loading...
Ribuan pekerja pabrik mainan di Yulin, Guangxi, China melakukan protes untuk menuntut pembayaran upah yang belum dibayarkan. Foto/Instagram via khan.co.kr
JAKARTA - Krisis secara perlahan melanda pusat-pusat manufaktur utama China pada musim semi 2026, yang ditandai penutupan pabrik, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), serta meningkatnya aksi protes buruh akibat upah yang tidak dibayar.
Kepala Trinco Centre for Strategic Studies (TCSS), A. Jathindra, menilai situasi ini bukan sekadar perlambatan ekonomi biasa.
“Apa yang terjadi pada musim semi 2026 bukanlah koreksi siklus ekonomi biasa. Ini adalah pertemuan berbagai kegagalan struktural yang datang secara bersamaan,” sebut Jathindra dalam keterangan kepada Eurasia Review, Minggu (3/5/2026).
Baca Juga: Ekonomi China Melambat, Generasi Muda Hadapi Pengangguran dan Tekanan Hidup
Menurutnya, salah satu pemicu langsung krisis ini adalah perang Amerika Serikat (AS)-Israel terhadap Iran sejak 28 Februari 2026, yang berujung pada penutupan Selat Hormuz oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran.
Sebelum konflik, China menerima sekitar 5,35 juta barel minyak per hari melalui jalur tersebut. Kini pasokan turun drastis menjadi sekitar 1,22 juta barel per hari.
Penurunan itu memicu lonjakan tajam biaya bahan baku industri. Harga bromin naik dari 22.000 yuan menjadi 53.000 yuan per ton, sementara biaya plastik dan tekstil ikut melonjak.
“Bagi pabrik ekspor yang sudah beroperasi dengan margin keuntungan sangat tipis, ini bukan sekadar hambatan. Ini adalah tembok,” ujarnya.
Sistem Ekonomi yang Tidak Seimbang
Namun Jathindra menegaskan bahwa perang Iran bukan satu-satunya penyebab.
Dia menilai Partai Komunis China (PKC) telah membangun sistem ekonomi selama puluhan tahun yang terlalu bergantung pada investasi tetap, tenaga kerja murah, dan ekspor.
“PKC menghabiskan tiga dekade membangun sistem ekonomi yang sangat tidak seimbang, sehingga kehancurannya hanya soal waktu,” tulisnya.
.png)
















































