loading...
Jajaran direksi dan manajemen BCA agresif melakukan aksi beli saham perseroan di tengah fluktuasi pasar modal pada awal kuartal I-2026. FOTO/dok.SindoNews
JAKARTA - Jajaran direksi dan manajemen PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terpantau agresif melakukan aksi beli saham perseroan di tengah fluktuasi pasar modal pada awal kuartal I-2026. Langkah strategis buy on weakness ini dinilai sebagai sinyal kuat bahwa pemegang kebijakan internal memiliki kepercayaan tinggi terhadap prospek pertumbuhan jangka panjang bank swasta terbesar di Indonesia tersebut.
"Saat ini saham BBCA diperdagangkan di kisaran PER sekitar 15 kali, jauh lebih murah dibanding bank digital seperti ARTO yang memiliki PER sekitar 64 kali. Fenomena ini menunjukkan adanya kondisi 'salah harga' di mana pasar memberikan diskon besar pada saham yang memiliki fundamental kokoh," ujar pengamat pasar modal, Rendy Yefta seperti dikutip Sabtu (18/4/2026).
Baca Juga: IHSG Hari Ini Dibuka Naik Tipis ke 7.663, Ada 365 Saham Menghijau
Aksi akumulasi saham ini melibatkan dana pribadi para petinggi BCA dengan nilai mencapai miliaran rupiah. Hendra Lembong tercatat menambah kepemilikan secara masif dengan transaksi senilai Rp7,93 miliar, disusul oleh Wakil Presiden Direktur John Kosasih yang mengeksekusi pembelian senilai Rp4,37 miliar pada Maret 2026. Langkah serupa juga diambil Vera Eve Lim yang mengeluarkan dana segar sebesar Rp3,84 miliar untuk mempertebal portofolionya.
Tidak ketinggalan, jajaran direktur lainnya seperti Santoso membukukan nilai transaksi Rp3,46 miliar dan Lianawaty Suwono memborong 300.000 unit saham senilai Rp2,1 miliar pada akhir Januari lalu.
Sementara itu, Managing Director Frenkie Candra Kusuma dilaporkan telah mengakumulasi saham senilai Rp2,87 miliar sejak periode tahun sebelumnya. Aksi serentak ini mempertegas pandangan bahwa harga saat ini dianggap sebagai peluang investasi yang sangat menarik.
.png)















































