KAI Perkuat Kereta PSO untuk Ekonomi Rakyat, KA Cikuray dan Kereta Petani-Pedagang Jadi Akses Produktif Masyarakat

7 hours ago 1

Didukung DJKA Kemenhub, KA Cikuray layani 10.448 pelanggan pada 11–17 Juni 2026 dan Kereta Petani-Pedagang Rangkasbitung–Merak telah digunakan 27.824 pelanggan sejak 1 Desember 2025

Jakarta (ANTARA) - PT Kereta Api Indonesia (Persero) memperkuat peran kereta api Public Service Obligation atau PSO sebagai transportasi publik yang aman, terjangkau, dan mendukung aktivitas ekonomi masyarakat. Penguatan tersebut dilakukan melalui penerapan Kereta Ekonomi Kerakyatan pada layanan Pasar Senen–Lempuyangan pulang pergi dan KA Cikuray relasi Garut–Pasar Senen pulang pergi, serta Kereta Petani-Pedagang pada lintas Rangkasbitung–Merak dan KA Cikuray.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, Kereta Ekonomi Kerakyatan dan Kereta Petani-Pedagang dihadirkan agar layanan kereta api semakin sesuai dengan kebutuhan pelanggan harian, petani, pedagang, pelaku UMKM, pekerja, pelajar, keluarga, serta masyarakat yang membutuhkan akses produktif dengan biaya terjangkau.

“Kereta api menghubungkan masyarakat dengan pekerjaan, pendidikan, pasar, layanan publik, dan peluang ekonomi. Melalui layanan PSO, KAI bersama pemerintah ingin memastikan manfaat kereta api semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari pelanggan,” ujar Anne.

Kereta Ekonomi Kerakyatan mulai diperkenalkan kepada masyarakat melalui KA Tambahan Lempuyangan–Pasar Senen pulang pergi pada masa Angkutan Lebaran 2026, periode 11 Maret hingga 5 April 2026. Berdasarkan data terbaru pada periode tersebut, layanan ini mencatat 24.398 pelanggan, terdiri atas 12.262 pelanggan relasi Lempuyangan–Pasar Senen dan 12.136 pelanggan relasi Pasar Senen–Lempuyangan.

Setelah penerapan tersebut, Kereta Ekonomi Kerakyatan juga digunakan pada KA Cikuray relasi Garut–Pasar Senen pulang pergi. KA Cikuray pertama kali beroperasi pada 25 Maret 2022. Sejak 11 Juni 2026, KA Cikuray dilayani dengan Kereta Ekonomi Kerakyatan dan Kereta Petani-Pedagang setelah diluncurkan di Stasiun Garut bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan atau DJKA Kemenhub dan Pemerintah Kabupaten Garut.

Pada periode 11–17 Juni 2026, layanan Kereta Ekonomi Kerakyatan dan Kereta Petani-Pedagang di KA Cikuray mencatat 10.448 pelanggan. Jumlah tersebut terdiri atas 10.426 pelanggan Kereta Ekonomi Kerakyatan dan 22 pelanggan Kereta Petani-Pedagang.

Rinciannya, KA 299A relasi Garut–Pasar Senen melayani 5.700 pelanggan, KA 300A relasi Pasar Senen–Garut melayani 4.726 pelanggan, KA 299PP relasi Garut–Pasar Senen melayani 10 pelanggan petani-pedagang, dan KA 300PP relasi Pasar Senen–Garut melayani 12 pelanggan petani-pedagang pada periode 11–17 Juni 2026.

Dengan penerapan pada KA Tambahan Lempuyangan–Pasar Senen pulang pergi masa Angkutan Lebaran 2026 dan KA Cikuray, Kereta Ekonomi Kerakyatan telah melayani 34.824 pelanggan berdasarkan data terbaru periode 11 Maret–5 April 2026 dan 11–17 Juni 2026.

“Angka ini menunjukkan masyarakat merespons positif Kereta Ekonomi Kerakyatan sejak awal diperkenalkan. Polanya memperlihatkan bahwa layanan dengan kapasitas tempat duduk lebih besar dan tarif terjangkau dibutuhkan pelanggan pada masa puncak perjalanan maupun lintas harian produktif,” kata Anne.

Kinerja KA Cikuray terus tumbuh sejak mulai beroperasi. Pada 2022, KA Cikuray melayani 293.265 pelanggan. Jumlah tersebut menjadi 514.767 pelanggan pada 2023, kemudian 591.089 pelanggan pada 2024, dan mencapai 615.723 pelanggan pada 2025. Sepanjang Januari hingga Mei 2026, KA Cikuray telah melayani 266.993 pelanggan. Secara kumulatif, KA Cikuray telah melayani 2.281.837 pelanggan sejak pertama beroperasi.

