Rupiah Kian Krasan di Kisaran Rp18.000, Apa Penyebabnya?

5 hours ago 3

loading...

Nilai tukar rupiah cenderung melamah dan semakin betah di kisaran Rp18.000 per dolar AS. FOTO/dok.SindoNews

JAKARTA - Nilai tukar rupiah cenderung melamah dan semakin betah di kisaran Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) di tengah meningkatnya tekanan dari faktor global maupun domestik. Memanasnya konflik di Timur Tengah, kenaikan imbal hasil obligasi AS, serta tantangan fiskal dalam negeri menjadi faktor utama yang membebani pergerakan mata uang Garuda.

"Komando Pusat AS (Centcom) mengatakan telah memulai serangkaian serangan terhadap Iran, yang bertujuan untuk memberikan apa yang digambarkan sebagai 'biaya berat' atas serangan Teheran terhadap pelayaran komersial," kata Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam pernyataannya, Rabu (8/7/2026).

Baca Juga: Lagi-lagi, Rupiah Kembali Tembus Rp18.000 per Dolar AS

Pada penutupan perdagangan Rabu, rupiah ditutup melemah 34 poin menjadi Rp18.014 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya Rp17.980 per dolar AS. Pelemahan tersebut terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global akibat memanasnya hubungan antara Amerika Serikat dan Iran.

Menurut Ibrahim, ketegangan di kawasan Selat Hormuz kembali memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas pasokan minyak dunia. Situasi itu diperburuk oleh keputusan AS yang menarik konsesi penjualan minyak Iran sehingga menambah ketidakpastian di pasar keuangan global. "Kembalinya permusuhan dan tanda-tanda masalah pelayaran yang lebih besar di Hormuz kembali memicu kekhawatiran tentang gangguan pasokan di Timur Tengah," ujarnya.

Selain faktor geopolitik, rupiah juga tertekan oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang membuat aset berbasis dolar semakin menarik bagi investor global. Ibrahim mencatat imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 5,5 basis poin menjadi 4,525 persen, sementara pelaku pasar masih menantikan risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) Juni 2026 untuk mencari petunjuk arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve.

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online