Pengembangan Panas Bumi Gunung Ungaran Berpotensi Tekan Emisi

1 hour ago 5

loading...

Pengembangan panas bumi Gunung Ungaran, di Jawa Tengah, dinilai berpotensi mendukung pengurangan emisi. Foto/SIndoNews

JAKARTA - Pengembangan panas bumi Gunung Ungaran , di Jawa Tengah, dinilai berpotensi mendukung pengurangan emisi sektor ketenagalistrikan sekaligus memperkuat pemanfaatan energi rendah karbon. Secara umum rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi menghasilkan emisi gas rumah kaca seperti CO2, SOx, NOx, dan partikulat yang sangat rendah dibandingkan pembangkit berbasis bahan bakar fosil.

"Panas bumi memanfaatkan panas dari dalam bumi untuk menghasilkan listrik. Karakteristik sumber panas dan teknologi yang digunakan menjadi faktor penting dalam menentukan kinerja pembangkit dan tingkat emisinya,” kata Guru Besar Fisika Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro (Undip) Eng. Agus Setyawan, dikutip Rabu (16/9/2026).

Panas bumi, lanjut Agus--yang memiliki keilmuan di bidang fisika, khususnya geofisika dan geotermal--memiliki peluang untuk mendukung penggunaan energi yang lebih rendah karbon. Sumber energi ini juga dapat membantu memperkuat keragaman sumber listrik. "Jadi kebutuhan energi tidak hanya bergantung pada satu jenis pembangkit,” katanya.

Baca juga: PLTP Ungaran Perkuat Pasokan Listrik di Jawa Tengah

Agus menjelaskan fluida panas bumi yang berasal dari reservoir dapat membawa gas alami seperti karbon dioksida (CO2) dan hidrogen sulfida (H2S). Namun, jumlah emisi yang dihasilkan dapat berbeda-beda, tergantung pada karakteristik fluida dan teknologi pembangkit yang digunakan.

Untuk itu, lanjutnya, pengelolaan sumber daya menjadi bagian penting dalam pengembangan panas bumi. Salah satunya adalah pengelolaan fluida yang telah digunakan dalam proses pembangkitan.

Lihat video: Kunjungan Kerja ke Maluku, Bahlil Perintahkan PLN Segera Bangun PLTP 40 MW

“Fluida yang sudah tidak digunakan akan direinjeksikan kembali ke reservoir sehingga akan mengurangi pembuangan limbah berbahaya yang merusak ekosistem,” jelasnya.

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online