KA Cikuray melayani 12 stasiun pemberhentian, yaitu Garut, Cibatu, Leles, Kiaracondong, Bandung, Cimahi, Purwakarta, Cikampek, Karawang, Cikarang, Bekasi, dan Pasar Senen. Lintas ini menghubungkan sentra pertanian dan hortikultura di Garut, pusat pendidikan serta perdagangan di Bandung Raya, kawasan industri di Purwakarta, Karawang, dan Cikarang, hingga pusat aktivitas ekonomi nasional di Jakarta.

Sementara itu, layanan Kereta Ekonomi Kerakyatan pada KA Tambahan Lempuyangan–Pasar Senen pulang pergi menghubungkan Yogyakarta, kawasan Jawa Tengah, Cirebon, hingga Jakarta. Lintas tersebut memiliki bangkitan pelanggan dari sektor pendidikan, pariwisata, perdagangan, pekerja, keluarga, serta perjalanan masyarakat pada masa libur Lebaran.

Profil wilayah tersebut menunjukkan bahwa Kereta Ekonomi Kerakyatan memiliki relevansi kuat pada lintas dengan permintaan perjalanan tinggi. Garut memiliki potensi pertanian, hortikultura, UMKM, dan pariwisata. Bandung Raya menjadi pusat pendidikan, jasa, perdagangan, dan ekonomi kreatif. Purwakarta, Karawang, serta Cikarang memiliki basis industri dan pekerja yang besar, sedangkan Bekasi dan Jakarta menjadi tujuan utama perjalanan kerja, pendidikan, perdagangan, dan layanan publik. Pada lintas Lempuyangan–Pasar Senen, potensi pelanggan berasal dari mobilitas keluarga, pelajar, pekerja, wisatawan, dan pelaku usaha kecil.

Melalui formasi baru, KA Cikuray menggunakan enam Kereta Ekonomi Kerakyatan dan satu Kereta Petani-Pedagang. Kereta Ekonomi Kerakyatan merupakan hasil inovasi pengaturan tempat duduk oleh Balai Yasa Manggarai, dengan kapasitas menjadi 93 tempat duduk per kereta. Dalam satu rangkaian, kapasitas Kereta Ekonomi Kerakyatan mencapai 558 tempat duduk.

Balai Yasa Manggarai berperan dalam penyiapan sarana Kereta Ekonomi Kerakyatan. Inovasi dilakukan melalui penataan tempat duduk agar kapasitas layanan lebih optimal, perjalanan tetap tertib, dan tarif PSO dapat mendukung akses masyarakat terhadap transportasi publik yang terjangkau.

“Balai Yasa Manggarai menjadi bagian penting dari peningkatan layanan sarana penumpang. Melalui inovasi pengaturan tempat duduk pada Kereta Ekonomi Kerakyatan, KAI dapat mengoptimalkan kapasitas layanan dengan tetap menjaga kenyamanan, keselamatan, dan keterjangkauan bagi pelanggan,” ujar Anne.

Sementara itu, Kereta Petani-Pedagang merupakan hasil inovasi sarana dari Balai Yasa Surabaya Gubeng. Kereta ini disiapkan dengan kapasitas 73 tempat duduk, ruang barang yang lebih tertata, kursi menyamping, serta pengaturan interior yang menyesuaikan kebutuhan petani, pedagang pasar, dan pelaku usaha kecil.

Balai Yasa Surabaya Gubeng berperan dalam penyiapan Kereta Petani-Pedagang, mulai dari penataan interior, ruang barang, pengaturan akses naik-turun, hingga aspek keselamatan perjalanan. Sarana ini dirancang agar hasil pertanian, produk olahan, kerajinan, dan barang dagangan kecil dapat dibawa secara lebih tertib dalam perjalanan.

Kereta Petani-Pedagang pertama kali melayani lintas Rangkasbitung–Merak sejak 1 Desember 2025. Berdasarkan data terbaru periode 1 Desember 2025 hingga 17 Juni 2026, layanan ini telah digunakan 27.824 pelanggan.

Rinciannya, Kereta Petani-Pedagang Rangkasbitung–Merak melayani 4.115 pelanggan pada Desember 2025, 4.535 pelanggan pada Januari 2026, 3.558 pelanggan pada Februari 2026, 3.249 pelanggan pada Maret 2026, 4.622 pelanggan pada April 2026, 4.937 pelanggan pada Mei 2026, dan 2.808 pelanggan pada 1–17 Juni 2026. Seluruh angka tersebut menghasilkan total 27.824 pelanggan.

