Jakarta (ANTARA) - PT Kereta Api Indonesia (Persero) mulai memetakan kapabilitas yang tersebar di lingkungan KAI Group sebagai basis pengembangan solusi perkeretaapian terpadu bagi operator, pemerintah daerah, kawasan industri, dan perusahaan transportasi. Arah tersebut memperoleh momentum melalui dimulainya proses integrasi strategis KAI dan PT Industri Kereta Api (Persero).
Proses integrasi diawali melalui kegiatan Kick-Off Integrasi KAI dan INKA di Ballroom Jakarta Railway Center, Jakarta, Selasa (21/7/2026). Kegiatan tersebut dihadiri jajaran Danantara Asset Management, direksi KAI dan INKA, tim Project Management Office atau PMO, konsultan, serta jajaran pimpinan kedua perusahaan.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, proses integrasi membuka ruang untuk menghubungkan pengalaman KAI Group dalam mengelola operasi dan pelayanan dengan kemampuan INKA dalam desain, rekayasa, produksi, serta pengembangan sarana kereta api.
“Proses ini masih berada pada tahap awal dan dijalankan secara bertahap melalui kajian, tata kelola, serta pemetaan kompetensi kedua perusahaan. Keselamatan, keandalan, kualitas produk, dan kebutuhan pelanggan tetap menjadi acuan utama,” ujar Anne.
Pengalaman operasional KAI Group terbentuk dari skala layanan yang luas. Sepanjang Semester I 2026, KAI Group melayani 258.993.359 pelanggan, meningkat 7,55 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebanyak 240.805.920 pelanggan. Pada periode tersebut, layanan barang KAI mencapai 32.498.043 ton.
Operasional tersebut ditopang oleh 627 stasiun dan jaringan aktif sepanjang 7.765 kilometer spoor di Jawa dan Sumatra. KAI juga mengelola 12.856 sarana per Juni 2026, terdiri atas 551 lokomotif, 1.064 Kereta Rel Listrik atau KRL, 2.238 kereta, 8.907 gerbong, serta 96 Kereta Rel Diesel Elektrik dan Kereta Rel Diesel Indonesia.
Menurut Anne, skala tersebut membentuk pengetahuan operasional yang mencakup perencanaan perjalanan, perawatan sarana, pengelolaan suku cadang, pengendalian keselamatan, pengembangan kompetensi pekerja, pelayanan pelanggan, hingga pemanfaatan sistem digital.
“Setiap jenis sarana memiliki teknologi, karakter operasi, kebutuhan perawatan, dan siklus penggunaan yang berbeda. Pengalaman mengelola berbagai sarana tersebut menjadi modal pengetahuan yang dapat disusun menjadi kapabilitas perkeretaapian yang lebih terpadu,” kata Anne.
Kegiatan usaha KAI Group saat ini didukung oleh enam anak perusahaan dan sejumlah entitas asosiasi. Masing-masing perusahaan memiliki kompetensi yang dapat saling melengkapi dalam satu rantai pelayanan perkeretaapian.
KAI Bandara, misalnya, mengembangkan layanan Maintenance, Operation, Spare Parts and Services atau MOSS. Ruang lingkupnya mencakup pemeliharaan sarana, operasi, penyediaan suku cadang, pelatihan, sistem persinyalan, serta sistem tiket berbasis Airport Railway Ticketing System atau ARTS.
Pada bidang prasarana, KAI Properti memiliki lini usaha konstruksi, perdagangan, serta perawatan jalan rel dan jembatan. KAI Services mengelola pelayanan di atas kereta, keamanan, parkir, kebersihan, penyediaan tenaga kerja, restoran, katering, dan pengelolaan fasilitas.
KAI Logistik menyediakan distribusi multimoda berbasis kereta api yang didukung layanan dari lokasi asal hingga tujuan. KAI Commuter memiliki pengalaman dalam operasi layanan perkotaan dan regional, sedangkan KAI Wisata mengembangkan layanan perjalanan berbasis kereta api, kegiatan MICE, serta pengelolaan destinasi heritage.
Anne menjelaskan, kapabilitas tersebut masih berada pada berbagai badan usaha sesuai bidang masing-masing. Pemetaan diperlukan untuk menyusun standar layanan, ruang lingkup pekerjaan, kompetensi, sumber daya, aspek hukum, pengendalian risiko, dan model kerja sama sebelum dikembangkan sebagai layanan antarbadan usaha atau business-to-business.
“Pengembangannya perlu dilakukan dengan hati-hati. Setiap layanan harus memiliki standar yang jelas, kompetensi yang memadai, pembagian tanggung jawab yang terukur, serta tata kelola yang sesuai dengan ketentuan,” ujar Anne.
Proses integrasi dengan INKA memberi ruang untuk melengkapi kapabilitas tersebut melalui unsur manufaktur. Pengetahuan dari kegiatan operasional dapat menjadi masukan bagi proses desain, penentuan spesifikasi, kesiapan kapasitas produksi, pengujian, serah terima, pemeliharaan, serta ketersediaan suku cadang.
Dalam kegiatan kick-off, KAI menyampaikan proyeksi awal kebutuhan KRL hingga 2040 mencapai sekitar 156 rangkaian. Proyeksi tersebut belum mencakup kebutuhan Kereta Rel Diesel, sarana KA jarak jauh, lokomotif, dan sarana layanan barang.
Anne menegaskan bahwa angka tersebut masih berupa perhitungan awal. Keputusan pemenuhan sarana tetap mengikuti kajian kebutuhan operasi, sumber pendanaan, kebijakan pemegang saham, ketentuan pemerintah, serta kesiapan produksi.
“Proyeksi kebutuhan memberi gambaran mengenai ruang pengembangan industri dalam jangka panjang. Pemenuhannya membutuhkan perencanaan yang selaras antara kebutuhan operator, kemampuan produsen, kesiapan teknologi, kualitas produk, dan dukungan pemeliharaan selama sarana digunakan,” kata Anne.
Keterhubungan antara operasi dan manufaktur juga dapat mempercepat penyampaian evaluasi dari lapangan kepada produsen. Informasi mengenai performa sarana, pola penggunaan, kebutuhan pelanggan, kemudahan perawatan, konsumsi komponen, dan kondisi geografis dapat menjadi masukan bagi pengembangan produk berikutnya.
Dalam jangka panjang, susunan kapabilitas tersebut dapat dikaji sebagai solusi bagi pengelola transportasi dan kawasan yang membutuhkan layanan operasi, pemeliharaan sarana, persinyalan, pelatihan, sistem tiket, konstruksi, perawatan jalan rel dan jembatan, pengelolaan fasilitas, keamanan, kebersihan, serta distribusi logistik.
Penguatan rantai nilai tersebut juga berpotensi mendukung standardisasi produk, kepastian ketersediaan suku cadang, peningkatan kompetensi tenaga kerja, keterlibatan pemasok nasional, dan pengelolaan biaya sarana sepanjang masa penggunaannya.
“KAI melihat proses integrasi sebagai kesempatan untuk menyusun kapabilitas perkeretaapian nasional yang semakin terhubung. Arah ini dikembangkan secara bertahap agar mampu memberi manfaat bagi industri sekaligus menjaga pelayanan yang aman, andal, nyaman, dan berkelanjutan bagi masyarakat,” tutup Anne.
Pewarta: PR Wire
Editor: PR Wire
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
.png)

















































