loading...
Pada 2026, Indonesia menghadapi jatuh tempo utang Rp833,96 triliun hingga menambahkan beban nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) yang makin ambles hingga Rp17.181. Foto/Dok
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) kembali ditutup melemah pada perdagangan Rabu (22/4/2026) ke level Rp17.181 per dolar AS. Mata uang Garuda sempat melemah hingga 45 poin dibandingkan penutupan sebelumnya Rp17.142 per dolar AS.
Pelemahan kurs rupiah juga terlihat pada data JISDOR BI, dimana hari ini bertengger pada level Rp17.179/USD. Posisi rupiah makin terpuruk dari sesi kemarin di level Rp17.142 per dolar AS.
Direktur PT Traze Andalan Futures sekaligus pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assu’aibi mengatakan tekanan terhadap mata uang Garuda terutama berasal dari meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik geopolitik yang melibatkan AS, Iran, dan sekutunya.
Baca Juga: Utang Jatuh Tempo Indonesia Rp800 Triliun, DPR Desak Menkeu Purbaya Susun Strategi
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan akan memperpanjang gencatan senjata dengan Iran guna membuka ruang negosiasi lanjutan. Namun langkah tersebut belum mendapat respons jelas dari pihak Iran, bahkan memicu ketegangan baru menyusul rencana AS mempertahankan blokade pelabuhan dan pantai Iran.
Situasi ini berdampak langsung pada terganggunya jalur distribusi energi global. Lalu lintas di Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia, dilaporkan mengalami perlambatan signifikan. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap lonjakan harga energi dan memperkuat posisi dolar AS sebagai aset safe haven.
Ibrahim menambahkan, dari faktor domestik tekanan terhadap rupiah juga datang dari tantangan fiskal pemerintah. Pada 2026, Indonesia menghadapi jatuh tempo utang yang mencapai Rp833,96 triliun, tertinggi dalam satu dekade terakhir.
.png)
















































