INFO TEMPO – Kota Malang dipercaya menjadi pelaksanaan Penyelenggaraan Aksi Satpol PP dan Satlinmas Mewujudkan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) yang diinisiasi Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Republik Indonesia yang dipusatkan di Alun-alun Merdeka Kota Malang, Jumat, 10 Juli 2026. Gerakan nasional peduli lingkungan ini tidak hanya diikuti ribuan peserta secara langsung, tetapi juga diikuti dan disaksikan secara daring oleh pemerintah daerah di berbagai provinsi di Indonesia.
Pemilihan Kota Malang bukanlah keputusan yang lahir dalam ruang kosong. Dalam beberapa tahun terakhir, Kota Malang secara konsisten membangun tata kelola lingkungan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Pengelolaan sampah diperkuat dari hulu hingga hilir melalui pengembangan bank sampah dan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R), edukasi pemilahan sampah sejak rumah tangga, hingga penguatan kolaborasi bersama komunitas lingkungan, dunia pendidikan, pelaku usaha, dan masyarakat.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Berbagai langkah tersebut mengantarkan Kota Malang memperoleh apresiasi nasional hingga internasional, di antaranya Sertifikat Menuju Kota Bersih dari Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia, peringkat ketujuh nasional dan terbaik kedua di Jawa Timur dalam penilaian Adipura, serta menjadi bagian dari kota-kota penerima penghargaan The 6th ASEAN Enviromentally Sustainable Cities (ESC) Award and 5th Certificates of Recognition (CoR).
Komitmen tersebut tidak berhenti pada pengelolaan sampah. Pemerintah Kota Malang juga menghidupkan kembali budaya kerja bakti, menata ruang publik, hingga mendorong berbagai aksi bersih lingkungan yang melibatkan masyarakat dari tingkat RT dan RW, sekolah, perguruan tinggi, komunitas, dunia usaha, hingga aparatur pemerintah. Serangkaian langkah itu menjadi fondasi yang memperkuat alasan pemerintah pusat mempercayakan Kota Malang sebagai tuan rumah pelaksanaan gerakan nasional Indonesia ASRI.
Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri, Safrizal Zakaria Ali, mengatakan Gerakan Indonesia ASRI merupakan implementasi arahan Presiden Prabowo Subianto agar seluruh kementerian, lembaga, pemerintah daerah, hingga masyarakat bergerak bersama membangun budaya peduli lingkungan.
"Ini sebuah gerakan peduli lingkungan untuk tetap bersih dan sehat, mengurangi timbulan sampah, serta mengelola sampah secara bijak. Lingkungan yang bersih akan menciptakan masyarakat yang sehat, dan ketika lingkungan menjadi indah, masyarakat pun akan semakin nyaman tinggal di kota maupun kabupaten," tuturnya.
Menurut Safrizal, Indonesia ASRI bukan sekadar gerakan memungut sampah. Pemerintah daerah didorong membangun ekosistem lingkungan yang berkelanjutan melalui budaya gotong royong, penataan reklame dan baliho agar tidak mengganggu estetika kota, penghijauan kawasan, penguatan ruang publik, hingga pembiasaan menjaga kebersihan di sekolah, perkantoran, dan kawasan permukiman.
Bagi Pemerintah Kota Malang, semangat Indonesia ASRI sesungguhnya telah menjadi bagian dari arah pembangunan daerah. Dalam visi Menuju Malang Mbois Berkelas (Mandiri, Berbudaya, Optimis, Indah, dan Sejahtera melalui pembangunan yang Berkelanjutan, Kolaboratif, Efisien, Lestari, Adaptif, dan Sinergis), lingkungan ditempatkan sebagai salah satu fondasi utama kualitas hidup masyarakat. Pembangunan tidak hanya dimaknai sebagai pembangunan fisik, tetapi juga menghadirkan kota yang sehat, teduh, tertata, dan berkelanjutan.
Arah tersebut kemudian diterjemahkan melalui Dasa Bakti Unggulan, yang salah satunya menempatkan penguatan kualitas lingkungan hidup sebagai bagian dari pembangunan kota. Pemerintah Kota Malang memperkuat tata kelola persampahan, memperbaiki kualitas infrastruktur lingkungan, mengembangkan ruang terbuka yang nyaman, serta mendorong keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan kawasan tempat tinggalnya. Berbagai kebijakan itu diwujudkan melalui gerakan Ngalam Rijik dan Ngalam Seger, yang saling melengkapi dalam membangun kota yang bersih, sehat, dan hijau.
Pendekatan itu lahir dari kesadaran bahwa persoalan lingkungan tidak dapat diselesaikan hanya dengan memperbesar kapasitas tempat pemrosesan akhir. Karena itu, Pemerintah Kota Malang menggeser fokus kebijakan pada penguatan pengelolaan di tingkat hulu. Rumah tangga didorong melakukan pemilahan sampah sejak dari sumber, bank sampah diperkuat sebagai bagian dari ekonomi sirkular, sementara TPS3R dioptimalkan agar volume sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir terus berkurang. Lingkungan tidak lagi dipandang semata sebagai objek yang harus dibersihkan, tetapi sebagai ruang hidup yang harus dijaga bersama.
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, mengungkapkan kepercayaan dari Kementerian Dalam Negeri menjadi motivasi bagi Pemerintah Kota Malang untuk terus memperkuat berbagai gerakan lingkungan yang selama ini telah berjalan.
Menurutnya, nilai-nilai yang diusung dalam Gerakan Indonesia ASRI sejatinya telah tumbuh dalam aktivitas keseharian masyarakat. Kerja bakti rutin di lingkungan RT dan RW, aksi kebersihan di sekolah, kecamatan, hingga perkantoran telah berkembang menjadi budaya yang dipelihara bersama.
"Gerakannya sudah berjalan dari tingkat RT, RW, kecamatan, sekolah sampai perkantoran. Setiap hari-hari tertentu, termasuk setiap Jumat, kami melaksanakan senam bersama kemudian dilanjutkan kegiatan bersih-bersih di lingkungan masing-masing. Jadi gerakan ini sebenarnya sudah menjadi budaya di Kota Malang," ujarnya.
Komitmen menjaga kualitas lingkungan juga diwujudkan melalui penataan ruang publik. Pemerintah Kota Malang secara bertahap menertibkan reklame dan baliho yang tidak sesuai ketentuan untuk mengembalikan kualitas visual kota. Penataan kawasan pedagang kaki lima pun dilakukan melalui pendekatan yang lebih humanis dengan menyiapkan lokasi relokasi sehingga ruang publik tetap tertata tanpa menghilangkan ruang usaha masyarakat.
Dari Alun-alun Merdeka, semangat Indonesia ASRI bergema ke berbagai penjuru Indonesia dengan membawa satu pesan sederhana, ‘lingkungan yang lestari tidak lahir dari satu aksi besar, melainkan dari ribuan tindakan kecil yang dilakukan berulang setiap hari. Mulai dari membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah dari rumah, menjaga kebersihan lingkungan, hingga bergotong royong akan memberi makna ketika menjadi kebiasaan, yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dan menjelma menjadi budaya yang menjaga masa depan kota. (*)
.png)

















































