loading...
Vicky Arief. Foto/Istimewa
Vicky Arief
Pemerhati Bola dan Produser Film Darah Biru Arema
EMPAT tahun menunggu. Empat tahun menabung emosi. Empat tahun mengumpulkan harapan. Empat tahun merayakan. Dan, ketika pesta sepak bola terbesar di dunia kembali digelar, Indonesia sekali lagi menunjukkan satu hal yang tidak pernah berubah: kecintaan terhadap sepak bola.
Menariknya, kemeriahan itu tetap membuncah meskipun Timnas Indonesia tidak ikut berlaga di putaran final. Garuda memang tak terbang di panggung dunia, tetapi jutaan rakyat Indonesia tetap merayakan turnamen ini layaknya tuan rumah yang sedang berpesta.
Rakyat Indonesia berbondong-bondong begadang demi menyaksikan tim dan pemain yang diidolakan. Maklum, pesta bal-balan terbesar di dunia itu digelar di AS, Meksiko dan Kanada yang memiliki beberapa zona waktu. Di wilayah AS sendiri terdapat zona waktu seperti Eastern (EST), Central (CST), Mountain (MST), dan Pacific (PST).
Banyak warung kopi maupun kafe menggelar nonton bareng hingga dini hari untuk beberapa laga tim-tim calon juara. Bahkan, Polsek hingga Polda turut membuka pintu selebar-lebarnya bagi warga yang ingin menyaksikan Piala Dunia 2026 bersama-sama.
Baca Juga: Sepak Bola dan Organisme Kepercayaan
Di Bali, khususnya di Desa Nyitdah, Tabanan punya tradisi unik dalam merayakan hajatan Piala Dunia. Warga sekitar Desa Nyitdah memasang bendera negara-negara peserta turnamen di sepanjang jalan. Usut punya usut, pemasangan bendera negara-negara Piala Dunia menjadi bagian tak terpisahkan dari setiap perhelatan Euro maupun Piala Dunia sejak satu dekade silam.
Antusiasme tak berhenti sampai di situ. Di Maluku, sepak bola sering kali menjadi sesuatu yang lebih besar. Pasalnya, Maluku punya ruang nostalgia identitas budaya dengan Belanda.
Pemandangan masyarakat Maluku yang mengenakan jersei oranye saat tim nasional Belanda berlaga bukanlah fenomena baru. Bahkan, di sejumlah desa dan kota di Maluku, dukungan terhadap Belanda dalam turnamen besar dunia kerap terlihat begitu kuat. Bagi sebagian orang di luar Maluku, fenomena ini mungkin dianggap unik, bahkan membingungkan. Namun jika ditelusuri lebih jauh, dukungan tersebut memiliki akar sejarah, sosial, dan emosional yang panjang.
.png)










































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5417976/original/049724300_1763555921-InShot_20251119_193350409.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5746528/original/013133300_1778645752-foto_media__78__2.jpg)


