DOSEN Universitas Pendidikan Indonesia atau UPI Bandung, Eka Cahya Prima, 35 tahun, menjadi guru besar termuda ketika prosesi pengukuhan 14 orang profesor di kampusnya pada 7-8 Mei 2026. “Berdasarkan database, saya termasuk profesor termuda bidang fisika di Indonesia,” kata lelaki kelahiran Sumedang pada 26 Juni 1990 itu dalam keterangan pada Kamis, 7 Mei 2026.
Surat keputusan sebagai guru besar diperoleh dari Kementerian Pendidikan Tinggi Riset dan Teknologi pada 1 Desember 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Dalam pidato pengukuhannya yang berjudul, Inovasi Material Sel Surya melalui Pendekatan Teori dan Spektroskopi, Eka memaparkan urgensi pengembangan energi terbarukan di tengah meningkatnya kebutuhan energi global dan ancaman perubahan iklim.
Dia menjelaskan bagaimana riset sel surya generasi ketiga seperti Dye-Sensitized Solar Cell (DSSC), Perovskite, dan kesterite CZTS dapat menjadi solusi energi masa depan yang lebih ramah lingkungan dan terjangkau. “Riset saya juga tentang material energi surya,” ujarnya.
Eka menempuh pendidikan Sarjana di UPI hingga lulus 2011 kemudian melanjutkan studi Magister di Institut Teknologi Bandung sampai tamat 2013. Gelar Doktor diperolehnya dari ITB pada 2017. Di bidang fisika material, Eka termasuk pionir dalam mengintegrasikan metode teoretis Density Functional Theory (DFT) dan spektroskopi untuk merekayasa material energi masa depan.
Kontribusi monumentalnya yaitu pengembangan sel surya CZTS (Kesterite) berbasis material lokal yang berhasil mencapai efisiensi 7,5 persen. Pencapaian itu tergolong signifikan untuk teknologi sel surya film tipis dengan fabrikasi non-vakum.
Selain itu Eka juga mengeksplorasi potensi alam Indonesia melalui inovasi Dye-Sensitized Solar Cells (DSSC) yang memanfaatkan pigmen antosianin dan klorofil, serta rekayasa sel surya Perovskite yang kini menjadi tren teknologi energi global.
Sejauh ini bapak dua orang anak itu telah mempublikasikan lebih dari 70 artikel ilmiah pada jurnal internasional bereputasi dengan h-index Scopus 13 dan GScholar 23. Di kampus, Eka menginisiasi Solar Energy Material Laboratory serta mengembangkan modul STEM-Design Thinking.
Eka pun memiliki puluhan Hak Kekayaan Intelektual berupa media pembelajaran digital serta alat eksperimen sains berbasis teknologi . Ada pun penghargaan yang diraihnya antara lain, Anugerah Dosen Berprestasi pada 2018, Dosen Academic Leader (2023) dan Penghargaan Karya Bakti Satya (2024).
.png)















































