Aliansi Gebrak Longmarch dari Senayan Park ke Gedung DPR

3 hours ago 3

ALIANSI Gerakan Buruh Bersama Rakyat atau Gebrak menggelar longmarch dalam peringatan Hari Buruh Internasional pada Jumat, 1 Mei 2026. Longmarch dimulai dari kawasan Senayan Park hingga area depan kompleks DPR, MPR, dan DPD.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Pantauan Tempo, di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat pada pukul 13.30 WIB, longmarch ini diikuti ribuan orang yang terdiri dari unsur serikat pekerja, mahasiswa, dan masyarakat sipil. 

"Persatuan: buruh, tani, mahasiswa, pelajar," ujar orator menyerukan di atas mobil komando.

Sebelumnya, Ketua Umum Kongres Aliansi Seluruh Buruh Indonesia (KASBI) Sunarno mengatakan, organisasinya dan Gebrak mengagendakan demonstrasi di depan gedung DPR dalam peringatan Hari Buruh Internasional. 

Dia menuturkan, baik KASBI maupun Gebrak tidak mengikuti May Day Fiesta yang dihelat serikat pekerja lain di Kawasan Monumen Nasional. May Day Fiesta dihadiri oleh Presiden Prabowo Subianto. 

Ia menjelaskan, keengganan KASBI dan Gebrak mengikuti May Day Fiesta dilatari alasan kondisi perburuhan yang masih sangat memprihatinkan, khususnya ihwal jaminan kepastian dan status pekerja yang justru menuju praktik informalisasi.
"Artinya, pekerja dengan status tetap akan semakin berkurang," kata Sunarno kemarin, 30 April 2026. 

Dia melanjutkan, kondisi tersebut juga kian diperparah dengan adanya regulasi Undang-Undang Cipta Kerja beserta aturan turunannya yang membuat pelanggaran hak-hak normatif buruh makin masif terjadi. Misalnya, upah rendah, jam kerja panjang, dan ketiadaan jaminan sosial. 

Toh, kata dia, karakter perjuangan gerakan buruh sejatinya menekankan May Day pada akar historis perlawanan terhadap eksploitasi, solidaritas kelas, dan independensi gerakan. 

Sunarno menyoroti sikap serikat pekerja lain yang justru berpesta ria bersama kekuasaan, alih-alih mengkritik pelbagai kebijakan yang tak pro dengan kesejahteraan pekerja. 

"Gerakan buruh sejati harus mandiri dan tidak dijinakan oleh kepentingan modal atau kekuasaan politik yang merugikan buruh," ujar Sunarno.

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online