Robot Miliki Rahim di China Ternyata Hoaks, Apakah Teknologi Itu Bisa Terwujud di Masa Depan?

15 hours ago 4

Jakarta -

Kabar China mengembangkan robot dengan rahim sempat membuat heboh media sosial. Dalam sekejap, kabar ini menjadi viral. Namun, kabar ini setelah ditelusuri ternyata hoaks. Namun, apakah teknologi ini bisa terwujud di masa depan?

Ilmuwan di China mengklaim berhasil menciptakan robot dengan rahim untuk mengandung bayi. Namun, laporan tersebut belum terbukti. LiveScience menegaskan bahwa klaim tersebut belum ada bukti penelitiannya di lembaga ilmiah resmi. Bahkan pihak universitas yang dikaitkan dengan kabar tersebut membantah keterlibatannya.

Kabar hoaks China mengembangkan robot bisa hamil

Berita tentang robot kehamilan yang dikembangkan di Tiongkok tersebar di linimasa. Gambar-gambar tersebut menampilkan bayi manusia yang meringkuk di dalam perut robot berlapis krom, lengkap dengan kabel yang terlihat dan lekuk tubuh yang indah. Namun, robot ini tidak memiliki kelenjar susu. 

Sejumlah media, termasuk Newsweek, The Economic Times, dan ChosunBiz, menyebut bahwa sebuah media Tiongkok, Kuai Ke Zhi, yang menjadi sumber berita tersebut. Zhang Qifeng, pengembang bot yang dirancang untuk membantu proses kehamilan dari konsepsi hingga kelahiran, dilaporkan memberi tahu media bahwa prototipenya akan siap paling cepat pada 2026 dengan harga di bawah 100.000 yuan (sekitar US$13.900 atau sekitar Rp228 juta).

"Beberapa orang tidak ingin menikah tetapi tetap menginginkan 'istri'; beberapa tidak ingin hamil tetapi tetap menginginkan anak," kata Zhang, dari Newsweek. 

Teknologi rahim buatan tersebut hanya perlu ditanamkan di perut robot agar manusia sungguhan dan robot dapat berinteraksi untuk mencapai kehamilan. Namun, sifat interaksi manusia-robot tersebut tidak dijelaskan secara rinci.

Zhang disebut sebagai CEO atau pendiri Kaiwa Technology, sebuah perusahaan yang berbasis di Guangzhou, atau sebagai seorang PhD yang berafiliasi dengan Universitas Teknologi Nanyang (NTU) Singapura. Karena tidak menemukan bukti daring tentang Kaiwa Technology, Live Science menghubungi NTU mengenai dugaan afiliasi mereka dengan Zhang Qifeng.

"Kami ingin memberi tahu Anda bahwa tidak ada seorang pun bernama 'Zhang Qifeng' yang lulus dari NTU dengan gelar PhD," kata juru bicara NTU kepada LiveScience melalui email. "Pemeriksaan kami juga menunjukkan tidak ada penelitian 'robot kehamilan' semacam itu yang dilakukan di NTU."

Dengan begitu banyak bukti yang menunjukkan bahwa Zhang dan perusahaannya tidak ada. Apalagi fakta bahwa rahim buatan itu belum ada, baik dalam bentuk stasioner maupun yang dicangkokkan ke robot. 

Tentang rahim buatan di masa depan

Berita viral ini menimbulkan pertanyaan tentang potensi teknologi rahim buatan. Mungkinkah membangun robot kehamilan? Ataukah konsepnya hanya fiksi ilmiah belaka? 

"Haruskah kita melakukannya? Jawaban saya pasti 'tidak,'" kata Dr. Harvey Kliman, direktur Unit Penelitian Reproduksi dan Plasenta di Fakultas Kedokteran Universitas Yale.

"Meskipun demikian, secara intelektual, saya pikir menarik untuk memikirkan tantangannya karena ini membantu kita benar-benar merenungkan keindahan dan keajaiban kehamilan normal."

Dilansir dari Wired, di masa depan kemungkinan rahim manusia tidak lagi diperlukan untuk melahirkan anak. Pada 2016, sebuah tim peneliti di Cambridge, Inggris, menumbuhkan embrio manusia dalam ektogenesis—proses kehamilan manusia atau hewan dalam lingkungan buatan—hingga 13 hari setelah pembuahan.

