Jakarta -
Kamila Batavia, solois wanita asal Indonesia yang merintis karier di Hamburg, Jerman kembali merilis lagu teranyar 'Tayomi'.
Lagu ini ditulis Kamila dari rasa kehilangan ditinggal sang ibu yang menjadi eksplorasi emosional personal sebagai pembuka album 'Memento Mori: The Baroque Galactic Era', hasil kolaborasi dengan produser asal Spanyol, Ian Fontova.
Merayakan perilisan lagu 'Tayomi', InsertLive berkesempatan untuk berbincang langsung secara eksklusif dengan Kamila Batavia. Simak wawancaranya di bawah ini.
Bisa kamu ceritakan kisah di balik 'Tayomi', single terbarumu yang terinspirasi dari mendiang ibumu?
Betul, jadi Tayomi itu lagu yang aku buat untuk mendiang mama aku dan lagunya itu kebetulan very personal karena aku menulisnya sebagai love letter yang judulnya sesuai nama mamaku Tayomi.
Lagu ini seperti aku yang kehilangan beliau tanpa belum sempat bilang goodbye sebelum bisa bilang itu aku harus kehilangan dan ada banyak rindu, memori, dan kata-kata yang akhirnya aku simpan sendiri.
Aku mencoba menggambarkan bagaimana rasanya hidup dengan rasa kehilangan seseorang yang kita sayangi karena bukan cuma sedih tapi bagaimana kita tetap bisa membawa orang tersebut di dalam hidup kita. Seperti lirik yang paling menggambarkan: Ku bangun istana dari puing memori.
Buat aku, Tayomi itu cara memberi bentuk yang indah untuk memori ibu aku.
Judul 'Tayomi' diambil dari bahasa Jawa. Seberapa besar pengaruh budaya Jawa dalam hidup dan karyamu, terutama selama tinggal di Jerman?
Tayomi itu kan dari bahasa Jawa: Tak Ayomi yang artinya I Protect You. Memang kedengerannya seperti bahasa Jepang tapi untuk aku kata itu punya rasa perlindungan yang lembut, maternal, juga personal.
Selama tinggal di Jerman 10 tahun, identitas Indonesia dan Jawa justru semakin kuat karena mungkin ada jarak kita baru sadar ketika jauh dari rumah. Unsur Jawa itu muncul melalui instrumen tradisional yang lebih dalam nilai dan rasa.
Jadi kayak penghormatan kepada keluarga, kelembutan, memori, rindu, dan juga memandang kehilangan itu secara hati-hati, and with care.
Lirik-lirikmu terasa sangat magis dan puitis. Apa saja referensi bacaan atau hal-hal yang biasanya menginspirasi gaya penulisanmu?
Jujur, aku bukan tipe yang inspirasinya itu selalu datang dari banyak bacaan tertentu. Karena kalau misalnya aku baca itu ya untuk aku kayak semacam healing aja gitu. Kayak baca buku novel, atau baca buku yang non-ficti, tapi kebanyakan inspirasi itu justru muncul dari mimpi, dari
pengalaman personal, imagination, dan juga dari nostalgia, dari memori.
Biasanya kata-kata itu muncul dari gambar yang ada di kepala kayak ada bulan, kastil, laut, dan bunga, ada ruang kosong atau suasanan tertentu. Nah di Tayomi itu gabungannya lumayan padat seperti istana, bulan, yang semuanya terkoneksi.
Aku tuh suka ubah perasaan aku yang sulit dijelasin itu jadi simbol. Jadi mungkin gaya penulisan aku itu cukup intuitif gitu ya. Jadi aku sering ngerasa dulu dari visual, terus pelan-pelan berubah jadi lirik. Buat aku lagu itu bukan melodi tapi kayak ruang cerita seperti penulis yang kebetulan bernyanyi dan itu yang menginspirasi.
Kalau untuk spesifik buku, aku suka kumpulan cerita pendek Wolfgang Borchert - Nachts schlafen die Ratten doch. Genre dia namanya Trümmerliteratur. Ada cerita penggambaran Perang Dunia 2 dan dampak setelahnya soal tikus-tikus pun tertidur. It hit deep right within me.
Dalam cerita yang bermula dari hal kecil itu aku terinspirasi menuliskan lirik awal Tayomi seperti: Hitam pekat, rambutmu, kau bermata sayu.
