Teknologi Untuk Meredam Gelombang Panas yang Renggut Lebih dari 1.300 Nyawa

15 hours ago 15

Selular.ID – Di tengah gelombang panas yang semakin parah dan berkepanjangan di Eropa, banyak negara meningkatkan penelitian dan penerapan solusi teknologi untuk mengurangi panas perkotaan.

Teknologi itu mulai dari material pemantul panas dan atap penghasil energi terbarukan hingga sistem pendingin geotermal.

Solusi-solusi ini dipandang sebagai kunci untuk membantu kota-kota beradaptasi dengan perubahan iklim dan mengurangi ketergantungan mereka pada pendingin ruangan.

Mengutip VN, di Roma, Kementerian Kesehatan Italia telah mengeluarkan peringatan merah untuk 17 kota besar, termasuk Roma, Milan, Florence, dan Bologna, karena kenaikan suhu yang menimbulkan risiko serius bagi kesehatan masyarakat.

Baca juga:

Menurut para ahli, situasi ini menyoroti kebutuhan mendesak untuk beralih dari langkah-langkah respons jangka pendek ke strategi adaptasi jangka panjang untuk lingkungan perkotaan.

Salah satu bidang yang menjadi fokus utama para ilmuwan adalah peningkatan kemampuan bangunan untuk memantulkan radiasi matahari.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

Profesor Federico Rossi, seorang ahli fisika teknik lingkungan di Universitas Perugia (Italia), mengatakan bahwa penggunaan cat ultra-putih dengan daya pantul cahaya tinggi dan kemampuan emisi panas inframerah dapat secara signifikan mengurangi suhu permukaan bangunan.

Teknologi ini memungkinkan sebagian energi matahari dilepaskan kembali ke atmosfer alih-alih diserap oleh bangunan, sehingga mengurangi kebutuhan akan pendingin ruangan dan berkontribusi pada pengurangan emisi gas rumah kaca.

Solusi ini merupakan bagian dari model “Bangunan Hampir Nol Energi” – sebuah bangunan dengan konsumsi energi mendekati nol.

Selain material insulasi canggih, bangunan ini juga menggabungkan sistem geotermal untuk memanfaatkan suhu stabil dari dalam tanah, sehingga udara sejuk masuk ke dalam tanpa mengonsumsi banyak energi.

Adapun pusat-pusat bersejarah di Eropa, di mana peraturan pelestarian arsitektur membatasi pemasangan peralatan modern pada fasad atau atap, berbagai penelitian juga telah mengembangkan solusi yang sesuai.

Pendingin Udara

Di Italia, para ilmuwan sedang menguji sistem pendingin bawah tanah sirkuit tertutup untuk menggantikan unit kondensor pendingin udara tradisional.

Teknologi ini memungkinkan pertukaran panas langsung dengan tanah, tidak berisik, dan tidak memengaruhi lanskap warisan budaya.

Selain itu, genteng fotovoltaik, yang menyerupai genteng terakota tradisional, digunakan di banyak kawasan konservasi.

Meskipun kurang efisien dibandingkan panel surya konvensional, material ini tetap memungkinkan bangunan bersejarah untuk menghasilkan listrik bersih tanpa mengubah tampilan arsitekturnya.

Lebih dari 1.300 Orang Tewas

Tantangan lain yang dihadapi kota-kota Eropa saat ini adalah fenomena “pulau panas perkotaan,” khususnya di jalan-jalan sempit dengan kepadatan bangunan yang tinggi.

Untuk mengatasi masalah ini, para ilmuwan telah mengembangkan material pemantul terbalik yang mampu memantulkan radiasi matahari kembali ke langit alih-alih meneruskannya ke bangunan di sekitarnya.

Simulasi menunjukkan bahwa teknologi ini dapat membantu mengurangi suhu lingkungan perkotaan sebesar 2 hingga 3 derajat Celcius.

Selain itu, banyak penelitian juga berfokus pada peningkatan material pengerasan jalan dan aspal.

Pigmen baru sedang dikembangkan untuk membatasi penyerapan panas di siang hari dan meningkatkan pelepasan panas di malam hari, sehingga membantu mengurangi penumpukan panas di kota-kota.

Faktanya, sebagian besar teknologi pendinginan perkotaan saat ini tidak memerlukan biaya yang berlebihan karena dikembangkan menggunakan bahan dan produk yang mudah tersedia di pasaran.

Selular rangkum dari WHO, gelombang panas yang terjadi di Eropa membuat lebih dari 1.300 orang kehilangan nyawa sejak tanggal 21 Juni 2026.

Gelombang panas yang mencapai lebih dari 40 derajad celcius ini, terjadi di sejumlah negara Eropa seperti Prancis, Jerman hingga Ceko.

Selain merenggut nyawa, terlihat sejumlah bangunan mengalami kerusakan karena material yang meleleh.

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online