Profil Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran yang Tewas Diserang AS dan Israel

4 hours ago 3

loading...

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dinyatakan tewas setelah diserang AS dan Israel. Foto/X @khamenei_ir

TEHERAN - Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei telah tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat (AS)-Israel pada hari Sabtu. Pembunuhannya menandai momen penting bagi Republik Islam Iran karena tokoh yang selama lebih dari tiga dekade merupakan otoritas politik, militer, dan ideologis tertinggi di negara itu telah tersingkir.

Ulama berusia 86 tahun itu memegang kekuasaan yang meluas ke seluruh angkatan bersenjata Iran, peradilan, dan aparatur kebijakan luar negeri, dengan keputusannya mengesampingkan keputusan presiden dan Parlemen.

Baca Juga: Media Pemerintah Iran: Khamenei Mati Syahid setelah Diserang AS-Israel

Sejak mengambil alih kepemimpinan pada tahun 1989 setelah kematian pendiri Republik Islam Iran, Ruhollah Khomeini, Khamenei memimpin Iran melewati masa-masa pasca-perang Iran-Irak, sanksi Barat yang melumpuhkan, isolasi diplomatik, kerusuhan domestik yang berulang, dan konfrontasi yang semakin intensif dengan Washington dan Tel Aviv.

Bagi para pendukungnya, dia adalah pembela kedaulatan Iran yang teguh terhadap tekanan asing. Bagi para kritikus, dia melambangkan sistem politik yang tidak kompromi dan resisten terhadap reformasi dan perbedaan pendapat.

Sebagai pemimpin tertinggi, dia menjabat sebagai kepala negara dan panglima tertinggi, mempertahankan otoritas tertinggi atas angkatan bersenjata dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Profil Ayatollah Ali Khamenei

Khamenei lahir pada 19 April 1939 di Mashhad, Iran timur, dari keluarga religius yang sederhana. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, dia melanjutkan studi Islam di seminari di Mashhad sebelum melanjutkan pelatihan teologi tingkat lanjut di Qom. Dia juga dikenal karena minatnya yang mendalam pada puisi dan sastra.

Pada awal tahun 1960-an, dia bergabung dengan gerakan Ayatollah Khomeini melawan Shah Mohammad Reza Pahlavi. Mulai tahun 1963, dia berulang kali ditangkap oleh SAVAK, dinas intelijen Shah, karena mengorganisir protes dan menyebarkan literatur anti-rezim, dan menghabiskan beberapa periode di pengasingan.

Ketika protes massal melanda Iran pada tahun 1978-1979, yang melemahkan monarki, tahanan politik dan orang buangan kembali ke kehidupan publik. Khamenei muncul kembali di Mashhad dan kota-kota lain, membantu mengorganisir demonstrasi dan memobilisasi dukungan untuk agenda revolusioner Khomeini.

Perjalanan Karier dan Perannya sebagai Pemimpin Tertinggi Iran

Setelah Revolusi Islam 1979, Khamenei bergabung dengan Dewan Revolusioner dan dengan cepat naik pangkat dalam tatanan politik baru. Dia menjabat sebagai wakil menteri pertahanan, pemimpin salat Jumat di Teheran, dan anggota Parlemen.

Pada tahun 1981, setelah pembunuhan Presiden Mohammad Ali Rajai, Khamenei terpilih sebagai presiden, menjabat selama dua periode berturut-turut hingga tahun 1989. Pada tahun yang sama, Dia selamat dari upaya pembunuhan ketika sebuah bom yang disembunyikan di dalam perekam kaset meledak saat dia berpidato di masjid, menyebabkan lengan kanannya cacat permanen.

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online