Banyak yang Salah Paham, Pabrik HP Indonesia Bukan Bikin dari Nol

7 hours ago 5

Selular.ID – Industri Hp Indonesia berkembang pesat sejak pertengahan dekade 2010-an, ditandai dengan hadirnya fasilitas produksi milik Samsung, Vivo, Oppo, serta sejumlah perusahaan manufaktur elektronik yang memproduksi perangkat untuk berbagai merek global.

Meski sering disebut sebagai “pabrik smartphone”, sebagian besar fasilitas yang beroperasi di Indonesia bukan memproduksi seluruh komponen dari nol, melainkan melakukan proses perakitan, pengujian, dan integrasi komponen hingga menjadi perangkat siap jual.

Perkembangan industri ini tidak lepas dari kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang mulai diperketat pemerintah sejak era jaringan 4G.

Regulasi tersebut mendorong vendor smartphone membangun fasilitas produksi lokal agar dapat memasarkan produknya di Indonesia sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor perangkat jadi.

Banyak masyarakat menganggap smartphone yang diproduksi di Indonesia dibuat sepenuhnya dari bahan baku hingga menjadi perangkat jadi.

Faktanya, model produksi smartphone modern jauh lebih kompleks dan melibatkan rantai pasok global.

Tonton juga:

Video Rekomendasi Untuk Anda

Dilansir dari berbagai sumber, komponen utama seperti chipset, sensor kamera, layar OLED atau LCD, modul memori, baterai, hingga komponen radio umumnya masih diproduksi oleh perusahaan spesialis di berbagai negara seperti Korea Selatan, China, Taiwan, Jepang, dan Amerika Serikat.

Komponen tersebut kemudian dikirim ke Indonesia untuk dirakit menjadi smartphone.
Proses produksi di pabrik smartphone Indonesia biasanya dimulai dari penerimaan komponen.

Setelah melalui pemeriksaan kualitas awal, komponen masuk ke jalur Surface Mount Technology (SMT), yaitu proses pemasangan komponen elektronik berukuran sangat kecil ke papan sirkuit atau Printed Circuit Board (PCB).

Tahap berikutnya adalah perakitan motherboard, pemasangan modul kamera, baterai, layar, antena, motor getar, speaker, hingga casing perangkat.

Setelah perangkat selesai dirakit, smartphone menjalani serangkaian pengujian kualitas yang mencakup fungsi layar, konektivitas jaringan, kamera, pengisian daya, audio, sensor, serta uji ketahanan tertentu sesuai standar masing-masing merek.

Proses serupa diterapkan di fasilitas manufaktur smartphone modern termasuk yang digunakan Oppo Manufacturing Indonesia di Tangerang.

Setelah lolos pengujian, perangkat masuk ke tahap instalasi perangkat lunak, kalibrasi akhir, pengemasan, dan distribusi ke pasar.

Samsung menjadi salah satu produsen pertama yang membangun fasilitas produksi smartphone skala besar di Indonesia.

Pabrik PT Samsung Electronics Indonesia di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, mulai diresmikan pada 2015.

Saat pertama beroperasi, fasilitas tersebut memiliki kapasitas produksi sekitar satu juta unit smartphone dan tablet per bulan. Setahun kemudian kapasitasnya meningkat menjadi sekitar 1,5 juta unit per bulan.

Jika dihitung berdasarkan kapasitas bulanan tersebut, produksi Samsung di Cikarang dapat mencapai sekitar 33.000 hingga 50.000 unit perangkat per hari, tergantung jumlah hari operasional pabrik.

Vivo menyusul dengan membangun fasilitas produksi di kawasan industri Cikupa, Tangerang, Banten. Pabrik yang mulai beroperasi pada 2016 itu menjadi pusat produksi smartphone Vivo untuk pasar Indonesia.

Perusahaan secara bertahap meningkatkan kapasitas dan kemampuan produksinya seiring pertumbuhan pasar smartphone nasional.

Vivo menyebut proses produksi dilakukan melalui jalur manufaktur dan pengendalian kualitas yang terintegrasi.

Oppo juga menjadi pemain penting dalam manufaktur smartphone lokal. Perusahaan mengoperasikan fasilitas produksi di wilayah Tangerang.

Pada 2022, Oppo meresmikan pabrik baru di kawasan Periuk, Kota Tangerang, yang dibangun di atas lahan sekitar 10 hektare dan mempekerjakan ribuan tenaga kerja Indonesia.

Pabrik tersebut menangani proses produksi, pengujian kualitas, hingga pengemasan perangkat sebelum didistribusikan ke pasar.

Selain ketiga merek tersebut, sejumlah smartphone Xiaomi, Infinix, Tecno, itel, Nokia, dan beberapa merek lainnya juga diproduksi di Indonesia melalui kerja sama dengan perusahaan Electronic Manufacturing Services (EMS) atau manufaktur kontrak.

Model ini memungkinkan vendor memenuhi aturan TKDN tanpa harus membangun pabrik sendiri.

Dalam perkembangannya, industri smartphone Indonesia mulai bergerak dari sekadar perakitan menuju peningkatan nilai tambah.

Sejumlah pemasok lokal kini memproduksi komponen pendukung seperti charger, kabel data, kemasan, adaptor daya, hingga beberapa bagian mekanikal perangkat.

Meski demikian, komponen bernilai tinggi seperti prosesor, sensor kamera premium, dan panel layar masih didominasi pemasok global.

Kementerian Perindustrian beberapa kali menegaskan bahwa penguatan industri elektronik nasional membutuhkan peningkatan kandungan lokal secara bertahap, bukan hanya pada tahap perakitan, tetapi juga pada kemampuan desain, rekayasa produk, dan pengembangan komponen.

Keberadaan pabrik smartphone di Cikarang, Tangerang, Batam, dan sejumlah kawasan industri lainnya menunjukkan bahwa Indonesia telah menjadi bagian penting dari rantai pasok industri perangkat mobile global.

Baca Juga:Xiaomi Bangun Pabrik Smartphone Otonom di China, ‘Pegawainya’ Robot

Namun hingga saat ini, mayoritas fasilitas tersebut masih berfokus pada manufaktur akhir atau final assembly, yaitu mengubah ribuan komponen yang berasal dari berbagai negara menjadi satu unit smartphone yang siap digunakan konsumen.

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online