Bisa dibilang Tayomi ini isnpirasinya dari penceritaan Wolfgang Borchert.
Eksklusif Wawancara via Zoom bersama Kamila Batavia./ Foto: InsertLive/Dias
Seperti apa perjalanan dan tantangan yang kamu hadapi sebagai musisi Indonesia dalam membangun karier musik di Jerman?
Tantangannya cukup kompleks karena aku hidup di antara dua dunia. Di Jerman, aku membawa bahasa, cerita, dan akar Indonesia. Sementara di Indonesia, aku justru membangun banyak hal dari jarak jauh. Ada rasa seolah-olah aku terus bertanya, sebenarnya rumahku di mana. Dari situ, tantangan terbesar adalah membangun tim dan menemukan orang-orang yang benar-benar memahami arah artistikku, karena karya yang aku buat punya banyak lapisan makna.
Di tengah industri musik yang sangat saturated, dengan berbagai genre yang silih berganti tren, aku justru berusaha membangun duniaku sendiri. Buatku, viralitas hanyalah bonus. Paling utama adalah menciptakan karya yang bermakna dan tidak lekang oleh waktu. Aku ingin musikku tetap relevan bahkan 10 atau 20 tahun ke depan, tanpa terikat oleh 'vibe' era tertentu.
Tema seperti kehilangan, terutama kehilangan orang yang dicintai, adalah sesuatu yang universal. Dengan instrumen yang timeless, aku berharap karyaku bisa menemani siapa pun, lintas generasi.
Namun, jalan ini terasa sepi karena aku seperti membuka jalanku sendiri, bahkan melawan arus. Perpaduan elemen Eropa dan Jawa, penggunaan bahasa Indonesia, hingga dunia konseptual seperti Princess of Batavia, Cavalry of Batavia, dan Kingdom of Batavia membuat karyaku tidak mudah dipahami dalam sekali dengar. Ada proses, ada jarak, ada kesendirian.
Tantangan terbesarnya adalah bertahan tetap melangkah meski belum ada validasi instan, belum ada tepuk tangan, atau pengakuan langsung. Pertanyaannya selalu sama, apakah aku tetap mau berjalan, bahkan saat belum ada yang bilang bahwa apa yang aku lakukan ini bermakna.
Sebagai musisi Gen Z yang juga hidup jauh dari keluarga, bagaimana kamu melihat perkembangan musik Indonesia saat ini dari perspektifmu di perantauan? Dan apa harapanmu?
Dari perspektifku, musik Indonesia saat ini terasa semakin beragam, personal, dan berani. Banyak musisi muda yang menginspirasi dengan membawa cerita yang dekat dengan kehidupan mereka sendiri tentang keluarga, identitas, hingga pengalaman personal. Sebagai seseorang yang tinggal jauh dari keluarga, musik Indonesia juga menjadi semacam jembatan pulang bagiku. Lewat bahasa, melodi, dan cerita, aku bisa kembali merasa dekat dengan rumah.
Aku melihat musik Indonesia hari ini sebagai sesuatu yang sangat hidup. Di satu sisi, ia semakin digital dan global, tapi di sisi lain tetap punya akar yang kuat dan personal. Ada keseimbangan antara skala yang luas dengan kedekatan cerita yang membumi. Musiknya bisa menjangkau banyak orang, tapi tetap terasa intim dan relevan secara emosional.
Harapanku, lagu Tayomi bisa menemani siapa pun yang sedang belajar hidup dengan kehilangan. Bagiku, lagu ini bukan hanya tentang berduka, tetapi juga tentang menjaga cinta agar tetap hidup dan membimbing kita, bahkan ketika orang yang kita cintai sudah tidak hadir secara fisik.
Boleh disampaikan sedikit pesan untuk InsertLive dari Kamila Batavia?
Halo semua, aku Kamila Batavia, musisi dan penulis lagu asal Indonesia yang kini berdomisili di Hamburg.
Jangan lupa dengarkan single terbaruku, 'Tayomi', sebuah love letter untuk mendiang ibuku. Semoga lagu ini bisa menemani hari kalian dan menjadi bagian dari proses healing, terutama bagi yang pernah merasakan kehilangan.
(dis/dis)
Loading ...
.png)
2 hours ago
2
















































