PSI Memilih Politik Jalan Tengah, Apa Artinya?

7 hours ago 6

INFO TEMPO - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) membangun wajah baru sebagai partai yang terbuka bagi semua golongan. Di tengah stigma lama dan target menembus Senayan pada 2029, partai berlambang gajah ini memilih jalan tengah dan menjadikan kritik sebagai bahan untuk berbenah.

Ketua Harian Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PSI Ahmad Ali mengatakan PSI mengusung gagasan utama politik jalan tengah, yang artinya mengakomodasi semua golongan dan menghapus sekat identitas. Politik jalan tengah, menurut Ahmad Ali, juga dapat dimaknai PSI menjadi rumah politik yang nyaman bagi semua. "Tidak boleh ada sekat berdasarkan agama, suku, ataupun latar belakang seseorang," katanya. 

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Gagasan tersebut menjadi bagian penting dari upaya rebrandingPSI. Ahmad Ali menyadari citra lama partai telah membentuk persepsi tertentu di masyarakat. Salah satunya adanya anggapan bahwa PSI merupakan partai yang anti-Islam.

Ia menilai persepsi itu tidak terlepas dari sejarah awal PSI. Ketika berdiri pada 16 November 2014, partai ini, antara lain, membawa isu penolakan poligami dengan harapan membangun basis konstituen perempuan yang kuat. "Itu tidak salah," tuturnya. Hanya, kata dia, dilihat dalam perspektif yang lebih luas, pendekatan tersebut dapat membuat arah partai terlihat tidak jelas karena membawa isu agama ke dalam politik. 

Karena itu, PSI kini ingin mengubah pakem. Identitas privat seseorang tidak lagi menjadi ukuran utama dalam menentukan siapa yang bisa bergabung. "Kami tidak lagi bicara tentang ‘warna-warna’ itu," ujarnya. "Jadi, siapa pun, dari agama, suku, dan latar belakang apa pun, datang ke sini (PSI) pasti nyaman."

Melawan Stigma dengan Aksi

Mengubah citra tentu tidak semudah mengganti slogan dan Ahmad Ali tidak memilih perang narasi. Ia justru mencari orang-orang yang masih kecewa, marah, bahkan memaki PSI. Dalam setiap kunjungan ke daerah, kritik semacam itu justru dicari. "Kalau hanya dipuji, kami tidak akan tahu apa yang sebenarnya menjadi keinginan masyarakat," katanya.

Bagi Ahmad Ali, kemarahan masyarakat merupakan bentuk informasi. Ia mengatakan aktivitas tersebut sebagai “belanja masalah”—mendatangi masyarakat untuk mengetahui persoalan yang mereka hadapi sekaligus menemukan apa yang harus dibenahi partai. Selama masih ada orang yang marah kepada PSI, menurut dia, masih ada kesempatan bagi partai untuk memperbaiki diri.

Salah satu program yang tengah disiapkan adalah menyelenggarakan istigasah atau doa kebangsaan secara rutin pada pekan pertama setiap bulan di seluruh cabang PSI. "Tidak perlu banyak bicara. Action saja. Kalau kami melakukan itu, masih pantaskah disebut partai anti-Islam? Biarkan masyarakat yang menilai," katanya.

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online