Dalam Islam, pernikahan bukan sekadar ikatan antara dua insan, melainkan sebuah perjanjian yang kuat (mitsaqan ghalizha) yang dibangun atas dasar kasih sayang, ketenteraman, dan saling menghormati. Oleh karena itu, suami dan istri memiliki hak serta kewajiban yang harus dijalankan agar tercipta keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.
Ketika seorang istri merasa tidak bahagia dalam rumah tangga, bagaimana solusinya dalam Islam?
Komunikasi jadi kunci
Dalam konten YouTube CNN Indonesia berjudul Tidak Bahagia dalam Pernikahan, Harus Bagaimana?, Ustaz Hilman Fauzi mengungkapkan bahwa ketika seorang istri menghadapi ketidakbahagiaan dalam pernikahan, kuncinya ada di komunikasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di rumah tangga itu, kebaikan pasangan jadi ujian syukur, keburukan pasangan jadi ujian sabar. Kalau Bundanya masih bisa bertahan dengan segala yang terjadi ini, ya silakan. Tapi pertanyaannya ada perubahan enggak dalam sosok suami, dalam diri suami dengan segala yang terjadi ini," ujar Ustaz Hilman.
Menurut Ustaz Hilman, Bunda perlu berkomunikasi dengan suami mengenai ke mana arah rumah tangga. Jika dibutuhkan, Bunda juga bisa meminta bantuan pihak ketiga untuk menengahi persoalan.
"Apakah orang tua, apakah butuh wali di situ, apakah butuh guru di situ, sampaikan. Jangan dipendam sendiri," tuturnya.
"Komunikasi itu adalah kunci di rumah tangga. Kalau di rumah tangga sudah tidak bisa menemukan komunikasi yang baik, ya bagaimana bisa untuk mendapatkan kebaikan di dalamnya."
Cara membuat istri bahagia dalam Islam
Mengutip detikcom, Holilur Rohman dalam bukunya yang berjudul Rumah Tangga Surgawi menjelaskan bahwa Al-Qur'an dan hadits mengajarkan berbagai bentuk adab bagi suami. Jika adab ini dikerjakan, atas seizin Allah SWT maka para suami akan dicap sebagai suami yang baik yang bisa menghasilkan istri yang bahagia.
Berikut ini adalah cara membuat istri bahagia dalam Islam.
1. Memperlakukan istri dengan baik
Seorang suami diharapkan memiliki sifat dan perilaku yang baik terhadap istrinya. Melalui ikatan pernikahan yang suci, suami berkomitmen tidak hanya di depan keluarga tetapi juga di hadapan Allah SWT untuk membahagiakan istrinya.
2. Menjadi kepala keluarga yang bijak
Ciri khas dari seorang pemimpin yang baik adalah keterbukaannya terhadap diskusi. Setiap keputusan yang berkaitan dengan rumah tangga dan keluarga idealnya dibahas bersama istri dengan mendengarkan pandangannya.
Lebih lanjut, sangat penting bagi seorang pemimpin untuk melindungi keluarganya dari tindakan yang dilarang oleh Allah SWT. Ia harus senantiasa mengingatkan istri dan anak-anaknya untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
3. Memberikan nafkah kepada keluarga
Memberikan nafkah merupakan salah satu tanda keseriusan seorang suami dalam perannya sebagai kepala rumah tangga. Sang suami harus benar-benar memperhatikan kebutuhan dasar seperti pakaian, makanan, dan tempat tinggal untuk istri serta anak-anaknya.
Seorang suami yang dengan tulus dan ikhlas mencari nafkah untuk keluarganya, baik dalam jumlah banyak maupun sedikit sesuai dengan kemampuan dan kesempatan yang tersedia akan mendapatkan balasan yang luar biasa dari Allah SWT, baik di dunia ini maupun di akhirat.
4. Membantu pekerjaan rumah tangga
Terdapat pemahaman umum yang menggambarkan bahwa suami bertugas bekerja di luar rumah sementara istri mengurus rumah tangga. Persepsi ini perlu diluruskan karena bisa menimbulkan kesalahpahaman.
Dalam menjalankan rumah tangga, suami dan istri seharusnya bertindak sebagai dua pihak yang bekerja sama. Keduanya dianjurkan untuk saling mendukung dan membantu dalam pekerjaan masing-masing jika diperlukan.
5. Memiliki etika yang baik
Etika yang baik mencakup ucapan, tindakan, sikap, dan sifat. Salah satu contoh dari etika yang baik adalah menghindari kekerasan, termasuk kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
6. Menasihati istri dengan cara yang baik
Khusus bagi suami, penting untuk bersabar jika istri melakukan kesalahan. Menanggapi kesalahan istri dengan cara yang tidak bijak hanya akan melukai perasaannya dan memperburuk situasi.
7. Mencintai istri dengan tulus
Seorang istri akan merasa bahagia jika dicintai karena keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT, bukan karena kekayaan, penampilan, atau keturunannya. Seperti contoh yang diberikan oleh Rasulullah SAW yang selalu mencintai istrinya dengan tulus.
8. Setia
Dalam sebuah pernikahan, kesetiaan berarti keinginan kuat untuk tetap setia pada janji yang telah dibuat, menghadapi segala suka dan duka bersama-sama, serta bekerja sama mencapai cita-cita keluarga dengan menerima segala kelemahan dan kelebihan pasangan.
Pasangan suami istri harus berkomitmen untuk saling menjaga kesetiaan, dan apabila menghadapi kesulitan, mereka harus tetap bersatu untuk mengatasinya bersama-sama.
9. Menghindari hal yang menimbulkan konflik
Keharmonisan dalam rumah tangga bisa berubah-ubah, terkadang tenang, terkadang penuh gairah. Konflik dapat muncul dari hal-hal kecil hingga besar.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)
.png)
5 hours ago
11

















































