Rupiah Anjlok, Prabowo: Rakyat di Desa Enggak Pakai Dolar AS

18 hours ago 12

PRESIDEN Prabowo Subianto tidak khawatir dengan melemahnya nilai mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Prabowo menilai turunnya nilai tukar rupiah tidak langsung berdampak bagi masyarakat desa.

Ketua Umum Partai Gerindra itu menilai saat ini banyak orang yang sering menyatakan ekonomi Indonesia dalam bahaya karena rupiah terus melemah. "Sekarang ada yang selalu, entah mengapa saya enggak mengerti, sebentar-sebentar bilang Indonesia akan collapse, akan chaos, atau akan apa. Ya, kan?" kata dia di Nganjuk, Jawa Timur, pada Sabtu, 16 Mei 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Prabowo meminta masyarakat tidak terlalu khawatir dengan pergerakan rupiah terhadap dolar AS. Mantan Menteri Pertahanan ini menyebutkan kondisi Indonesia masih aman dibanding negara-negara lain, khususnya di sektor pangan dan energi.

Prabowo pun menanggapi santai kondisi tersebut karena masyarakat desa tidak menggunakan mata uang asing dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, ia tak khawatir dengan peringatan orang-orang soal rupiah yang melemah. "Rupiah begini, dolar begitu. Orang rakyat di desa enggak pakai dolar, kok. Iya kan?" ucapnya.

Pada perdagangan Jumat pagi, 15 Mei 2026, rupiah melemah hingga ke level 17.600 per dolar AS. Angka ini adalah yang tertinggi sejak krisis moneter Asia pada 1997-1998.

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memprediksi nilai tukar rupiah menembus level 18 ribu per dolar AS pada Mei 2026. “Kalau seandainya tembus Rp 18 ribu pada Mei ini, ada kemungkinan besar rupiah menembus level 22 ribu per dolar AS,” ujarnya dalam keterangannya pada Jumat, 15 Mei 2026.

Ibrahim menilai, dua hari terakhir, yaitu Kamis-Jumat, 14-15 Mei 2026, merupakan ujian bagi Indonesia. Sebab, saat perdagangan libur karena tanggal merah, tensi geopolitik di Timur Tengah terus memanas.

Sementara itu, kata Ibrahim, Bank Indonesia hanya bisa melakukan intervensi di pasar internasional selama periode libur. Karena itu, dampak tekanan eksternal terhadap rupiah menjadi lebih besar. Namun ia menilai kondisinya bisa saja berbeda saat perdagangan dibuka pada Senin, 18 Mei 2026.

Dari segi eksternal, Ibrahim menyebutkan menguatnya dolar AS dipengaruhi oleh arah kebijakan bank sentral Amerika, The Federal Reserve (The Fed). The Fed diperkirakan tidak menurunkan suku bunga sepanjang 2026 karena kenaikan inflasi AS yang cukup signifikan.

Sementara itu, dari segi internal, Ibrahim menyoroti besarnya tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Sebab, pelemahan rupiah berdampak melonjaknya belanja subsidi minyak.


Anastasya Lavenia Yudi berkontribusi dalam penulisan artikel ini
Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online