Motif Polkadot Kembali Digemari, Begini Siklusnya di Dunia Fashion

10 hours ago 8

RAKYAT MERDEKA — Dunia fashion kembali membawa motif klasik ke permukaan. Kini, pola titik-titik alias polkadot mulai banyak muncul dalam berbagai koleksi busana dan gaya selebritas, dari pakaian kasual sampai tampilan yang lebih feminin.

Sebenarnya tersebut bukan sesuatu yang benar-benar baru. Sebab, polkadot sudah berkali-kali mengalami masa kejayaan dan kemudian menghilang dari pusat perhatian. Siklus itu kembali terlihat pada 2026, ketika motif yang identik dengan nuansa retro tersebut mulai mendapat tempat di antara tren fashion masa kini.

Di balik tampilannya yang sederhana, polkadot ternyata memiliki perjalanan sejarah yang panjang.

Dari Era Revolusi Industri hingga Minnie Mouse

Kemunculan polkadot sebagai motif yang mudah diproduksi tidak terlepas dari perkembangan industri tekstil. Melansir Cosmopolitan, kemajuan teknologi selama Revolusi Industri memungkinkan pola titik dibuat dengan susunan yang lebih seragam dan rapi.

Perkembangan mesin jahit serta metode produksi tekstil kemudian membuat kain dengan pola tersebut semakin mudah dibuat dalam jumlah besar. Meski kini identik dengan gaya feminin dan playful, motif titik pada masa awalnya sempat dikaitkan dengan persoalan wabah dan kebersihan.

Istilah “polka dots” sendiri tercatat digunakan dalam media cetak pada 1857. Godey’s Lady’s Book, majalah perempuan asal Amerika Serikat, menggunakan istilah tersebut untuk menggambarkan kain dengan pola titik-titik bulat.

Nama polkadot diyakini berkaitan dengan popularitas tarian polka yang sedang berkembang pesat di Eropa dan Amerika Serikat pada pertengahan abad ke-19. Motif titik yang sebenarnya telah digunakan dalam berbagai bentuk sebelumnya kemudian ikut dikenal dengan nama tersebut.

Popularitasnya semakin berkembang pada abad ke-20. Pada 1926, Norma Smallwood, perempuan pertama dari komunitas Native American yang memenangkan gelar Miss America, tampil menggunakan pakaian renang bermotif titik.

Kemudian Disney membantu membawa polkadot ke budaya populer melalui karakter Minnie Mouse. Sejak era 1930-an, Minnie kerap tampil dengan busana bermotif polkadot sehingga pola tersebut semakin melekat dalam ingatan publik.

Memasuki dekade 1950-an, polkadot semakin identik dengan gaya feminin. Marilyn Monroe dan Elizabeth Taylor termasuk sejumlah figur terkenal yang pernah mengenakannya. Perancang Christian Dior juga memasukkan motif tersebut ke dalam koleksi New Look dan salah satu desain polkadotnya menjadi koleksi terlaris pada 1954.

Pada 1960-an, polkadot kembali mendapat tempat dalam gaya mod yang populer di kalangan anak muda. Figur seperti Twiggy dan Goldie Hawn turut memperkuat popularitasnya.

Motif tersebut kemudian kembali muncul dalam gaya sejumlah ikon budaya pop pada dekade 1980-an dan 1990-an, termasuk Princess Diana, Julia Roberts, dan Prince.

Kini, polkadot kembali terlihat dalam penampilan sejumlah selebritas dan figur populer. Ariana Grande, Olivia Rodrigo, hingga idol Korea Selatan Jung Chae-yeon menjadi beberapa nama yang turut membawa motif tersebut ke dalam gaya masa kini.

Mengapa Tren Lama Bisa Kembali?

Kemunculan kembali polkadot menunjukkan bahwa tren fashion tidak selalu bergerak maju secara lurus. Gaya yang pernah dianggap ketinggalan zaman justru dapat kembali terlihat menarik setelah beberapa waktu.

Fenomena tersebut dibahas dalam penelitian berjudul The Logic of Fashion Cycles. Penelitian itu menggunakan model matematika untuk melihat bagaimana selera terhadap suatu gaya dapat menyebar dari satu orang ke orang lain.

Polanya cukup sederhana. Sebuah gaya yang awalnya hanya digunakan oleh sebagian kecil orang dapat semakin populer setelah dilihat dan diikuti lebih banyak orang. Namun, ketika gaya tersebut sudah terlalu umum, daya tariknya dapat menurun dan orang mulai mencari sesuatu yang berbeda.

Setelah cukup lama tidak terlihat, gaya lama tersebut bisa kembali dianggap menarik. Generasi baru bahkan dapat melihatnya sebagai sesuatu yang fresh karena mereka tidak mengalami langsung masa ketika tren tersebut pertama kali populer.

Penelitian itu juga menunjukkan bahwa tren yang naik dengan sangat cepat berpotensi mengalami penurunan popularitas dalam waktu relatif cepat.

Perkembangan teknologi turut mengubah bagaimana siklus tersebut berlangsung. Studi yang dimuat dalam Fashion and Textiles menyebut informasi mengenai tren dapat menyebar melalui runway, influencer fashion, hingga peritel daring. Internet dan komunitas digital membuat proses penyebaran tren berlangsung semakin cepat.

Hal inilah yang membuat kebangkitan polkadot pada 2026 tidak sekadar menjadi nostalgia terhadap fashion masa lalu. Motif lama tersebut dapat diberi interpretasi baru melalui potongan pakaian, perpaduan warna, serta cara styling yang berbeda.

Pada akhirnya, polkadot menjadi contoh bahwa sesuatu yang pernah dianggap kuno tidak selalu benar-benar hilang. Dalam dunia fashion, sebuah tren hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk kembali terlihat menarik.

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online