Jakarta -
Pemberian antibiotik saat hamil sering diresepkan untuk mengatasi penyakit akibat infeksi bakteri. Sama seperti obat lainnya, konsumsi antibiotik ini harus dengan resep dokter untuk memastikan dosisnya tepat.
Sejauh ini, keamanan antibiotik saat hamil sudah banyak diteliti, Bunda. Baru-baru ini, studi yang diterbitkan di Plos Medicine mengungkap bahwa pemberian antibiotik pada kehamilan atau enam bulan pertama kehidupan dikatakan aman dan tidak meningkatkan risiko penyakit autoimun pada anak.
"Secara keseluruhan, analisis nasional ini memberikan kepastian bagi keluarga dan dokter. Ketika antibiotik diresepkan untuk infeksi yang jelas pada kehamilan atau masa awal kehidupan bayi, risiko jangka panjang penyakit autoimun pada anak-anak tampak minimal," demikian isi studi, dikutip dari laman News Medical.
Studi kohort ini dilakukan menggunakan basis data klaim terkait ibu dan anak dari Korea's National Health Insurance Service untuk kelahiran April 2009 hingga Desember 2020. Anak-anak yang terpapar antibiotik selama kehamilan atau awal masa kehidupannya lalu dibandingkan dengan mereka yang tidak terpapar.
Meski hasilnya positif, peneliti menemukan adanya peningkatan risiko penyakit Crohn pada subkelompok yang menggunakan jenis antibiotik sefalosporin. Kasus peningkatan risiko tiroiditis autoimun juga ditemukan pada analisis bayi laki-laki di dua bulan pertama kehidupan.
"Sinyal untuk penyakit Crohn dengan paparan prenatal tertentu dan untuk tiroiditis autoimun pada bayi laki-laki setelah paparan yang sangat dini memerlukan tindak lanjut yang hati-hati," kata tim penulis.
Keamanan antibiotik saat hamil
Antibiotik adalah jenis obat yang sering diresepkan saat sakit. Menurut ulasan di Pharmacotherapy: American College of Clinical Pharmacy (ACCP) tahun 2015, sekitar 80 persen obat yang diresepkan selama kehamilan adalah antibiotik.
Obat antibiotik diresepkan untuk mengatasi infeksi bakteri. Perlu diketahui, infeksi bakteri tidak boleh dibiarkan tanpa pengobatan selama hamil karena bisa menyebabkan efek negatif bagi Bunda dan janin.
Dilansir Mayo Clinic, keamanan antibiotik saat hamil akan bergantung pada banyak faktor. Faktor-faktor tersebut meliputi jenis antibiotik, kapan Bunda mengonsumsinya selama kehamilan, berapa lama konsumsinya, dan berapa banyak dosis yang dikonsumsi.
Menentukan keamanan obat saat hamil juga berkaitan dengan plasenta. Dikutip dari GoodRx, plasenta adalah organ yang dibentuk tubuh saat hamil, yang memungkinkan nutrisi mencapai janin.
Antibiotik diketahui dapat melewati plasenta dan mencapai janin, Bunda. Beberapa antibiotik masih dianggap aman meskipun melewati plasenta. Namun, ada juga jenis antibiotik yang tidak aman sama sekali atau hanya aman pada tahap kehamilan tertentu.
Berikut beberapa jenis antibiotik yang dianggap aman untuk dikonsumsi selama hamil:
- Penisilin, termasuk amoksisilin (Amoxil, Larotid) dan ampisilin
- Sefalosporin, seperti sefaklor dan sefaleksin
- Klindamisin (Cleocin, Clinda-Derm)
- Metronidazol (Flagyl, Metrogel), dapat digunakan di tahap tertentu kehamilan
Sementara itu, beberapa antibiotik ada juga yang diduga dapat menimbulkan risiko selama kehamilan dan bisa memengaruhi perkembangan bayi, di antaranya:
- Tetrasiklin: tidak disarankan untuk digunakan setelah minggu kelima kehamilan karena dapat memengaruhi pertumbuhan tulang.
- Nitrofurantoin (Furadantin): dapat meningkatkan risiko bibir sumbing bila diberikan pada trimester pertama.
- Antibiotik makrolida seperti eritromisin, klaritromisin, dan azitromisin telah dikaitkan dengan gangguan irama jantung dan kelahiran prematur pada janin.
- Antibiotik golongan fluorokuinolon meliputi siprofloksasin (Sipro), levofloksasin, dan moksifloksasin berisiko menyebabkan cacat lahir.
Demikian studi terbaru yang mengungkap manfaat serta risiko penggunaan antibiotik saat hamil. Semoga informasi ini bermanfaat.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)