Di tengah polemik Ultra-Processed Food, PATPI dorong kebijakan pangan nasional berbasis sains

9 hours ago 8

Jakarta (ANTARA) – Perdebatan mengenai Ultra-Processed Food (UPF) semakin mengemuka di berbagai negara, termasuk Indonesia. Di tengah berkembangnya beragam persepsi terhadap pangan olahan, Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI) menegaskan pentingnya kebijakan pangan yang berpijak pada bukti ilmiah melalui Seminar Nasional “Membangun Peradaban Teknologi Pangan untuk Future and Healthy Food” di Jakarta, Selasa (14/7).

Forum ini mempertemukan pemerintah, regulator, akademisi, organisasi profesi, dan industri untuk membangun perspektif yang lebih utuh mengenai masa depan sistem pangan Indonesia.

Indonesia saat ini menghadapi tantangan gizi yang semakin kompleks. Selain masih berupaya mengatasi kekurangan gizi, angka obesitas dan penyakit metabolik juga terus meningkat. Di sisi lain, berkembang stigma terhadap pangan olahan yang sering kali hanya dikaitkan dengan tingkat proses pengolahannya, tanpa melihat aspek keamanan, kandungan gizi, maupun inovasi teknologi yang mendukung penyediaan pangan bagi masyarakat.

Melalui seminar ini, PATPI mendorong lahirnya dialog berbasis sains agar kebijakan pangan nasional disusun secara komprehensif dan proporsional.

Ketua Umum PATPI, Prof. Dr. Ir. Giyatmi, M.Si., menegaskan bahwa ilmu pengetahuan harus menjadi fondasi utama dalam penyusunan kebijakan pangan.

“Perdebatan mengenai pangan tidak boleh hanya didasarkan pada persepsi atau tren global. Indonesia membutuhkan kebijakan pangan yang dibangun di atas bukti ilmiah agar mampu menjawab tantangan gizi, keamanan pangan, ketahanan pangan, sekaligus mendorong inovasi industri pangan nasional. Teknologi pangan bukan masalah, melainkan bagian dari solusi,” ujar Prof. Giyatmi.

Seminar menghadirkan Menteri Kesehatan RI, yang diwakili oleh Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas, dr. Maria Endang Sumiwi, MPH., yang memaparkan arah pembangunan kebijakan pangan dan gizi berbasis sains menuju Indonesia Emas 2045, termasuk pengembangan Future Food dan Healthy Food, tantangan miskonsepsi Ultra-Processed Food (UPF), serta kontribusi teknologi pangan dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., menyoroti pentingnya regulasi pangan yang adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Paparannya menekankan penguatan sistem pengawasan pangan berbasis analisis risiko (scientific risk assessment), kebijakan pelabelan, serta fortifikasi sebagai instrumen untuk menjamin keamanan, mutu, dan nilai gizi pangan sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pangan olahan.

Seminar Nasional PATPI tahun 2026 yang merupakan kelanjutan dari hasil FGD UPF pada bulan April yang lalu, menghadirkan para pakar, antara lain Prof.Ir. M. Aman Wirakartakusumah, Ph.D; Prof.Dr.Ir. Hardinsyah, M.S.; Prof.Dr.Ir. Sri Raharjo, M.Sc.; Prof.Dr.Ir. Eni Harmayani, M.Sc.; Prof. Ardiansyah, Ph.D.; Ir. Adhi S. Lukman; Prof.Dr. Yuli Witono, S.TP.,MP.; Prof.Dr.Ir. Purwiyatno Hariyadi, M.Sc. Berbagai perspektif tersebut memperkaya pembahasan mengenai sistem pangan global, inovasi teknologi pangan, reformulasi produk, hingga relevansi klasifikasi UPF dalam konteks Indonesia.

Para akademisi, ilmuwan, regulator, pelaku industri, organisasi profesi, dan pemangku kepentingan yang hadir pada Seminar Nasional PATPI Tahun 2026 dengan tema "Membangun Peradaban Teknologi Pangan Menuju Future and Healthy Food" menyadari bahwa sistem pangan dunia sedang menghadapi perubahan yang sangat cepat akibat pertumbuhan penduduk, perubahan iklim, keterbatasan sumber daya alam, perubahan pola konsumsi, urbanisasi, dan meningkatnya tantangan kesehatan masyarakat, mendeklarasikan future and heathy food (Pangan Masa Depan & Sehat) dan sekaligus menyatakan komitmen untuk:

  1. Menempatkan ilmu pengetahuan sebagai fondasi utama dalam setiap kebijakan pangan dan gizi di Indonesia.
  2. Mengembangkan sistem pangan yang aman, bergizi, sehat, terjangkau, inklusif, dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakat.
  3. Mengakui teknologi pangan dan gizi sebagai bagian dari solusi dalam memperkuat ketahanan dan keamanan pangan, meningkatkan kegunaan dan kualitas gizi, serta melindungi kesehatan masyarakat.
  4. Mendorong inovasi pangan dan gizi yang bertanggung jawab melalui pengembangan teknologi, reformulasi produk, fortifikasi, dan pemanfaatan sumber daya pangan lokal yang bernilai tambah.
  5. Membangun literasi pangan masyarakat berdasarkan bukti ilmiah, sehingga pemahaman terhadap pangan berkembang secara objektif, proporsional, dan kontekstual.
  6. Mengembangkan kebijakan dan regulasi pangan yang berbasis scientific risk assessment, kualitas gizi, keamanan pangan, serta perkembangan ilmu pengetahuan.
  7. Mendorong kolaborasi yang erat antara pemerintah, akademisi, industri, organisasi profesi, media, dan masyarakat dalam membangun ekosistem pangan yang sehat dan berdaya saing.
  8. Menghargai keberagaman sistem pangan, budaya, dan sumber daya hayati Indonesia sebagai modal utama menuju kemandirian dan kedaulatan pangan nasional.
  9. Mendukung transformasi sistem pangan yang adaptif terhadap tantangan global melalui inovasi, keberlanjutan lingkungan, dan penguatan kapasitas sumber daya manusia.
  10. Berkomitmen untuk bersama-sama membangun Peradaban Teknologi Pangan dan Gizi Indonesia yang berlandaskan ilmu pengetahuan, berorientasi pada kesehatan masyarakat, serta berkontribusi bagi kesejahteraan bangsa dan kemanusiaan.

Sebagai tindak lanjut, seminar menghasilkan Policy Brief PATPI 2026 tentang Future and Healthy Food serta Posisi Ilmiah PATPI mengenai Ultra-Processed Food (UPF). Dokumen ini diharapkan menjadi rujukan bagi pemerintah, regulator, akademisi, industri, media, dan masyarakat dalam memperkuat kebijakan pangan berbasis sains menuju Indonesia Emas 2045.

Pewarta: PR Wire
Editor: PR Wire
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online