Tujuan Rahasia Trump dalam Perang Iran: Bukan Nuklir, Minyak, Rudal Balistik, tapi Mencekik China!

12 hours ago 6

loading...

Para pakar menilai tujuan rahasia Presiden AS Donald Trump dalam perang melawan Iran adalah untuk mencekik China. Foto/The Australian

JAKARTA - Perang Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap Iran terbuka untuk berbagai interpretasi tergantung pada audiensnya. Interpretasi ini berkisar dari penghancuran kapasitas nuklir Teheran untuk melumpuhkan kebijakan mereka dalam membantu dan mendukung proksi mereka seperti Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, dan Hamas di Palestina, hingga promosi demokrasi dengan mengubah rezim fundamentalis Islam.

Namun, sekarang tampaknya ada konsensus yang berkembang di antara para pakar tentang penjelasan lain dari perang Trump yang sedang berlangsung. Dengan menggabungkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari dengan serangan terhadap Venezuela pada 3 Januari, penjelasan tersebut adalah bahwa di balik semua ini ada tujuan utama yang “strategis”. Itu adalah pencekikan terhadap China. Baca Juga: Iran Akui Dapat Bantuan Militer Rusia dan China dalam Perang Melawan AS-Israel

Seperti yang disampaikan Hongda Fan, direktur Pusat China-Timur Tengah di Universitas Shaoxing, kepada Newsweek: “Saya sangat yakin bahwa dorongan utama di balik tindakan militer pemerintahan Trump terhadap Venezuela dan Iran adalah persaingan kekuatan global yang secara konsisten didukung Washington, khususnya persaingan antara Amerika Serikat dan China.”

Beberapa analis berhaluan kiri bahkan menyebutnya sebagai “doktrin cekikan China”. Idenya adalah untuk menyerang elemen-elemen kerangka geopolitik yang telah dibangun Beijing, saingan strategis utama Washington saat ini, selama beberapa dekade. Pukulan terhadap diplomasi dan ekonomi China adalah tujuan utamanya.

Mengutip analisis dari EurAsian Times, Selasa (17/3/2026), ada tiga ciri strategi pencekikan China yang sangat penting.

Pertama, jika China dapat mengganggu Amerika Serikat dalam masalah material tanah jarang, yang hampir dimonopolinya, Amerika Serikat dapat membalas dengan membatasi kemampuan China untuk memperoleh minyak dari sumber-sumber yang selama ini dapat diandalkan. Itulah tepatnya yang telah dilakukan Trump dengan menyerang Venezuela dan Iran, sumber energi penting China setelah Rusia.

Sebagai informasi tambahan, China adalah importir minyak mentah terbesar di dunia, membeli sekitar 11,6 juta barel per hari, menurut perkiraan tahun 2025 oleh Center on Global Energy Policy.

Tahun lalu, minyak Iran menyumbang 13,4% dari impor energi China melalui jalur laut. Minyak Venezuela menyumbang 4,5% dari total impor China. Jika digabungkan, dapat dikatakan bahwa China, hingga baru-baru ini, mengimpor hampir seperlima minyaknya dari Iran dan Venezuela.

Jika dilihat dari sudut pandang eksportir, Venezuela dilaporkan menjual tiga perempat minyaknya ke China dan Iran hingga 90 persen.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa China telah menjadi jalur kehidupan bagi Venezuela dan Iran. Di sisi lain, hilangnya impor minyak dari Iran dan Venezuela juga dapat dikatakan secara signifikan meningkatkan kerentanan China sebagai importir minyak terbesar di dunia.

Dalam proses menghancurkan, mengganggu, atau mengendalikan rezim di Venezuela dan Iran (di Venezuela, hal itu sudah terjadi), Trump juga berhasil merusak apa yang disebut sebagai "perdagangan Yuan".

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online