Suka Duka Pengabdian di Genera-Z Berbakti 2026, Kala Gagasan Harus Dipraktikkan

5 hours ago 3

loading...

Anggota Tim KATALIS Universitas Indonesia mendampingi anak-anak Desa Wisata Kakaskasen Dua, Kota Tomohon, dalam program pelatihan bahasa Inggris. Foto/Dok. SindoNews

JAKARTA - Empat tim finalis Genera-Z Berbakti 2026 berbagi banyak pengalaman selama mengikuti program ini. Perjalanan di desa wisata binaan Bakti BCA tidak melulu berkutat pada pembuktian gagasan. Tuntutan bekerja sebagai tim di tengah perbedaan karakter antarindividu, mencari tahu lewat pengalaman baru, kemauan mendengarkan warga, serta berimprovisasi ketika terjadi hal-hal di luar dugaan adalah bagian dari tantangan di lapangan yang bisa menjadi pembelajaran bagi mereka.

Hal itu dirasakan keempat tim. Laskar Selasik (Universitas Gadjah Mada) di Desa Wisata Kreatif Terong, Kabupaten Belitung dan Tim Pelita (Universitas Padjadjaran) di Desa Wisata Situs Gunung Padang, Kabupaten Cianjur. Kemudian Tim Amerta Pertiwi (Universitas Airlangga) di Desa Wisata Patakbanteng, Kabupaten Wonosobo, dan Tim KATALIS (Universitas Indonesia) di Desa Wisata Kakaskasen Dua, Kota Tomohon.Lihat foto: Tiga Desa Bakti BCA Raih Penghargaan Wonderful Indonesia Award 2025

Keempatnya datang membawa ide dan gagasan ke desa masing-masing. Berikut cerita keseruan masing-masing tim.

1. Tim Pelita Unpad: Ketika maggot gagal selamat, lantas bagaimana?
Tim Pelita datang ke Desa Wisata Situs Gunung Padang dengan membawa program budidaya maggot untuk untuk mengolah sampah organik menjadi pakan ternak bernutrisi, sekaligus menghasilkan pupuk organik. Program ini dirancang untuk memperkenalkan penerapan ekonomi sirkular kepada masyarakat melalui pengelolaan sampah yang dapat berjalan mandiri.

Namun, niat mulia mereka mendapatkan ujian di lapangan. Sebagian besar dari lima kilogram maggot yang telah dipesan tidak bertahan hidup selama perjalanan menuju Desa Wisata Situs Gunung Padang.

Di atas kertas, kondisi tersebut bisa berarti kegagalan. Namun, di lapangan, tim harus segera mencari jalan keluar. “Setelah tahu kalau ada penjual maggot di sekitar sini, kami segera mengunjungi penjualnya dan mengganti maggot di saung dengan yang baru,” ujar Dika, penanggung jawab program rumah maggot Tim Pelita.

Bagi para mahasiswa, persoalan itu menjadi pengingat bahwa keberhasilan sebuah program tidak selalu ditentukan oleh seberapa sempurna perencanaan awalnya. Ada kalanya kemampuan membaca situasi dan mengambil keputusan dengan cepat justru menjadi bagian penting dari proses pengabdian.

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online