loading...
Great Institute menggelar Focus Great Discussion (FGD) bertajuk Tantangan Ketahanan Energi Indonesia di Tengah Turbulensi Geopolitik. Foto: Istimewa
JAKARTA - Great Institute menggelar Focus Great Discussion (FGD) bertajuk Tantangan Ketahanan Energi Indonesia di Tengah Turbulensi Geopolitik. Ketua Dewan Direktur Great Institute Syahganda Nainggolan menjelaskan FGD itu digelar sebagai upaya kontribusi Great Institute terhadap permasalahan bangsa yang tengah dan mungkin akan dihadapi ke depan seiring perkembangan geopolitik dunia.
Nada itu bukan sekadar formalitas pembuka acara tersebut. Syahganda langsung mengaitkan forum ini dengan realitas global yang sedang bergolak. “Tak bisa dimungkiri, saat ini dunia tengah menghadapi persoalan energi seiring perang di Timur Tengah. Kita lihat, negara-negara tetangga sudah mulai mengalami kenaikan harga BBM sebagai dampak langsung dari perang Iran–Israel–Amerika Serikat,” kata dia di Jakarta, Rabu (1/4/2026).
FGD yang dihadiri puluhan peserta itu mempertemukan sejumlah nama yang kerap muncul di ruang publik—dari ahli energi, ekonom, pejabat, hingga pelaku industri. Hadir antara lain Yudo Dwinanda Priaadi, Irwanuddin Kulla, Indra Kusumawardhana, Mohamad Fadhil Hasan, Kukuh Kumara, Ilham Rizqi Sasmita, Hari Budianto (Sekjen AISI—Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia), Mayjen TNI Priyanto, Pujo Widodo, Anggawira, hingga Sripeni Inten Cahyani yang bergabung secara daring.
Baca juga: Tak Ada Pilihan Lain, Negara-negara Asia Berebut Minyak dari Rusia
Diskusi dipandu peneliti Great Institute Trisha Devita. Paparan Tim Ekonomi Great Institute menjadi salah satu titik pijak diskusi. Mereka menekankan bahwa lonjakan harga minyak global akibat konflik bukan lagi sekadar isu geopolitik, melainkan telah berubah menjadi tekanan fiskal langsung bagi Indonesia.
Dalam materi yang dipresentasikan, harga minyak dunia sempat melonjak hingga mendekati 120 dolar AS per barel, jauh di atas asumsi APBN 2026 yang hanya 70 dolar AS. “Indonesia pasti terimbas perang ini,” kata peneliti Great Institute, Yossi Martino.
“Turbulensi global akibat kenaikan harga minyak dengan nyata berpengaruh pada ekonomi kita.”
Dalam salah satu skenario defisit fiskal terburuk yang disusun Great, defisit anggaran berpotensi melebar hingga 3,80 persen sampai 4,30 persen terhadap PDB dengan asumsi harga minyak bertahan di rentang USD 105-120 per barel. Tekanan ini tidak berdiri sendiri.
Presentasi juga menunjukkan bahwa setiap kenaikan 1 dolar harga minyak dapat menambah beban subsidi energi hingga triliunan rupiah, sekaligus mempersempit ruang fiskal negara. Di sisi lain, Indonesia berada dalam posisi rentan karena cadangan energi nasional relatif tipis—sekitar 20–25 hari konsumsi, jauh di bawah standar ideal 90 hari sebagaimana rekomendasi internasional.
.png)

















































