Selular.ID – Bolttech mengungkap adanya kesenjangan yang signifikan antara persepsi dan perilaku masyarakat Indonesia dalam menjaga keamanan digital.
Berdasarkan studi Asia-Pacific Cyber Safety Landscape 2026 yang dirilis pada 2 Juli 2026, sebanyak 94% responden di Indonesia merasa telah memiliki kebiasaan keamanan digital yang baik.
Namun, hanya 44% yang benar-benar menerapkan praktik keamanan siber secara konsisten.
Temuan ini muncul di tengah tingginya ancaman kejahatan siber, di mana 92% responden mengaku pernah menerima atau menghadapi upaya penipuan digital.
Studi yang dilakukan bolttech tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat paparan ancaman siber tertinggi di kawasan Asia Pasifik.
Dari responden yang pernah menghadapi ancaman tersebut, 44% mengaku menjadi korban penipuan, peretasan, atau bentuk kejahatan siber lainnya.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa rasa percaya diri masyarakat terhadap kemampuan mereka melindungi aktivitas digital belum sepenuhnya sejalan dengan praktik keamanan yang dijalankan sehari-hari.
Fenomena tersebut juga menjadi perhatian di tengah meningkatnya penggunaan layanan digital untuk transaksi keuangan, komunikasi, hingga pekerjaan.
David Black, Pendiri dan CEO Blackbox Research, mengatakan penipuan kini telah menjadi hambatan yang sulit dihindari dalam ekonomi digital kawasan Asia Pasifik.
Menurutnya, sebagian besar masyarakat memang menyadari risiko penipuan digital, tetapi langkah perlindungan yang mereka lakukan belum mampu mengimbangi perkembangan metode serangan siber yang semakin kompleks.
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) turut menjadi faktor yang meningkatkan kekhawatiran masyarakat.
Dalam studi yang sama, sebanyak 93% responden Indonesia menyatakan khawatir AI akan mempercepat penyebaran penipuan online.
Teknologi AI dinilai memungkinkan pelaku kejahatan membuat modus penipuan yang lebih personal, meyakinkan, dan semakin sulit dikenali oleh korban.
Ancaman siber yang paling sering dialami masyarakat Indonesia masih berasal dari saluran komunikasi yang digunakan sehari-hari.
Sebanyak 61% responden mengaku pernah menerima penipuan melalui panggilan telepon, disusul SMS mencurigakan sebesar 50% dan aplikasi perpesanan instan sebesar 49%.
Tingginya frekuensi serangan melalui media yang sudah akrab digunakan masyarakat memperbesar peluang korban lengah terhadap upaya penipuan.
Di sisi lain, kesiapan masyarakat dalam merespons ancaman tersebut masih tergolong rendah.
Hanya 37% responden yang mengaku mengetahui langkah yang tepat ketika menghadapi insiden keamanan siber.
Data ini menunjukkan bahwa edukasi mengenai respons terhadap serangan digital masih menjadi tantangan, meskipun tingkat kesadaran terhadap ancaman terus meningkat.
Salah satu praktik yang masih banyak ditemukan adalah penggunaan ulang kata sandi pada beberapa akun sekaligus.
Sebanyak 71% responden Indonesia mengaku masih menggunakan kata sandi yang sama di berbagai layanan digital.
Kebiasaan ini paling banyak ditemukan pada kelompok usia 26 hingga 41 tahun dan dinilai meningkatkan risiko pembobolan akun apabila salah satu layanan mengalami kebocoran data.
Perbandingan dengan negara lain di Asia Pasifik juga menunjukkan karakteristik yang berbeda.
Indonesia, Vietnam, Filipina, dan Thailand tercatat memiliki tingkat paparan penipuan digital yang relatif tinggi.
Sebaliknya, negara seperti Korea Selatan dan Jepang justru menunjukkan tingkat kepercayaan yang lebih rendah terhadap institusi maupun penyedia layanan dalam melindungi data pribadi pengguna.
Dampak kejahatan siber tidak hanya berupa gangguan terhadap aktivitas digital, tetapi juga kerugian finansial.
Dalam riset bolttech, sebanyak 81% korban kejahatan siber di Indonesia mengaku mengalami kerugian keuangan.
Persentase tersebut berada di atas rata-rata Asia Pasifik yang mencapai 67%.
Korban paling banyak berasal dari kelompok usia 34 hingga 41 tahun serta rumah tangga dengan tingkat pendapatan rendah.
Selain kerugian materi, dampak psikologis juga menjadi temuan penting dalam studi tersebut.
Sebanyak 96% responden Indonesia melaporkan mengalami tekanan emosional setelah menghadapi insiden siber, baik serangan tersebut berhasil maupun berhasil digagalkan.
Hal ini menunjukkan bahwa ancaman digital tidak hanya memengaruhi keamanan data, tetapi juga rasa aman pengguna dalam beraktivitas secara online.
Meski demikian, tingkat kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap institusi masih tergolong tinggi. Sebanyak 84% responden percaya bahwa pemerintah, perusahaan teknologi, operator telekomunikasi, dan penyedia layanan mampu melindungi data pribadi mereka.
Bahkan hampir separuh responden menilai keamanan siber merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, industri, lembaga keuangan, operator telekomunikasi, platform digital, dan individu.
Hanya 14% yang berpendapat bahwa perlindungan terhadap ancaman siber sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengguna.
Temuan tersebut juga memperlihatkan meningkatnya kebutuhan terhadap solusi perlindungan siber yang lebih mudah diakses.
Di seluruh kawasan Asia Pasifik, 71% konsumen menyatakan terbuka untuk menggunakan layanan keamanan digital, mulai dari pemantauan ancaman, pemblokiran penipuan, hingga perlindungan terhadap kerugian finansial dan layanan bantuan selama 24 jam.
Andrew Cons, Director Strategic Initiatives bolttech, mengatakan keamanan siber memerlukan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.
Menurutnya, bolttech bekerja sama dengan berbagai perusahaan untuk menghadirkan perlindungan digital yang lebih sederhana dan mudah diakses dalam perjalanan pelanggan sehari-hari.
Langkah tersebut ditujukan agar konsumen di Indonesia dapat memanfaatkan layanan digital dengan rasa aman yang lebih tinggi di tengah meningkatnya ancaman kejahatan siber.
Baca Juga:
.png)









































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5417976/original/049724300_1763555921-InShot_20251119_193350409.jpg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4897279/original/047157000_1721544216-IMG_20240721_131658.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5746528/original/013133300_1778645752-foto_media__78__2.jpg)

