Cerita Penumpang Saat Detik-detik Kecelakaan Kereta Bekasi

1 day ago 5

AHLANA S., 25 tahun, menjadi salah satu korban selamat dari kecelakaan kereta api Argo Bromo relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi yang menghantam kereta rel listrik (KRL) commuter line tujuan Cikarang di Stasiun Bekasi Timur, pada Senin malam, 27 April 2026. Ahlana menaiki KRL dari Stasiun Sudirman, Jakarta Pusat, untuk pulang ke rumahnya di Bekasi.

Menurut Ahlana, dia merasakan keanehan sejak keretanya berhenti lebih lama dari biasanya di Stasiun Bekasi Timur untuk menurunkan penumpang. Dia kemudian menyaksikan petugas pengawal kereta berlarian di peron menuju arah depan sambil meneriakkan, "Awas! Awas!" .

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Saat itulah dia mengetahui bahwa sebuah mobil taksi Green SM bertabrakan dengan kereta yang ia naiki. Sejumlah penumpang keluar gerbong untuk melihat kondisi tersebut dan masinis membuat pengumuman penundaan pemberangkatan ke Stasiun Tambun. Karena merasa lelah usai bekerja, Lana memilih tetap duduk di bangku penumpang.

Namun, berselang tiga menit setelah itu, ia merasakan keretanya seperti ditabrak. Rupanya kereta yang ia tumpangi ditabrak KA Argo Bromo dari belakang.

“Tiba-tiba aku ngerasa keretanya kebanting ke depan gitu, kenceng banget. Itu kepala aku langsung kebentur sama tiang yang ada di belakang tiang tempat duduk,” kata dia saat menceritakan ulang pada Selasa, 28 April 2026.

Dalam sekejap, lampu di dalam gerbong langsung padam dan pintu kereta otomatis menutup. Ahlana dan penumpang lain spontan berteriak dan panik. Dari luar, penumpang lain berusaha mengevakuasi dengan menjebol jendela kereta. Ahlana keluar dari gerbong dengan cara melompati jendela.  

Ia mengaku menyaksikan banyak penumpang lanjut usia dan ibu-ibu yang pingsan di dalam gerbong. Dia tidak bisa ingat banyak hal karena terkejut setelah mengalami kecelakaan. Menurut dia, gerbong di bagian belakang mengalami kerusakan paling parah. “Aku di situ jujur enggak ingat gimana-gimana lagi karena aku sibuk nangis. Badan aku gemeteran,” ucap Ahlana.

Menurut Ahlana, sekitar 15 menit dari kejadian ambulans baru berdatangan. Kebanyakan korban yang luka-luka dilarikan ke RSUD Bekasi. Ahlana sendiri dijemput oleh keluarganya dan dilarikan ke Rumah Sakit Primaya untuk menjalani perawatan. Dia mengeluhkan kepalanya yang benjol dan sakit akibat terbentur tiang.

Dari hasil pemeriksaan CT scan, dokter menyatakan tidak ada fraktur di kepalanya. Saat ini Ahlana masih dalam pemantauan dokter untuk menentukan perlu tidaknya tindakan lebih lanjut.

Ahlana mengaku saat ini masih trauma saat mengingat detik-detik kecelakaan dan sesaat setelahnya. Ia mengaku masih terbayang-bayang kondisi korban yang terjepit di gerbong dan korban yang tergeletak saat diselamatkan petugas.

“Dan sampai sekarang aku mendengar suara ambulans tuh kayak takut banget. Ya Allah itu orangnya gimana gitu, kepikiran banget sama yang lain,” ujarnya sambil terisak.  

Pada Selasa pagi, 28 April 2026, Badan Search and Rescue atau Basarnas telah mengevakuasi seluruh korban yang semula terperangkap di gerbong kereta. PT Kereta Api Indonesia (Persero) memastikan seluruh korban kecelakaan kereta di wilayah Stasiun Bekasi Timur telah dievakuasi dan mendapatkan penanganan medis. KAI mencatat korban meninggal dunia empat orang dan 79 orang terluka.

“Kami menyampaikan duka cita yang mendalam atas kejadian ini serta permohonan maaf kepada seluruh pelanggan. Fokus kami saat ini adalah memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan terbaik dan terus berkoordinasi dengan seluruh pihak agar proses penanganan berjalan dengan baik,” kata Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa, 28 April 2026, seperti dikutip Antara.

KAI juga menyampaikan semua penumpang KA Argo Bromo Anggrek yang berjumlah 240 orang berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat.  KAI menyerahkan proses investigasi kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk memastikan penyebab kejadian dapat diidentifikasi secara menyeluruh.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan proses evakuasi dilakukan secara maksimal dengan mengutamakan keselamatan korban. “Kami berfokus pada upaya evakuasi dan penanganan korban dengan sekuat tenaga. Untuk penyebab kejadian, kami menyerahkannya kepada KNKT agar dapat ditelusuri secara lebih mendalam,” ujar Dudy.

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online