Sinyal Awal Pelemahan Ekonomi Nasional Diungkap, Pakar: Jangan Diabaikan

6 hours ago 3

loading...

Pertumbuhan ekonomi Indonesia memang masih terjaga, tetapi sejumlah indikator mulai menunjukkan kehilangan tenaga. Foto/Dok

JAKARTA - Kendati laju perekonomian nasional terpantau masih tumbuh positif, pergerakan sejumlah indikator penunjang di masa depan dinilai menuntut kewaspadaan ekstra dari pemerintah. Rilis data Composite Leading Indicator (CLI) dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) serta Leading Economic Indicator (LEI) besutan lembaga penyedia analisis makroekonomi global CEIC, yang mulanya berfokus pada data China sebelum berekspansi menyajikan statistik makro serta industri bagi lebih dari 200 negara secara simultan memproyeksikan adanya sinyal pelemahan ekonomi Indonesia.

Hasil riset NEXT Indonesia menerangkan bahwa angka CLI OECD menyusut dari posisi 100,73 pada Desember 2025 menjadi 99,81 pada Juni 2026. Selaras dengan itu, rapor LEI CEIC juga melorot tajam sebesar 9,69 persen dari level 102,33 pada November 2025 menjadi tinggal 92,41 pada Juni 2026.

Kepala Riset NEXT Indonesia Center, Ade Holis mengingatkan, koreksi pada kedua indikator utama tersebut harus dipandang sebagai peringatan dini yang serius lantaran terjadi beriringan dengan melandainya performa sektor riil domestik.

Baca Juga: Pertumbuhan Tahun Depan Dipatok 6%, Ekonom Wanti-wanti Daya Ungkit Ekonomi Lemah

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia memang masih terjaga, tetapi sejumlah indikator mulai menunjukkan kehilangan tenaga. Penurunan indikator pendahulu (CLI), melemahnya keyakinan konsumen , kontraksi penjualan eceran, dan penurunan investasi domestik perlu dibaca sebagai sinyal awal yang tidak boleh diabaikan,” kata Ade dalam keterangan tertulisnya, dikutip Rabu (19/8/2026).

Ade menguraikan soal merosotnya angka CLI dan LEI sejatinya tidak serta-merta mengindikasikan Indonesia tengah meluncur ke jurang resesi, melainkan merefleksikan adanya pergeseran momentum pertumbuhan yang mulai terasa sejak akhir tahun 2025.

Berdasarkan kajian NEXT, tanda-tanda tekanan kini mulai merembet ke pilar konsumsi rumah tangga , yang pada semester I-2026 sejatinya masih mendominasi pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dengan kontribusi sebesar 53,82%.

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online