Tensi Geopolitik Memanas, Dolar AS Kembali Jadi Primadona

20 hours ago 6

loading...

Tekanan terhadap mata uang negara berkembang (emerging markets), termasuk rupiah dipicu oleh ketegangan geopolitik global yang memanas. Foto/Dok

JAKARTA - Nilai tukar rupiah menunjukkan sedikit napas lega pada pembukaan perdagangan Jumat (23/1) dan tercatat menguat ke level Rp16.820 per dolar AS (USD) pada penutupan perdagangan. Meski mengalami penguatan tipis, posisi pupiah dinilai masih rawan karena berada sangat dekat dengan batas psikologis kritis Rp17.000 per dolar AS.

Praktisi Pasar Modal sekaligus Co-Founder PasarDana, Hans Kwee menjelaskan bahwa tekanan terhadap mata uang negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia, dipicu oleh ketegangan geopolitik global yang memanas. Kondisi ini memaksa investor asing untuk menarik modalnya dan mencari perlindungan pada aset aman (safe haven) dalam bentuk dolar AS.

Baca Juga: Ambruknya Rupiah dan Lonceng Chaos

“Karena emerging market dianggap lebih berisiko, duitnya balik ke USD. Sehingga rupiah kita melemah,” kata Hans Kwee dalam Edukasi Wartawan Pasar Modal di Jakarta.

Menghadapi volatilitas nilai tukar dan pasar keuangan, Hans Kwee menyarankan para investor untuk lebih jeli dalam menyusun strategi. Ia merekomendasikan peralihan sementara ke instrumen yang lebih defensif seperti pasar uang atau obligasi untuk menjaga stabilitas portofolio.

Namun bagi investor saham, fluktuasi ini justru dipandang sebagai kesempatan untuk akumulasi. Hans menekankan pentingnya berfokus pada perusahaan dengan fundamental kuat dan pertumbuhan tinggi, namun tidak lagi mengejar harga yang sangat murah (undervalued) mengingat kondisi pasar yang sedang bullish.

Baca Juga: Mitigasi Pelemahan Rupiah, BI Cari Cara Kurangi Ketergantungan Dolar AS

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online