China Bangun Satelit Pemantau Bencana Asia Termasuk Indonesia

16 hours ago 8

Selular.ID – China bersama sejumlah negara Asia Tengah resmi memulai pengembangan Konstelasi Tianwu (Tianwu Constellation), jaringan satelit penginderaan jauh (remote sensing) yang dirancang untuk meningkatkan pemantauan dan mitigasi bencana alam lintas negara.

Kesepakatan kerja sama tersebut ditandatangani pada ajang China-Eurasia Expo ke-9 di Urumqi, Xinjiang, pada akhir Juni 2026, sebagai bagian dari upaya memperkuat sistem pemantauan kawasan terhadap ancaman seperti gempa bumi, banjir akibat mencairnya gletser, hingga serangan hama pertanian.

Proyek Tianwu akan diawali dengan pembangunan konstelasi yang terdiri atas lima satelit.

Satelit-satelit tersebut akan berbagi data penginderaan jauh di antara negara peserta sehingga pemantauan kondisi lingkungan dapat dilakukan secara lebih cepat dan terkoordinasi.

Inisiatif ini dipimpin oleh ilmuwan dari Chinese Academy of Sciences (CAS) bersama mitra dari negara-negara Asia Tengah.

Tong Qingxi, pakar penginderaan jauh dari Chinese Academy of Sciences, menjelaskan bahwa wilayah Xinjiang memiliki karakteristik geografis yang serupa dengan banyak kawasan di Asia Tengah.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

Karena berbagi ancaman yang sama, seperti longsor, gempa bumi, serta banjir akibat mencairnya gletser, kolaborasi satelit dinilai dapat meningkatkan kemampuan seluruh negara peserta dalam mendeteksi risiko dan merespons bencana secara lebih efektif.

Konstelasi Tianwu akan memanfaatkan teknologi penginderaan jauh, yaitu metode pengamatan permukaan bumi menggunakan sensor pada satelit tanpa kontak langsung dengan objek yang diamati.

Teknologi ini memungkinkan pengumpulan data mengenai perubahan kondisi permukaan, vegetasi, badan air, hingga deformasi tanah yang berpotensi menjadi indikator awal terjadinya bencana alam.

Selain mendukung mitigasi bencana, data yang dihasilkan Tianwu juga dirancang untuk mendukung pengelolaan sumber daya alam, pemantauan pertanian, pengawasan lingkungan, serta penelitian perubahan iklim.

Berbagi data antarnegeri diharapkan dapat membantu pemerintah mengambil keputusan lebih cepat ketika menghadapi kondisi darurat maupun dalam penyusunan kebijakan pembangunan jangka panjang.

Pengembangan Tianwu merupakan bagian dari strategi China yang dalam beberapa tahun terakhir terus memperluas pemanfaatan teknologi antariksa untuk kebutuhan sipil.

Pada Juni 2025, China National Space Administration (CNSA) meluncurkan satelit Zhangheng 1-02, satelit pemantau elektromagnetik yang dirancang untuk memperkuat sistem pemantauan bencana melalui pendekatan “space-air-ground”, yakni integrasi data dari satelit, wahana udara, dan sensor di darat.

Satelit tersebut bertugas memantau medan elektromagnetik, ionosfer, atmosfer netral, serta fenomena yang berkaitan dengan aktivitas geologi dan cuaca ekstrem.

Menurut CNSA, data Zhangheng 1-02 digunakan untuk mendukung penelitian mengenai hubungan perubahan medan fisik bumi dengan aktivitas geologi.

Informasi tersebut diharapkan membantu pengembangan metode pemantauan terhadap gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, cuaca ekstrem, hingga fenomena cuaca antariksa.

Pemerintah China menyebut satelit itu sebagai salah satu komponen penting dalam meningkatkan kemampuan deteksi dini dan sistem peringatan bencana nasional.

Di sisi lain, China juga terus memperkuat jaringan satelit observasi bumi untuk kebutuhan mitigasi bencana.

Sebelumnya, negara tersebut telah mengoperasikan satelit Land Surveyor 4A, satelit radar aperture sintetis (Synthetic Aperture Radar/SAR) di orbit geostasioner yang mampu melakukan pengamatan siang dan malam, termasuk saat kondisi berawan atau hujan.

Satelit ini digunakan untuk pemantauan bencana, pengelolaan sumber daya alam, prakiraan cuaca, perlindungan lingkungan, serta sektor pertanian dan kehutanan.

Pemanfaatan satelit dalam mitigasi bencana juga menjadi bagian dari kerja sama internasional China.

Melalui mekanisme China GEO dan satelit Fengyun, China sebelumnya telah menyediakan citra satelit bagi sejumlah negara yang terdampak banjir, termasuk Indonesia, Thailand, dan Sri Lanka, sebagai dukungan terhadap operasi tanggap darurat yang dikoordinasikan bersama lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Pembangunan Konstelasi Tianwu memperlihatkan semakin besarnya peran teknologi satelit dalam menghadapi bencana yang bersifat lintas batas.

Dengan mengintegrasikan data pengamatan dari beberapa negara, sistem tersebut diharapkan dapat mempercepat pertukaran informasi, meningkatkan akurasi pemantauan, serta memperkuat koordinasi regional dalam menghadapi ancaman bencana alam yang semakin kompleks akibat perubahan iklim dan kondisi geografis kawasan Asia Tengah.

Baca Juga: Piala Dunia 2026: Tak Ada Lagi Vivo, Merek China Hanya Diwakili Hisense dan Mengniu Dairy

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online