Amankah mencampurkan Pertamax dan Pertalite untuk kendaraan?

7 hours ago 4

Jakarta (ANTARA) - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) kerap membuat sebagian pemilik kendaraan mencari cara untuk menghemat biaya operasional. Salah satu cara yang cukup sering dilakukan adalah mencampurkan dua jenis BBM dengan nilai oktan berbeda, seperti Pertamax dan Pertalite, dengan harapan tetap mendapatkan performa yang baik namun dengan biaya yang lebih rendah.

Lantas, apakah mencampurkan Pertamax dan Pertalite aman untuk kendaraan?

Secara umum, mencampurkan Pertamax dan Pertalite memang memungkinkan karena kedua bahan bakar tersebut sama-sama merupakan bensin yang diproduksi untuk kendaraan bermotor. Namun, para ahli otomotif dan teknik mesin tidak menyarankan kebiasaan tersebut dilakukan secara terus-menerus karena dapat memengaruhi performa mesin serta mengurangi manfaat yang dimiliki masing-masing jenis bahan bakar.

Melansir dari wahanahonda, Pertalite merupakan BBM dengan Research Octane Number (RON) 90 yang telah dilengkapi zat aditif. Sementara itu, Pertamax memiliki angka oktan lebih tinggi, yakni RON 92, dan direkomendasikan untuk kendaraan dengan rasio kompresi sekitar 9,1:1 hingga 10,1:1, terutama mesin yang telah menggunakan teknologi injeksi.

Angka oktan yang lebih tinggi membuat Pertamax memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap tekanan kompresi mesin. Dengan demikian, proses pembakaran dapat berlangsung lebih optimal sehingga tenaga yang dihasilkan lebih baik dan risiko terjadinya knocking atau gejala ngelitik menjadi lebih kecil.

Selain memiliki nilai oktan yang lebih tinggi, Pertamax juga mengandung zat aditif, seperti EcoSave, yang berfungsi membantu menjaga kebersihan ruang bakar dan mencegah terbentuknya kerak pada komponen mesin. Kehadiran aditif tersebut menjadi salah satu keunggulan Pertamax dibandingkan bahan bakar dengan nilai oktan yang lebih rendah.

Meski demikian, ketika Pertamax dicampurkan dengan Pertalite, manfaat tersebut tidak lagi bekerja secara optimal. Campuran kedua bahan bakar akan menghasilkan nilai oktan di antara keduanya, namun efektivitas zat aditif pada Pertamax dapat berkurang sehingga kemampuan menjaga kebersihan mesin tidak maksimal.

Baca juga: Proyek E10 berpotensi kurangi impor BBM melalui energi terbarukan

Selain mengurangi manfaat aditif, pencampuran BBM dengan nilai oktan berbeda juga dapat memengaruhi proses pembakaran di dalam ruang mesin. Pembakaran menjadi tidak seoptimal ketika mesin menggunakan bahan bakar yang sesuai dengan rekomendasi pabrikan. Dalam penggunaan jangka panjang, kondisi ini berpotensi memicu knocking atau bunyi ngelitik akibat pembakaran yang terjadi tidak pada waktu yang semestinya.

Dampak lain yang dapat muncul adalah penumpukan kerak di ruang bakar. Bahan bakar dengan oktan lebih rendah cenderung menghasilkan residu karbon lebih cepat dibandingkan bahan bakar beroktan lebih tinggi. Jika pencampuran dilakukan berulang kali, kerak karbon dapat semakin banyak menempel pada ruang bakar, piston, maupun komponen lainnya.

Penumpukan kerak tersebut dapat memicu berbagai masalah pada mesin. Salah satunya adalah kebocoran kompresi akibat terganggunya kerja piston dan ring piston. Ketika kompresi mesin menurun, performa kendaraan ikut berkurang dan efisiensi bahan bakar menjadi tidak optimal.

Kerak yang terus menumpuk juga dapat menyebabkan detonasi prematur, yaitu pembakaran yang terjadi sebelum busi memercikkan api. Kondisi ini membuat mesin bekerja lebih berat, tenaga berkurang, serta berpotensi mempercepat kerusakan komponen internal mesin.

Dalam kondisi yang lebih parah, kerak yang menempel pada ring piston dapat menggores dinding silinder mesin. Kerusakan tersebut tidak hanya menurunkan performa kendaraan, tetapi juga meningkatkan konsumsi bahan bakar dan biaya perawatan karena komponen mesin memerlukan perbaikan.

Pada kendaraan modern, penggunaan bahan bakar dengan oktan berbeda juga berkaitan dengan sistem elektronik kendaraan. Mesin saat ini telah dilengkapi Engine Control Unit (ECU) dan sensor knocking yang berfungsi mengatur waktu pembakaran sesuai karakteristik bahan bakar yang digunakan.

Baca juga: Bahlil: BBM nonsubsidi berpeluang turun jika tren harga minyak melemah

Ketika Pertalite dan Pertamax dicampurkan, ECU tetap berusaha menyesuaikan pengaturan pembakaran berdasarkan kualitas bahan bakar yang terbaca oleh sensor. Jika pencampuran dilakukan secara konsisten dengan komposisi yang sama, sistem elektronik umumnya masih mampu melakukan penyesuaian untuk mengurangi dampak negatif terhadap mesin.

Namun, apabila pengemudi sering berganti-ganti komposisi bahan bakar tanpa pola yang tetap, ECU dan sensor knocking akan lebih sulit menentukan pengaturan pembakaran yang paling sesuai. Akibatnya, efisiensi mesin dapat menurun dan performa kendaraan menjadi kurang optimal.

Selain itu, beberapa kendaraan keluaran terbaru memiliki sensor yang lebih sensitif terhadap kualitas bahan bakar. Pada kondisi tertentu, sistem dapat mendeteksi karakteristik bahan bakar yang tidak sesuai dengan rekomendasi sehingga indikator peringatan pada panel instrumen berpotensi menyala.

Oleh karena itu, pemilik kendaraan sebaiknya mengikuti rekomendasi jenis bahan bakar yang tercantum dalam buku manual kendaraan atau yang ditentukan oleh pabrikan. Penggunaan BBM dengan angka oktan yang sesuai akan membantu menjaga performa mesin, meningkatkan efisiensi pembakaran, sekaligus memperpanjang usia komponen mesin.

Apabila ingin beralih dari Pertalite ke Pertamax atau sebaliknya, langkah yang lebih disarankan adalah menghabiskan isi tangki terlebih dahulu sebelum mengisi dengan jenis bahan bakar yang baru. Cara tersebut membantu menjaga konsistensi kualitas bahan bakar yang digunakan sehingga sistem pembakaran dan ECU dapat bekerja sesuai dengan pengaturan yang dirancang oleh pabrikan.

Dengan demikian, mencampurkan Pertamax dan Pertalite memang tidak serta-merta menyebabkan kerusakan mesin dalam waktu singkat. Namun, kebiasaan tersebut tidak dianjurkan apabila dilakukan secara terus-menerus karena dapat mengurangi manfaat aditif, menurunkan efisiensi pembakaran, meningkatkan risiko penumpukan kerak, hingga berpotensi memengaruhi performa serta keawetan mesin dalam jangka panjang. Menggunakan bahan bakar sesuai spesifikasi kendaraan tetap menjadi pilihan terbaik untuk menjaga kinerja dan umur mesin, demikian merangkum dari sejumlah sumber.

Baca juga: Bahlil nilai harga hidrogen bisa lebih kompetitif akibat geopolitik

Baca juga: Pertamina jelaskan "fraud" sopir sebabkan antrean panjang BBM di Sumut

Pewarta:
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online