12 Ciri Pasangan Bersifat Man Child, Dewasa yang Hanya Sekadar Angka

4 hours ago 2

Bunda merasa suami kurang dewasa? Mungkin masuk kategori man child. Yuk, pahami ciri pasangan bersifat man child.

Dalam hubungan, kedewasaan emosional memegang peranan penting untuk menciptakan keseimbangan dan rasa saling menghargai. Namun tidak sedikit orang yang merasa pasangannya masih bersikap kekanak-kanakan meski usianya sudah dewasa.

Fenomena ini kerap disebut dengan istilah man child, yaitu ketika seorang pria secara usia sudah dewasa, tapi perilaku dan emosinya masih seperti anak-anak. Istilah man child sendiri bukanlah hal baru.

Sejarah mencatat istilah ini sudah ada sejak abad ke-14 yang awalnya hanya merujuk pada seorang anak laki-laki. Kemudian pada 1980-an, fenomena ini lebih populer dengan sebutan Peter Pan Syndrome, diambil dari buku The Peter Pan Syndrome: Men Who Have Never Grown Up karya psikolog Dan Kiley.

Istilah ini menggambarkan pria yang menolak atau gagal untuk benar-benar tumbuh dewasa. Meski tidak termasuk dalam diagnosis medis resmi, perilaku man child nyata adanya dan bisa sangat melelahkan bagi Bunda.

Pria yang bersifat man child sering dianggap tidak bisa diandalkan, tak bertanggung jawab, bahkan kerap membuat hubungan terasa berat sebelah. Lalu apa saja ciri pasangan yang bersifat man child

Ciri pasangan bersifat man child

Mengutip InStyle dan Verywell Mind, berikut ciri pasangan bersifat man child.

1. Selalu berantakan

Salah satu ciri khas pria dengan sifat man child adalah ketidakmampuannya menjaga kebersihan dan kerapian. Ia terbiasa meninggalkan pakaian kotor di lantai, piring kotor menumpuk, atau barang-barang berserakan tanpa peduli untuk membereskannya.

Hal ini menunjukkan kurangnya rasa tanggung jawab atas hal-hal dasar dalam kehidupan sehari-hari. Tidak jarang, pasangan merasa seperti sedang mengurus anak kecil dibandingkan hidup bersama orang dewasa yang bisa berbagi tugas rumah tangga.

2. Suka berprilaku seperti anak kampus

Meski sudah tidak berusia belia, pria man child sering masih suka berpesta berlebihan, bercanda kelewat batas, atau bertingkah seperti remaja yang baru merasakan kebebasan. Ia sering menghabiskan waktu tidak sesuai usianya, seperti mabuk-mabukkan atau bermain lelucon yang merugikan orang lain.

Bagi istrinya, sikap ini bukan hanya memalukan, melainkan juga melelahkan. Suami bukannya menjadi sosok yang bisa diandalkan dalam situasi serius, tapi justru lebih suka bersenang-senang tanpa mempertimbangkan konsekuensi.

3. Selalu punya alibi

Pria dengan sifat man child cenderung tidak pernah mau mengakui kesalahan. Ada saja alasan yang ia kemukakan setiap kali gagal menepati janji, datang terlambat, atau lalai dalam tanggung jawab.

Semua masalah selalu dianggap bukan salahnya. Perilaku ini membuat hubungan menjadi tidak sehat karena pasangan dipaksa untuk terus memaklumi. Padahal kedewasaan sejati ditunjukkan dengan kemampuan mengakui kesalahan dan berusaha memperbaikinya.

4. Sering mengalami masalah keuangan

Tidak sedikit pria man child yang kerap terjebak dalam masalah finansial. Bukan karena keadaan darurat atau beban ekonomi berat, melainkan akibat kebiasaan buruk, seperti malas bekerja, boros, atau tidak disiplin mengatur uang.

Suami mungkin berpindah-pindah pekerjaan, sering berhutang, atau tidak bisa membayar tagihan tepat waktu. Hal ini bukan hanya menyulitkan dirinya sendiri, melainkan bisa membebani pasangannya secara emosional maupun finansial.

5. Terjebak dalam 'toxic trio'

Ciri lain dari man child adalah kecanduan pada tiga hal yang disebut sebagai toxic trio (narkoba, game, dan pornografi). Ia tidak hanya menggunakannya sesekali, tapi benar-benar menjadikannya pelarian utama dari masalah hidup.

