MENTERI Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menyampaikan kekerasan kepada anak dapat terjadi di mana saja, termasuk pesantren. Pemerintah berupaya membangun ruang aman dan nyaman.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
"Kekerasan ini harus dicegah. Kita harus membangun ruang yang aman dan nyaman agar anak Indonesia bisa mengembangkan potensinya secara optimal," kata dia saat menghadiri diskusi bersama Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Satuan Tugas Penanggulangan Kekerasan (SAKA) Pesantren PBNU di Yogyakarta, pada Jumat, 17 Juli 2026, dikutip dari keterangan resmi.
Menurut dia, kekerasan bisa menurunkan konsentrasi anak. Pun berdampak secara psikologis dan kognitif. "Ada banyak cara pendisiplinan anak yang tidak mengandung unsur kekerasan” ujar dia.
Salah satu upaya pemerintah dengan mengampanyekan Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman untuk Anak atau Gernas Rana. Dia menyarankan tujuh langkah, yaitu lakukan evaluasi diri terkait keberadaan sistem pelindungan dan pelatihan pengasuh, bentuk tim pelindungan anak, kembangkan kebijakan pelindungan anak, dan bangun sistem pengaduan yang ramah anak.
Langkah lainnya laksanakan pelatihan berkelanjutan, perkuat budaya saling jaga, serta libatkan wali murid dan masyarakat dalam pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap anak.
Dia juga mendorong satuan pendidikan pesantren untuk dapat cepat beradaptasi menghadapi disrupsi teknologi. Pendidikan pesantren harus mampu menjawab tantangan dan peluang baru di masa depan, termasuk menyikapi hilangnya beberapa jenis pekerjaan dan lahirnya peluang kerja baru.
"Kalau tidak, bukan hanya secara ekonomi warga yang tertinggal, tetapi juga identitas kultural dan spiritual bisa tergerus oleh teknologi digital dan kecerdasan buatan,” ujar dia.
.png)

















