Terobosan lebih lanjut datang pada tahun berikutnya, ketika para peneliti di Children’s Hospital of Philadelphia (CHOP) mengumumkan bahwa mereka telah mengembangkan perangkat seperti rahim yang disebut EXTrauterine Environment for Neonatal Development (EXTEND), yang pada dasarnya merupakan rahim buatan, untuk memelihara janin domba yang sangat prematur di luar kandungan hingga 4 minggu, mendukung pertumbuhan dan perkembangan normal. 

Hewan-hewan tersebut dipelihara dalam lingkungan cair (Biobag) sementara nutrisi dan pertukaran gas didukung melalui kateter umbilikalis dan penggunaan oksigenator membran eksternal. Harapan akhirnya adalah untuk mendukung bayi yang lahir sangat prematur, antara usia kehamilan 23 dan 28 minggu.

Biobag berhasil menopang janin domba, yang ukuran dan perkembangannya setara dengan janin manusia pada usia kehamilan sekitar 22 minggu, hingga cukup bulan. Harapan akhirnya adalah untuk mendukung bayi yang lahir sangat prematur, antara usia kehamilan 23 dan 28 minggu.

Kemajuan terbaru telah menurunkan angka kematian yang terkait dengan kelahiran prematur, tetapi masalah kesehatan, termasuk penyakit paru-paru kronis dan masalah perkembangan saraf, tetap menjadi perhatian besar bagi bayi yang lahir prematur.

Untuk mengurangi risiko ini, para peneliti CHOP bertujuan untuk menciptakan lingkungan seperti rahim tempat bayi dapat ditempatkan setelah melahirkan untuk membantu mereka melewati minggu ke-28.

Tim EXTEND berencana untuk segera melakukan uji coba pada manusia, meskipun masih ada pertanyaan tentang kapan dan bagaimana etisnya pengujian perangkat ini, mengingat banyak bayi prematur memiliki peluang untuk bertahan hidup dengan teknologi yang ada.

"Pada manusia, beberapa minggu tidaklah cukup," kata Dr. Lusine Aghajanova, spesialis fertilitas dan profesor klinis obstetri dan ginekologi di Stanford Medicine, merujuk pada lamanya uji coba yang telah dilakukan sejauh ini pada domba. 

"Studi tersebut menunjukkan bahwa konsep ini mungkin saja terwujud, tetapi lebih rumit dari yang kita duga," ujarnya kepada Live Science.

Para pengembang EXTEND telah menekankan bahwa perangkat ini dimaksudkan sebagai jembatan bagi bayi prematur yang berpindah dari rahim ke dunia; perangkat ini tidak dimaksudkan untuk digunakan untuk mendorong viabilitas janin sebelum usia 23 minggu.

Tentu saja, cara tersebut berbeda antara mempertahankan bayi yang sakit agar tetap hidup dan mengandung bayi sejak pembuahan di robot kehamilan Kaiwa palsu.

Penelitian lainnya tentang rahim buatan juga dilakukan pada bulan Agustus 2022, para peneliti di Institut Sains Weizmann di Israel menciptakan embrio sintetis pertama di dunia dari sel punca tikus. Pada bulan yang sama, para ilmuwan di Universitas Cambridge menggunakan sel punca untuk menciptakan embrio sintetis dengan otak dan jantung yang berdetak.

Ektogenesis (rahim buatan) berpotensi mengubah proses reproduksi dan mengurangi risiko yang terkait dengan reproduksi. Hal ini memungkinkan orang dengan rahim untuk bereproduksi semudah pria cisgender: tanpa risiko terhadap kesehatan fisik, keamanan ekonomi, atau otonomi tubuh mereka.

Dengan menghilangkan kehamilan alami dari proses memiliki anak, ektogenesis dapat menawarkan titik awal yang setara bagi semua jenis kelamin dan gender, terutama bagi kaum queer yang ingin memiliki anak tanpa harus bergantung pada pilihan surrogasi yang ambigu secara moral.

Namun, perkembangan ektogenesis juga menjadi perdebatan karena dianggap dapat menghancurkan hak perempuan dan orang dengan rahim, yang telah diperjuangkan dengan keras, untuk mengakses aborsi yang aman dan legal, dan dapat secara signifikan melemahkan kebijakan aborsi di seluruh dunia.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online