PRESIDEN Prabowo Subianto mengatakan politik pecah belah atau devide et impera masih terjadi hingga saat ini. Ia menilai banyak pihak yang ingin mengadu domba bangsa agar bisa mengambil keuntungan dari sumber daya alam.
Menurut Ketua Umum Partai Gerindra itu, politik adu domba bukan hanya dilakukan di era kolonial. "Devide et impera itu bukan tulisan di buku-buku sejarah, itu nyata. Divide et impera nyata," kata Prabowo saat berpidato di hadapan Kamar Dagang dan Industri Indonesia atau Kadin di Istana Negara, Jakarta, Jumat, 31 Juli 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Prabowo mengatakan negara-negara yang kaya sumber daya alam seperti mendapat kutukan. Sebab, mereka menjadi sasaran pihak-pihak yang mencari untung lewat memancing keributan.
Ia memberi contoh kawasan Timur Tengah yang kaya akan minyak, gas, dan mineral. Di sana, kata Prabowo, berkecamuk perang hingga ratusan tahun. "Ini bisa juga dikatakan the curse, orang atau negara ataupun kawasan yang diberi sumber daya alam yang begitu kaya sering menjadi sasaran," tuturnya.
Prabowo mengatakan Indonesia termasuk negara yang sangat besar dan kaya. Karena itu bangsa asing menjajahnya hingga ratusan tahun. "Hukum manusia, hukum alam itu, kekayaan menimbulkan rasa iri. Kita selalu menjadi sasaran selama ratusan tahun," kata mantan menteri pertahanan ini.
Presiden Prabowo menyampaikan pidato tersebut di hadapan para pengusaha dari Kadin Indonesia di Istana Kepresidenan Jakarta. Sekitar 150 pengusaha tampak hadir pada Jumat pekan ini.
Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakire mengatakan seluruh pimpinan Kadin dari 38 provinsi menghadiri undangan Presiden Prabowo. "Mereka ingin berdiskusi mengenai bagaimana bersama-sama bisa meningkatkan ekonomi dari daerah," kata Anindya di Istana.
.png)
















































