Jakarta (ANTARA) – Indonesia menjadi tingkat adopsi AI tertinggi di dunia dengan 92 persen pekerja berpengetahuan sudah menggunakan AI generatif dalam pekerjaan sehari-hari, dan diproyeksikan kekurangan tiga juta talenta digital pada tahun 2030. Keduanya bukan kontradiksi, melainkan dua sisi dari ketegangan yang sama.
Indonesia sangat cepat mengadopsi teknologi, tetapi masih membutuhkan banyak orang yang bisa merancang, mengembangkan, dan mengelola teknologi tersebut dari dalam. Ekonomi digital Indonesia diproyeksikan berkontribusi lebih dari USD 130 miliar terhadap PDB pada 2025, sebuah pertumbuhan yang membutuhkan fondasi talenta yang tidak hanya diandalkan dari adopsi alat semata.
Kekurangan ini bukan soal jumlah lulusan yang tidak cukup, melainkan soal jenis kompetensi yang dibutuhkan industri yang terus bergerak melampaui kurikulum konvensional. Laporan Future of Jobs 2025 dari World Economic Forum menempatkan literasi AI dan big data serta keamanan siber sebagai bidang dengan pertumbuhan permintaan tercepat dalam lima tahun ke depan.
Sebanyak 30 persen perusahaan di Indonesia melaporkan kesulitan menemukan talenta berkualitas tinggi meskipun tidak pernah kekurangan pelamar. Industri bukan lagi mencari coder dengan kemampuan dasar, melainkan individu yang bisa membangun sistem AI, merancang arsitektur cloud, mengamankan infrastruktur digital, dan menerjemahkan semua itu ke dalam konteks bisnis yang kompleks.
Merespons hal ini, School of Computer Science BINUS University melakukan pendekatan yang menempatkan mahasiswa berhadapan langsung dengan kompleksitas tersebut sejak awal masa studi. Konsentrasi seperti AI-Driven Development dan keamanan siber dirancang bersama lebih dari 2.200 mitra industri aktif untuk memastikan relevansi kurikulum terus diperbarui seiring perubahan kebutuhan pasar.
Prof. Dr. Ir. Derwin Suhartono, S.Kom., MTI - Dean School of Computer Science BINUS University menjelaskan bahwa mahasiswa tidak hanya belajar tentang teknologi, tetapi juga dibiasakan bekerja seperti engineer dengan mengidentifikasi masalah tanpa solusi buku teks, memilih pendekatan dari berbagai kemungkinan, dan mempertanggungjawabkan keputusan teknis dalam konteks bisnis.
“Kami tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis. Kami ingin membentuk talenta yang mampu memimpin transformasi digital dan menciptakan inovasi,” ujar Derwin.
Dalam QS World University Rankings by Subject 2026 bidang Computer Science and Information Systems, School of Computer Science BINUS University meraih posisi kedua terbaik di Indonesia secara keseluruhan. Pemeringkatan ini mencakup berbagai indikator, seperti Research and Discovery, Global Engagement, serta Employability.
Pencapaian ini bukan hanya cerminan kualitas akademis lokal, melainkan pengakuan menyeluruh dari komunitas industri teknologi global bahwa lulusan School of Computer Science BINUS memenuhi standar kompetensi yang dibutuhkan di pasar kerja digital.
Rekam jejak tersebut dibangun dari pengalaman yang menempatkan mahasiswa dalam standar dunia nyata sejak masa studi. Mahasiswa School of Computer Science BINUS belajar mengimplementasikan AI secara praktis dalam kurikulum, didukung oleh akses ke layanan berbasis AI yang terintegrasi dalam ekosistem kampus.
Kolaborasi dengan Apple dan Microsoft juga dilakukan guna memastikan mereka bersentuhan langsung dengan standar industri teknologi global. Sementara keterlibatan dalam hackathon, kompetisi ICPC, dan innovation challenge mengukur kemampuan mereka di bawah tekanan kompetisi internasional.
Posisi kedua terbaik di Indonesia versi QS 2026 memberikan jawaban yang tidak hanya bersandar pada klaim institusi, melainkan pada penilaian objektif mencakup reputasi akademik, kepercayaan industri, dan kekuatan riset secara bersamaan. Dikombinasikan dengan data yang konsisten, 80,1 persen lulusan sarjana BINUS sudah bekerja pada saat kelulusan dan 36,2 persen terserap di perusahaan global.
“Industri tidak punya waktu untuk mendidik ulang lulusan baru. Yang kami pastikan adalah bahwa mahasiswa kami sudah pernah menghadapi kompleksitas itu selama kuliah, sebelum hari pertama mereka bekerja,” terang Derwin.
Alumni School of Computer Science BINUS kini berkarier sebagai software engineer, AI engineer, data scientist, cybersecurity specialist, dan product manager di perusahaan teknologi nasional maupun multinasional.
Celah tiga juta talenta digital pada 2030 adalah tantangan yang membutuhkan institusi pendidikan yang mampu menghasilkan lulusan dengan kedalaman kompetensi yang tepat dan rekam jejak terverifikasi.
Pewarta: PR Wire
Editor: PR Wire
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
.png)

















































