Fenomena Kaum Rebahan dan Migrasi Baru Asal China di Asia Tenggara

6 days ago 8

loading...

Pakar Hubungan Internasional Edwin MB Tambunan (kiri) hadir bersama Sinolog Pal Nyiri (tengah) dan Ketua FSI Johanes Herlijanto dalam seminar yang digelar bersama FSI dan Program Pascasarjana Ilmu Sosial Politik UPH, Jakarta. Foto: Ist

JAKARTA - Fenomena kaum rebahan semakin marak di China . Sebagian masyarakat di China mencanangkan gaya hidup santai yang dikenal dengan sebutan tangping atau rebahan. Mereka pergi meninggalkan kota besar dan hidup di kota kecil dengan lingkungan yang jauh lebih menyenangkan dengan tekanan yang lebih rendah. Namun, sebagian dari mereka memilih meninggalkan China.

Demikian pemaparan sinolog terkemuka yang mengajar di Budapest University of Economics (Corvinus), Budapest, dan Vrije Universiteit (VU) Amsterdam Prof Dr Pal Nyiri saat menjadi pembicara tunggal dalam seminar berjudul, “From Taojin To Tangping: Southeast Asia, Chinese Migration, and the Waves of China’s Re-globalisation,” yang diselenggarakan bersama Forum Sinologi Indonesia (FSI) dan Program Pascasarjana Ilmu Sosial Politik UPH, Jakarta, Sabtu (17/1/2026).

Seminar dibuka pakar Hubungan Internasional yang juga Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Pelita Harapan (UPH) Prof Edwin MB Tambunan, serta bertindak sebagai moderator dalam acara tersebut yakni Dr Johanes Herlijanto, ketua sekaligus pendiri FSI, yang juga mengajar di Program Magister Ilmu Komunikasi (MIKOM) UPH.

Baca juga: Buat Kaum Rebahan, Ini Cara Dapat Uang dari Internet

Fenomena migran baru asal Republik Rakyat China (RRC) yang oleh para ahli ilmu sosial dijuluki sebagai fenomena xinyimin, bukan hanya mencakup fenomena kedatangan para pekerja asal negara itu untuk bekerja di berbagai proyek yang didanai pinjaman asal RRC.

Memang di Indonesia kehadiran para pekerja asing asal RRC itu mendapatkan perhatian sangat besar bagi masyarakat. Pekerja RRC ini menghadirkan berbagai persoalan sosial antara lain persaingan dengan pekerja nasional Indonesia, ketegangan dengan masyarakat setempat akibat perbedaan budaya, serta permasalahan legalitas yang kerap dilanggar oleh pihak asal RRC.

Selain para pekerja itu, fenomena xinyimin merujuk pula kepada berbagai fenomena migrasi yang jauh lebih menarik untuk diamati dan dipelajari. Fenomena itu bukan hanya menjadi jendela untuk memahami karakteristik masyarakat RRC secara lebih lengkap dan akurat. Ini juga cerminan hubungan yang dinamis antara negara RRC yang berada di bawah kekuasaan Partai Komunis China (PKC) dengan berbagai lapisan masyarakat, termasuk para pejabat dan pengusaha yang selama ini dipersepsikan sebagai simbol kesuksesan RRC.

Baca juga: Multiverse, Global IR, dan Tianxia: Membaca Ulang Dunia di Tengah Kesombongan dan Pengulangan Sejarah

Melalui fenomena migrasi, kita yang tinggal di luar RRC memahami bahwa hubungan antara negara dan masyarakat di negara itu bukan sekadar diwarnai dengan ketaatan dan kepatuhan semata, tetapi juga dengan ketegangan dan perlawanan, meski perlawanan tersebut lebih bersifat perlawanan tersembunyi, dan bukan berupa konflik terbuka.

Salah satu dari fenomena migrasi yang memperlihatkan adanya perlawanan tersembunyi terhadap pihak yang berkuasa di China adalah fenomena migrasi yang terkait erat dengan gaya hidup santai, yang dikenal dengan istilah gaya hidup rebahan alias tangping.

Migrasi ini dapat berupa tren di kalangan masyarakat kelas menengah dan kelas atas di RRC untuk mengirim anak-anak mereka untuk bersekolah di luar China, seperti di Thailand atau Malaysia, serta turut tinggal bersama mereka demi gaya hidup yang lebih santai.

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online