Tak Kunjung Dibayar, Kahudi Wahyu Widodo Desak Manajemen PSIS Selesaikan Kewajiban

18 hours ago 9

Bola.com, Sleman - Mantan pelatih PSIS Semarang, Kahudi Wahyu Widodo, kembali menegaskan sikap terkait polemik hak finansial yang hingga kini belum diselesaikan oleh pihak manajemen PT Mahesa Jenar Semarang.

Kahudi mengungkapkan bahwa dirinya masih memiliki hak pembayaran yang belum dibayarkan PSIS Semarang saat menangani tim pada musim lalu. Kondisi itu disebutnya mencakup tunggakan selama dua bulan.

Rinciannya, satu bulan merupakan gaji berjalan, sementara satu bulan lainnya yakni kompensasi pemutusan kontrak yang sampai sekarang belum ia diterima.

"Saya tidak ingin masalah internal klub dijadikan alasan untuk menyelesaikan masalah ini. Kami tahu profesionalisme dan harus menghormati perjanjian kerja sama," ujarnya pada Sabtu (6/6/2026).

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Kembalikan Fasilitas Mobil

Selain menuntut penyelesaian hak finansial, Kahudi juga mengambil langkah dengan mengembalikan fasilitas kendaraan operasional yang sebelumnya diberikan oleh pihak klub.

Keputusan tersebut diambil untuk menghindari potensi kesalahpahaman maupun konflik hukum di kemudian hari antara dirinya dan manajemen klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar itu.

Eks asisten pelatih PSBS Biak itu menyampaikan permohonan maaf atas situasi yang terjadi, sembari menegaskan bahwa langkah itu diambil semata-mata untuk memperjelas status hak dan kewajibannya.

"Mohon maaf atas apa yang saya lakukan, karena saya hanya ingin hak saya segera diselesaikan. Saya tidak ingin ada masalah dengan kendaraan yang ada di saya," ucap Kahudi.

Sayangkan Tata Kelola Klub

Pelatih berusia 47 tahun itu juga menyoroti adanya perbedaan pandangan terkait pelaksanaan kontrak kerja, khususnya ketika ada kesepakatan di luar dokumen resmi yang dinilai tidak dapat dijadikan acuan utama.

Menurut Kahudi, segala bentuk kerja sama profesional semestinya tetap berpegang pada kontrak tertulis yang sudah disepakati sejak awal, bukan pada komunikasi atau kesepakatan informal.

"Tidak profesional apa yang ada di kontrak kerja saya, seharusnya itu yang dibuat dasar. Jangan bicara perseorangan. Kalau ada kesepakatan di luar itu, ya berarti urusan internal perusahaan," katanya.

Mantan pelatih Persijap Jepara tersebut menyayangkan adanya persoalan seperti ini di tengah perkembangan positif sepak bola Indonesia. Ia berharap ke depan tata kelola klub bisa lebih baik lagi.

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online