48 Jam Awak Jet F-15 AS di Iran: Mendaki 7.000 Kaki, Berpistol, Jadi Buruan Berhadiah Rp1 Miliar

8 hours ago 3

loading...

Awak jet tempur F-15 AS yang ditembak jatuh Iran telah bersembunyi 48 jam di celah gunung dan jadi buruan berhadiah Rp1 miliar. Foto/Newswire

TEHERAN - Setiap awak jet tempur Amerika Serikat (AS) menjalani kursus yang dirancang untuk mempersiapkan mereka menghadapi skenario terburuk: pesawat ditembak jatuh, sendirian, dan diburu di wilayah musuh. Pada hari Jumat pekan lalu, seorang penerbang Amerika mendapati dirinya dalam situasi yang persis seperti itu.

Pada 3 April, sebuah jet tempur F-15E Strike Eagle— pesawat interdiksi bermesin ganda dan berkapasitas dua tempat duduk—ditembak jatuh di Iran barat daya. Pilot di dalam pesawat tersebut ditemukan tak lama setelah jet tersebut terkena tembakan, tetapi pencarian petugas sistem senjata berlangsung selama dua hari penuh.

Baca Juga: Iran dan Trump Beda Klaim soal Nasib Awak Jet F-15 AS, Siapa yang Benar?

Iran bahkan mengumumkan hadiah USD60.000 (Rp1 miliar) untuk informasi yang mengarah pada penangkapannya dan mendesak warga sipil untuk berpartisipasi dalam operasi pencarian.

Anggota kru yang hilang, seorang kolonel, diselamatkan pada hari Minggu dalam apa yang disebut Presiden AS Donald Trump sebagai operasi pencarian dan penyelamatan paling berani dalam sejarah AS, yang suatu hari nanti akan menjadi film thriller Hollywood yang menakjubkan. Namun bagaimana seorang perwira sistem senjata bertahan hidup hampir 48 jam sendirian di wilayah musuh, sementara diburu, adalah sebuah kisah yang sangat menarik.

Mendaki 7.000 Kaki, Bersembunyi di Celah Gunung

Saat pasukan Iran dan AS berlomba untuk menemukan penerbang tersebut, dia bersembunyi di celah gunung, terus bergerak, dan pada suatu titik mendaki punggungan setinggi 7.000 kaki untuk tetap berada di depan pasukan yang mengepungnya.

Berbekal pistol dan pelatihan yang dimilikinya, lokasinya tetap tidak diketahui bahkan oleh Amerika Serikat selama lebih dari 24 jam. Penerbang tersebut juga memiliki alat komunikasi dan suar pelacak.

"Prajurit pemberani ini berada di belakang garis musuh di pegunungan Iran yang berbahaya, diburu oleh musuh-musuh kita, yang semakin mendekat setiap jamnya," kata Trump.

Para pejabat AS mengatakan kepada CBS News bahwa anggota kru tersebut menghabiskan lebih dari 24 jam sendirian di pegunungan.

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online