melihat agenda reformasi telah usai,” kata dia.

Hafidz menilai berakhirnya era reformasi membuka kemungkinan munculnya fase baru yang justru lebih represif. Ia menyebut situasi saat ini menunjukkan kemiripan dengan masa Orde Baru.

Meski demikian, ia menegaskan aksi tersebut bukan untuk menafikan perjuangan mahasiswa dan rakyat pada 1998. Aksi ini, kata dia, justru menjadi pengingat bahwa perjuangan dapat dilanjutkan. “Kita pernah berjuang, dan ke depan kita bisa berjuang lagi,” ujarnya.

Ia juga menyoroti maraknya praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang dinilai masih terjadi, bahkan disebut lebih buruk dibanding masa lalu. Selain itu, ia menyinggung kecenderungan resentralisasi kekuasaan yang dinilai bertentangan dengan semangat otonomi daerah.

Hafidz turut mengkritik sejumlah kebijakan pemerintah, termasuk pemberian gelar pahlawan kepada Presiden kedua RI, Soeharto. Menurut dia, hal itu bertolak belakang dengan semangat reformasi yang dulu menentang pemerintahan Orde Baru.

Dalam aksi tersebut, mahasiswa menggelar simulasi upacara pemakaman reformasi. Kain putih yang menutup Tugu Makara melambangkan awal reformasi yang dianggap bersih. Seiring waktu, kata Hafidz, simbol itu berubah. “Kain putih itu lama-lama tercemar dan rusak. Dalam prosesi nanti akan kami ganti menjadi hitam,” ujar dia.

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online