Bukan Gen Z yang Lebih Sering Gunakan Internet di Indonesia

5 hours ago 3

Selular.ID – Jumlah pengguna internet di Indonesia kembali meningkat dan mencatat rekor baru di tahun 2026.

Hal tersebut diungkapkan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) merilis hasil Survei Profil Internet Indonesia 2026.

Hasilnya menunjukkan jumlah pengguna internet di Tanah Air kini mencapai 235,26 juta jiwa.

Angka itu setara dengan 81,72 persen dari total populasi Indonesia yang berjumlah 287,30 juta jiwa.

Artinya, dari setiap 100 orang Indonesia, lebih dari 81 di antaranya sudah terhubung ke internet.

Lalu generasi manakah yang sering menggunakan internet di Indonesia?

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

Gen Z Bukan Teratas

Yang menarik dari laporan APJII tahun ini adalah temuan soal generasi mana yang paling banyak terhubung ke internet.

Banyak orang mungkin mengira Gen Z, yakni mereka yang lahir antara 1997 sampai 2012, adalah yang paling melek internet. Ternyata tidak.

Penetrasi internet tertinggi justru ada di generasi Milenial dengan angka 90,34 persen.

Gen Z menempati posisi kedua dengan penetrasi 89,02 persen. Selisihnya tipis, tapi tetap menarik.

Generasi Milenial yang kini berada di usia produktif dengan kebutuhan kerja, urusan keluarga, hingga aktivitas finansial digital, ternyata jadi yang paling tergantung pada internet.

Dari sisi gender, masih ada kesenjangan antara pengguna laki-laki dan perempuan, meski tidak terlalu jauh.

Penetrasi internet di kalangan laki-laki tercatat 83,95 persen dengan kontribusi 50,03 persen.

Sementara perempuan 79,79 persen dengan kontribusi 49,97 persen.

Menurut APJII, data ini menunjukkan kesenjangan gender dalam akses internet sudah semakin kecil.

Selisih kontribusi yang nyaris merata 50:50 jadi bukti kesetaraan akses internet antara laki-laki dan perempuan di Indonesia.

Kesenjangan juga terlihat antara warga kota dan warga desa. Masyarakat di wilayah urban alias perkotaan punya tingkat penetrasi internet 84,75 persen.

Sementara wilayah rural alias pedesaan, angkanya lebih rendah di 78,18 persen. Selisihnya sekitar 6,5 persen.

Tidak terlalu jauh, tapi cukup mencerminkan masih adanya kesenjangan infrastruktur dan akses antara kota dan desa.

Tingkat pendidikan ternyata juga sangat mempengaruhi penetrasi internet. Penetrasi tertinggi tercatat pada kelompok dengan pendidikan perguruan tinggi, yakni 92,49 persen.

Disusul lulusan SMA dan SMK sederajat dengan 90,44 persen.

Polanya jelas, makin tinggi pendidikan seseorang, makin besar kemungkinannya terhubung ke internet.

Dari sisi perangkat yang dipakai untuk mengakses internet, smartphone masih jadi pilihan utama mayoritas orang Indonesia.

Sebanyak 84,31 persen pengguna internet Indonesia mengandalkan smartphone untuk berselancar di dunia maya.

Soal durasi akses, mayoritas pengguna internet Indonesia menghabiskan waktu 4 sampai 6 jam per hari online.

Artinya, kalau dihitung dalam seminggu, mereka menghabiskan sekitar 28 sampai 42 jam di internet.

Pelambatan Peningkatan

Dibandingkan tahun sebelumnya, jumlah pengguna internet di Indonesia bertambah sekitar 6 juta jiwa.

Pada 2025, tingkat penetrasi internet nasional masih di angka 80,66 persen.

Meski jumlah pengguna internet terus naik, ada satu hal menarik dari laporan APJII tahun ini.

Laju pertumbuhannya sebenarnya melambat dibanding periode sebelumnya.

Pada kurun 2024 ke 2025, jumlah pengguna internet baru di Indonesia mencatatkan kenaikan hingga 7,86 juta jiwa.

Sementara di 2025 ke 2026, kenaikannya hanya 6 juta jiwa.

Pelambatan ini wajar terjadi. Sebab semakin tinggi tingkat penetrasi internet, semakin sedikit ruang untuk pertumbuhan baru.

Banyak penduduk yang belum terhubung internet biasanya berada di wilayah-wilayah dengan kendala geografis atau infrastruktur.

Sebagai gambaran, berikut tren penetrasi internet Indonesia selama lima tahun terakhir berdasarkan data APJII:

  • 2022: 77 persen (sekitar 210 juta jiwa)
  • 2023: 78,2 persen (sekitar 215 juta jiwa)
  • 2024: 79,5 persen (sekitar 221 juta jiwa)
  • 2025: 80,66 persen (sekitar 229 juta jiwa)
  • 2026: 81,72 persen (235,26 juta jiwa)

Pulau Jawa masih dominan

Survei APJII juga mengungkap kalau sebaran pengguna internet di Indonesia masih sangat tidak merata.

Pulau Jawa tetap mendominasi secara mutlak. Tingkat penetrasi internet di Jawa mencapai 85,95 persen, dan kontribusinya terhadap total pengguna internet nasional mencapai 58,24 persen.

Baca juga:

Artinya, lebih dari separuh pengguna internet Indonesia tinggal di Pulau Jawa, sebagaimana Selular himpun dari situs resmi APJII, Senin (15/6/2026).

Berikut peta penetrasi internet per wilayah di Indonesia berdasarkan survei APJII 2026:

  • Jawa: 85,95 persen (kontribusi 58,24 persen)
  • Kalimantan: 80,40 persen (kontribusi 6,20 persen)
  • Sumatera: 78,24 persen (kontribusi 20,74 persen)
  • Bali dan Nusa Tenggara: 78,14 persen (kontribusi 5,26 persen)
  • Sulawesi: 72,58 persen (kontribusi 6,62 persen)
  • Maluku dan Papua: 69,74 persen (kontribusi 2,94 persen)

Maluku dan Papua jadi wilayah dengan tingkat penetrasi paling rendah.

Hal ini tentu saja menunjukkan kesenjangan digital antarwilayah masih jadi pekerjaan rumah yang serius.

Cara APJII Menghitung

Soal metodologi, APJII menjelaskan bahwa Survei Profil Internet Indonesia 2026 ini dilakukan pada periode 1 Februari hingga 15 Maret 2026.

Target responden survei adalah Warga Negara Indonesia yang berusia 13 tahun ke atas.

Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka langsung oleh tim enumerator yang sudah dilatih khusus.

Survei ini memiliki margin of error alias batas kesalahan sebesar 1,1 persen.

APJII mengaku, hasil survei ini diharapkan bisa jadi referensi strategis bagi pemerintah, pelaku industri internet, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan ekosistem digital nasional ke depan.

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online