Akibatnya, ia menghindari tanggung jawab, menjauh dari keintiman emosional maupun fisik, dan semakin sulit diajak bicara serius. Hal ini bisa merusak kualitas hubungan karena Bunda akan merasa diabaikan dan tidak dihargai.

6. Tidak bisa diandalkan

Pasangan man child sering kali tidak bisa dijadikan sandaran. Mau minta diantar ke bandara, ditemani ke acara penting, atau sekadar diharapkan hadir saat dibutuhkan, ia justru sering mengecewakan.

Yang lebih parah, ketika ia mengecewakan maka tidak merasa bersalah. Bahkan bisa saja ia memutar balik keadaan seolah-olah pasangan terlalu menuntut atau terlalu sensitif.

7. Tidak bisa menerima kritik

Dibandingkan menjadikan kritik sebagai bahan perbaikan, pria man child justru mudah tersinggung ketika diberi masukan. Ia akan merasa diserang, bersikap defensif, atau marah besar.

Hal ini menunjukkan bahwa ia belum mampu melakukan refleksi diri. Salah satu tanda kedewasaan sebenarnya adalah kemampuan menerima kritik dengan lapang dada dan menjadikannya sebagai peluang untuk bertumbuh.

8. Tidak mampu mengelola stres

Ketika menghadapi masalah, pria man child cenderung meledak-ledak atau mencari pelarian yang tidak sehat, seperti menghabiskan waktu berjam-jam dengan hobi yang melarikan diri dari kenyataan. Ia menganggap stresnya lebih berat dari orang lain dan merasa berhak diperlakukan khusus.

Berbeda dengan orang dewasa yang mampu menemukan cara sehat mengatasi stres, man child justru menjadikannya alasan untuk berperilaku buruk. Hal ini bisa membuat pasangan ikut tertekan karena harus menghadapi ledakan emosinya.

9. Menghindari topik serius tentang masa depan

Membicarakan masa depan, seperti pernikahan, anak, atau komitmen jangka panjang, sering membuat pria man child ketakutan. Ia akan mengalihkan pembicaraan, menghindar, bahkan menunjukkan rasa tidak nyaman yang jelas.

Sikap ini menjadi tanda bahwa ia belum siap menjalani tanggung jawab besar dalam pernikahan. Bagi pasangannya, hal ini bisa menjadi hambatan serius dalam membangun masa depan bersama.

10. Tidak mampu melakukan tugas dasar sebagai orang dewasa

Hal-hal sederhana seperti membuat janji ke dokter, membayar tagihan, atau sekadar memasak makanan sendiri bisa menjadi tantangan besar bagi pria man child. Ia sering berpura-pura tidak tahu cara melakukannya atau sengaja meminta bantuan agar pasangannya yang mengerjakan.

Kondisi ini membuat pasangan merasa seperti pengasuh, bukan rekan sejajar dalam sebuah hubungan. Padahal kemandirian dalam hal-hal dasar merupakan syarat mutlak kedewasaan.

11. Menggunakan 'weaponized incompetence'

Pria man child kerap berpura-pura tidak bisa melakukan sesuatu, melakukannya dengan sangat buruk, atau mengajukan pertanyaan berlebihan agar pasangannya yang mengambil alih. Strategi ini dikenal dengan istilah weaponized incompetence.

Sebagai contoh, ketika diminta memasak, ia sengaja membuat masakan yang gosong atau berantakan sehingga pasangan merasa lebih baik melakukannya sendiri. Pada akhirnya, pasangan yang terus mengalah justru memperkuat perilaku buruk ini.

12. Membuat pasangan menjadi sering marah

Karena perilakunya yang kekanak-kanakan, pasangan terpaksa terus-menerus mengingatkan, menegur, bahkan memarahi. Akibatnya, pasangan merasa seperti sedang menjadi orangtua yang harus mendidik anak, bukan menjalani hubungan romantis setara.

Situasi ini lama-lama melelahkan, membuat pasangan kehilangan kesabaran, dan bisa merusak kualitas hubungan. Jika dibiarkan, hubungan dengan man child bisa membuat salah satu pihak merasa terkuras secara emosional.

Memiliki pasangan dengan sifat man child bisa menjadi pengalaman yang sangat melelahkan, bahkan berpotensi merusak pernikahan. Kedewasaan bukan hanya soal angka, melainkan juga kemampuan bertanggung jawab, mengelola emosi, dan membangun masa depan bersama.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online