MENTERI Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian menyatakan proses pemulihan permanen bencana Sumatera yang melanda pada penghujung November 2025 mulai dilakukan. Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera itu menargetkan pemulihan permanen di tiga provinsi terdampak, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh, rampung dalam tiga tahun ke depan.
Tito menjelaskan, penanganan pascabencana dilakukan dalam tiga tahap, yakni tanggap darurat, transisi, dan pemulihan permanen. “Sekarang kami akan melakukan proses menuju pemulihan permanen,” tutur Tito usai rapat koordinasi Satgas Pemulihan Pasca-Bencana Sumatera di Kompleks DPR/MPR, Jakarta, Senin, 25 Mei 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Tito mengatakan, pemerintah telah menyusun rencana induk percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi Sumatera. “Jadi dari tiga tahapan itu, tanggap darurat, transisi, kemudian kami masuk masa untuk menuju permanen. Kami namakan rehab-rekon (rehabilitasi dan rekonstruksi), dan ini kuncinya adalah renduk (rencana induk),” ujar mantan Kepala Kepolisian RI itu.
Dia menjelaskan, rencana induk tersebut merupakan hasil rekapitulasi data dari pemerintah kabupaten/kota, pemerintah provinsi, hingga kementerian/lembaga, yang kemudian diselaraskan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional atau Bappenas. “Rencana induk ini direkap dari seluruh kabupaten/kota, provinsi, dan kementerian/lembaga, setelah itu disandingkan. Dari sandingan itu, dari Bappenas, kemudian juga kami Satgas ikut menyesuaikan, akan diselesaikan dalam waktu tiga tahun, 2026, 2027, 2028,” ucap Tito.
Tito menuturkan, terdapat 11.512 kegiatan yang akan dikerjakan dalam proses pemulihan permanen tersebut. Berbagai kegiatan itu mencakup pembangunan jalan, jembatan, sekolah, maupun hunian tetap bagi masyarakat yang terdampak bencana. "Yang prioritas tentu di tahun 2026, infrastruktur, sungai, jalan, kemudian sekolah, dan lain-lain," kata dia.
Bencana ekologis berupa banjir bandang dan tanah longsor menghantam Pulau Sumatera bagian utara pada November 2025. Mala itu meluas di 52 kabupaten/kota yang tersebar di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, jumlah korban jiwa akibat bencana itu sebanyak 1.207 orang. Sementara itu, enam bulan berlalu, sebanyak 137 jiwa masih dilaporkan hilang. Bencana ekologis di tiga provinsi itu juga mengakibatkan kerusakan rumah warga, fasilitas kesehatan, fasilitas pendidikan, rumah ibadah, jembatan, hingga jalan.
.png)















