Pada lintas Rangkasbitung–Merak, Kereta Petani-Pedagang dirangkaikan dalam 14 perjalanan Commuter Line Merak setiap hari, terdiri atas tujuh perjalanan Merak–Rangkasbitung dan tujuh perjalanan Rangkasbitung–Merak. Layanan ini melayani 11 stasiun, yaitu Rangkasbitung, Jambu Baru, Catang, Cikeusal, Walantaka, Serang, Karangantu, Tonjong Baru, Cilegon, Krenceng, dan Merak.

Bangkitan pelanggan Kereta Petani-Pedagang di lintas Rangkasbitung–Merak berasal dari wilayah permukiman, sentra pertanian, pasar tradisional, perdagangan lokal, kawasan industri, serta akses menuju Pelabuhan Merak. Aktivitas pelanggan banyak terlihat di Cikeusal, Rangkasbitung, Serang, Cilegon, dan Merak, yang selama ini menjadi simpul mobilitas masyarakat Banten.

“Di lintas Rangkasbitung–Merak, Kereta Petani-Pedagang membantu masyarakat membawa hasil tani, olahan makanan, kerajinan, dan barang dagangan kecil dengan lebih tertib. Manfaatnya dirasakan oleh pelanggan yang menggantungkan aktivitas ekonomi pada perjalanan harian berbasis rel,” kata Anne.

Respons positif terhadap Kereta Petani-Pedagang terlihat pada perjalanan perdana lintas Rangkasbitung–Merak. Sumarni, salah satu pedagang yang mengikuti perjalanan perdana, menyampaikan manfaat layanan ini terhadap aktivitas usahanya.

“Ini sangat berpengaruh pada pendapatan harian kami,” ujar Sumarni.

Menurut Anne, suara pelanggan seperti Sumarni menunjukkan bahwa kebutuhan petani dan pedagang perlu dibaca secara serius dalam perencanaan layanan publik.

“Bagi petani dan pedagang, perjalanan kereta api berkaitan langsung dengan kelancaran usaha mereka. Karena itu, layanan ini kami tata agar lebih tertib, aman, terjangkau, dan mendukung aktivitas ekonomi masyarakat,” ujar Anne.

Untuk menggunakan Kereta Petani-Pedagang, pelanggan yang berprofesi sebagai petani atau pedagang dapat melakukan registrasi di loket stasiun yang melayani pendaftaran. Pelanggan membawa identitas diri, mengisi data, lalu diverifikasi oleh petugas. Setelah terdaftar, pelanggan dapat membeli tiket sesuai ketentuan, kuota, aturan barang bawaan, dan prosedur keselamatan yang berlaku.

Barang yang dapat dibawa meliputi hasil pertanian, produk olahan, kerajinan, serta barang dagangan kecil sesuai ketentuan. Pengaturan barang dilakukan agar perjalanan tetap aman, nyaman, dan tidak mengganggu pelanggan lain.

Dukungan pemerintah melalui skema PSO menjadi bagian penting dari keberlanjutan layanan ini. Pada KA Cikuray, dukungan PSO dari DJKA Kemenhub menjaga tarif relasi terjauh Garut–Pasar Senen tetap Rp45.000. Pada Kereta Petani-Pedagang lintas Rangkasbitung–Merak, dukungan PSO DJKA Kemenhub menjaga tarif tetap Rp3.000 sehingga dapat diakses oleh petani dan pedagang kecil.

“PSO memberi ruang bagi masyarakat untuk memiliki akses transportasi publik yang terjangkau. Ketika biaya perjalanan dapat ditekan, pelanggan memiliki ruang lebih besar untuk kebutuhan keluarga, pendidikan, usaha, dan aktivitas ekonomi lainnya,” ujar Anne.

Ke depan, KAI akan melakukan evaluasi bertahap terhadap pengembangan Kereta Ekonomi Kerakyatan dan Kereta Petani-Pedagang. Penentuan lintas berikutnya akan mempertimbangkan kesiapan sarana di Balai Yasa Manggarai dan Balai Yasa Surabaya Gubeng, pola operasi, keselamatan, kebutuhan pelanggan, potensi bangkitan wilayah, serta koordinasi dengan DJKA Kemenhub.

KAI memprioritaskan lintas yang memiliki potensi petani, pedagang pasar, UMKM, kawasan pendidikan, pekerja, pelanggan harian, serta konektivitas menuju pasar dan pusat aktivitas ekonomi. Relasi berikutnya akan ditetapkan setelah kajian operasional, kesiapan sarana, dan koordinasi regulator selesai.

“Rel menghubungkan orang dengan peluang. Ketika petani lebih mudah menjangkau pasar, pedagang memiliki pilihan perjalanan, pekerja dapat mengakses pusat aktivitas, dan keluarga memperoleh transportasi terjangkau, maka kereta api hadir sebagai bagian dari kehidupan masyarakat,” tutup Anne.

Pewarta: PR Wire
Editor: PR Wire
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online