loading...
Kuwait untuk pertama kalinya dalam 35 tahun, melaporkan nol barel ekspor minyak mentah sepanjang bulan April. Foto/Dok
JAKARTA - Kuwait untuk pertama kalinya dalam 35 tahun, melaporkan nol barel ekspor minyak mentah sepanjang bulan April. Kondisi ini menandai titik terendah ekonomi Kuwait sejak Perang Teluk 1991 , memicu kekhawatiran global akan lonjakan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) yang tak terkendali.
Diketahui Kuwait dikenal sebagai salah satu raksasa eksportir minyak dunia dan merupakan sekutu utama Amerika Serikat atau AS yang menampung sekitar 13.500 tentara Amerika. Selain itu, Kuwait juga berfungsi sebagai pusat logistik regional utama.
Baca Juga: Dikepung Blokade AS, Indonesia Dukung Hak Lintas Tanker Iran di Selat Lombok
Kuwait sebelumnya memproduksi sekitar 2,7 juta barel per hari (bph) dan mengekspor sekitar 1,85 juta bph, dengan sebagian besar pengiriman menuju pasar Asia termasuk China, India, dan Korea Selatan.
Titik Nadir di Selat Hormuz
Lumpuhnya ekspor ini bukan tanpa alasan. Selat Hormuz, yang merupakan jalur nadi utama mengalirkan seperlima pasokan minyak dan LNG dunia, kini praktis menjadi jalur mati akibat blokade total. Ketegangan bersenjata antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran telah mengubah jalur dagang paling sibuk di dunia itu menjadi zona perang yang tak bisa dilewati kapal tanker.
Kuwait Petroleum Corporation (KPC) secara resmi telah menyatakan status Force Majeure sejak 17 April lalu. Langkah darurat ini diambil setelah lalu lintas kapal tanker terhenti total, memutus akses Kuwait ke pasar utama mereka di Asia, termasuk China, India, dan Korea Selatan.
Ekonomi di Ambang Kehancuran?
Bagi Kuwait, situasi ini adalah mimpi buruk finansial mengingat minyak menyumbang sekitar 50% dari PDB Kuwait. Fakta pahit yang dihadapi negara Teluk tersebut adalah sekitar 90% pendapatan pemerintah berasal dari ekspor minyak.
.png)
















































