Dad Allies, Tren Baru Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak yang Curi Perhatian Dunia

8 hours ago 4

Jakarta -

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan, peran Ayah dalam keluarga mulai terlihat lebih dari sebagai pencari nafkah. Banyak orang kini memperhatikan cara Ayah mendampingi anaknya sehari-hari.

Tak hanya soal memberi materi, kehadiran Ayah kini kerap terasa dalam momen-momen yang kecil. Senyum anak yang diterima saat bermain bersama menjadi bukti betapa berharganya waktu yang dihabiskan.

Perubahan ini tentu membuat banyak orang berpikir, bahwa apa yang membuat Ayah kini begitu berbeda dari generasi sebelumnya? Bahkan, media internasional pun mulai menyoroti fenomena ini.

Di berbagai negara, perhatian terhadap Ayah yang aktif terlihat terus tumbuh. Fenomena ini menunjukkan, bahwa peran laki-laki dalam keluarga kini lebih dihargai dari sebelumnya.

Dad allies menjadi tren baru Ayah aktif dalam pengasuhan

Tren dad allies adalah gerakan di mana Ayah semakin terlibat aktif dalam pengasuhan anak. Mereka saling mendukung satu sama lain untuk berbagi tugas rumah tangga dan waktu bersama anak.

Fenomena ini muncul karena banyak Ayah menyadari pentingnya kehadiran mereka dalam perkembangan emosional dan sosial anak. Peran mereka kini tak sekadar mengantar atau menjemput, tapi juga ikut membimbing, bermain, dan belajar bersama anak.

Di beberapa negara, Ayah yang ikut berbagi pengasuhan semakin dihargai dan mendapat dukungan melalui kebijakan cuti ayah yang lebih panjang. Namun di Inggris, misalnya, cuti resmi Ayah hanya dua minggu, membuat banyak Ayah sulit memanfaatkan kesempatan untuk benar-benar terlibat.

Kampanye The Dad Shift berupaya mengubah situasi ini. Mereka mendorong pemerintah memperpanjang cuti Ayah dan meningkatkan besaran pembayaran resmi.

"Cuti Ayah yang ada "buruk bagi semua anggota keluarga. Ini menjadi salah satu penyebab utama motherhood penalty dan merampas waktu Ayah yang mereka butuhkan untuk menjalin ikatan dengan anak serta belajar menjadi pengasuh aktif," kata salah satu pendiri The Dad Shift, Alex Lloyd Hunter, dikutip dari Financial Times.

Kelompok ini juga mendapat dukungan dari Fatherhood Institute dan Parenting Out Loud, yang mendorong peran Ayah di rumah dan di tempat kerja.

"Bagi anak-anak, ada banyak bukti, bahwa memiliki hubungan lebih dekat dengan Ayah, atau Ayah yang lebih terlibat dalam pengasuhan, membuat mereka lebih bahagia, berprestasi lebih baik di sekolah, dan memiliki perkembangan kognitif yang lebih baik," kata Lloyd Hunter.

Dad Allies dorong kesetaraan dan kesejahteraan para Bunda

Bagi perempuan, memiliki "dad allies" yang aktif sangat membantu. Data dari Organization for Economic Co-operation and Development (OECD), negara dengan cuti Ayah berbayar lebih dari enam minggu punya kesenjangan upah antara laki-laki dan perempuan empat poin lebih kecil, dilansir dari The Centre for Progressive Policy.

"Ekspektasi yang dibebankan pada Bunda di masyarakat modern saat ini jelas tidak realistis," kata pendiri Pregnant Then Screwed, Joeli Brearley.

Hal ini menegaskan pentingnya dukungan Ayah agar Bunda tidak terbebani secara berlebihan dalam pengasuhan anak.

"Di negara-negara yang berhasil menciptakan perubahan budaya sehingga ayah lebih banyak terlibat dalam pengasuhan, ibu melaporkan tingkat stres jauh lebih rendah. Mereka juga cenderung memperoleh penghasilan lebih tinggi, sehingga memiliki kemandirian finansial lebih besar," tambah Brearley.

Ayah yang terlibat aktif tidak hanya bermanfaat bagi anak. Kehadiran mereka juga berdampak langsung positif bagi kesejahteraan Bunda.

Cuti ayah di Inggris dan perannya dalam pengasuhan

Ayah di Inggris setiap minggunya menerima Rp3,56 juta atau 90 persen dari rata-rata penghasilan mereka untuk cuti yang dipilih. Meski begitu, banyak Ayah yang jarang memanfaatkan cuti ini.

Inggris memperkenalkan cuti orang tua bersama pada 2015, tapi hanya lima persen Ayah yang memanfaatkannya. Hambatan utamanya adalah masalah keuangan yang membuat banyak Ayah kesulitan mengambil cuti.

Di berbagai negara, kebijakan cuti Ayah jauh lebih menguntungkan. Di Swedia, setiap orang tua mendapat setidaknya 90 hari dari kebijakan cuti bersama 480 hari, sementara di Norwegia Ayah berhak cuti minimal 15 minggu dengan bayaran 100 persen dari gaji mereka.

Menurut seorang Ayah dari dua anak, Pete Nottage, mengaku tidak berniat menjadi pengasuh utama. Namun karena istrinya, Natasha Irons, adalah anggota parlemen Inggris, ia memilih untuk mengambil lebih banyak tanggung jawab di rumah.

"Jika satu orang [dalam pasangan orang tua] membutuhkan dukungan ekstra, orang lain harus melangkah dan melakukan yang mereka bisa," kata Nottage.

"Saya tidak berpikir ini soal saya melakukan 'hal yang benar', ini hanya bahwa dalam keluarga, kamu terus melanjutkan," tambahnya.

Demikian, Bunda, informasi terkait tren dad allies. Pada intinya, tren ini menandai perubahan peran Ayah menjadi lebih aktif dalam pengasuhan anak. Kehadiran Ayah juga terbukti dalam memperkuat ikatan keluarga.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/rap)

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online