Jakarta -
Kebiasaan titip doa kepada kerabat yang berangkat haji sudah lama dikenal di kalangan umat muslim di Indonesia. Tradisi ini kerap dilakukan dengan harapan-harapan tersebut dapat dipanjatkan di tempat yang dianggap mustajab.
Tak mengherankan lagi, momen keberangkatan ke Tanah Suci sering dimanfaatkan untuk menyampaikan berbagai permohonan, Bunda.
Meski terdengar sederhana, kebiasaan itu ternyata memiliki landasan yang perlu dipahami lebih dalam. Mulai dari pandangan hukum dalam Islam, jejak sejarah, hingga adab yang perlu Bunda ketahui.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hukum titip doa kepada orang yang naik haji dalam Islam
Dilansir dari laman detikcom, Buya Yahya mengungkap bahwa secara hukum, asal meminta atau menitipkan doa kepada orang yang melaksanakan ibadah haji dan umrah adalah diperbolehkan.
Meski begitu, Buya Yahya mengingatkan bahwa jika satu orang menitipkan daftar doa yang panjang, bayangkan jika ada seribu orang yang melakukan hal sama. Hal ini tentu dapat membebani konsentrasi dan waktu ibadah jemaah tersebut.
Tradisi titip doa sudah ada sejak zaman nabi
Dalam buku 200 Motivasi Nabi & Kisah Inspiratif Pembangunan Jiwa karya As-Samarqandi, tradisi titip doa ternyata sudah ada sejak zaman Nabi, di mana pada saat Umar bin Khattab berpamitan kepada Rasulullah SAW untuk melaksanakan umrah.
Saat itu, Rasulullah meminta agar didoakan dan dilibatkan dalam setiap doa yang dipanjatkan oleh Umar.
عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَن عَمَرَ أَنَّهُ اسْتَأْذَنَ النبي صلى الله عليه وسلم في العُمْرَةِ فَقَالَ يَا أَخِي أَشْرِكْنَا فِي دُعَائِكَ وَلَا تَنْسَنَا
Artinya:
“Dari Ibnu Umar dari Umar, sesungguhnya Umar minta izin kepada Nabi melakukan umrah, maka Nabi bersabda, 'Wahai saudaraku sertakan kami dalam doamu dan jangan lupa mendoakan kami'.” (HR Tirmidzi)
Sementara itu, tradisi titip doa kepada orang yang pergi haji sudah ada sejak masa Rasulullah SAW di tempat yang bernama Tsaniyatul Wada’, tempat yang juga menjadi lokasi para sahabat menunggu Rasulullah sepulang dari perperangan.
Dalam kitab Syarh Shahih Al-Bukhari karya Imam Ibnu Bathal, dijelaskan secara khusus, bahwa Tsaniyatul Wada’ menjadi tempat para sahabat mengantarkan jemaah haji.
انما سميت بذلك لأنهم كانوا يشيعون الحاج والغزاة اليها ويودعونهم عندها
Artinya:
“Dinamakan Tsaniyatul Wada' karena para sahabat mengantarkan orang yang berhaji dan berperang dan menitipkan kepada mereka (doa).”
Adab cara titip doa ke orang tua yang naik haji
Buya Yahya pernah menjelaskan bahwa meskipun menitipkan doa kepada orang tua yang akan berangkat haji diperbolehkan, tetap ada adab yang perlu diperhatikan. Salah satunya tidak memberatkan orang tua.
“Minta doa boleh, tapi jangan repotkan, doanya satu gembok begitu, tidak kebaca nanti bingung. Serahkan suruh doain gitu saja. Kalau suruh baca (kertas), tidak harus seperti itu, ngerepoti itu,” ungkapnya.
Selain itu, ia juga mengingatkan untuk tidak meminta oleh-oleh atau menitipkan barang kepada jemaah haji.
Hal ini dinilai dapat merepotkan, terutama karena ada keterbatasan bagasi. Permintaan yang terlihat sepele ini juga bisa menjadi beban jika dilakukan oleh banyak orang.
Alih-alih membebani para jemaah, Buya Yahya justru menyarankan untuk memberikan dukungan kepada mereka dengan membantu atau memberikan bekal.
Nah, itulah adab cara titip doa kepada orang tua yang naik haji. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.
Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!
(asa/som)
.png)
12 hours ago
8
















































