INFO TEMPO - Yayasan Astra berpartisipasi dalam ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 yang digelar di ICE BSD, Tangerang, pada 30 Juli hingga 9 Agustus 2026. Melalui kolaborasi antara Yayasan Astra - Yayasan Dharma Bhakti Astra (Yayasan Astra - YDBA) dan ASTRAtech di bawah naungan Yayasan Astra - Yayasan Astra Bina Ilmu (Yayasan Astra - YABI), Astra memperkuat ekosistem industri otomotif melalui pembinaan UMKM/IKM serta pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten.
Berbagai inisiatif tersebut diperkenalkan dalam konferensi pers yang digelar di Booth Yayasan Astra, Selasar Convention Hall, Hall Nusantara, ICE BSD, pada Selasa, 4 Agustus 2026. Kehadiran Yayasan Astra di GIIAS 2026 mengusung tema "Yayasan Astra Dukung Ekosistem Industri Otomotif".
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Di sisi penguatan pelaku usaha, Ketua Pengurus Yayasan Astra - YDBA Rahmat Samulo mengatakan industri otomotif harus didukung oleh rantai pemasok yang kuat, mulai dari Tier 1, Tier 2, Tier 3, hingga Tier 4. Menurut dia, hal tersebut akan mendorong pengembangan industri komponen lokal sehingga mengurangi ketergantungan terhadap impor.
Melalui fokusnya dalam membina Industri Kecil dan Menengah (IKM), Yayasan Astra - YDBA mendorong pelaku usaha kecil agar naik kelas menjadi pemasok industri otomotif. Samulo mengatakan langkah tersebut dilakukan melalui penguatan mentalitas usaha, peningkatan kualitas, pengelolaan biaya, hingga ketepatan pengiriman agar mampu memenuhi standar perusahaan besar.
"Jadi Yayasan Astra terutama YDBA itu menyiapkan usaha-usaha kecil supaya dia bisa menjadi Tier 2, Tier 3, atau Tier 4 dari komponen maker-nya," kata Samulo pada Selasa, 4 Agustus 2026.
(Dari kiri) Ketua Pengurus Yayasan Astra–YDBA Rahmat Samulo, Pemilik PT Arkha Industries Indonesia Mad Ali Haris, Direktur ASTRAtech Henri Paul, dan alumni program Meister Wisnu Prasetyo dalam konferensi pers di Booth Yayasan Astra, GIIAS 2026, ICE BSD, Tangerang, Selasa, 4 Agustus 2026. TEMPO/Rizki Yusrial
Proses pembinaan tersebut membutuhkan waktu yang panjang. Samulo mengatakan tidak seluruh usaha binaan berhasil karena sebagian masih menghadapi kendala dalam menjaga kualitas dan konsistensi sesuai standar industri.
Meski demikian, melalui proses pendampingan berkelanjutan, sebanyak 400 perusahaan binaan berhasil masuk ke dalam rantai pasok industri komponen otomotif. Perusahaan-perusahaan tersebut menghasilkan sekitar 1.700 komponen dengan nilai transaksi mencapai Rp 5 triliun pada 2025.
Salah satu binaan Yayasan Astra - YDBA adalah PT Arkha Industries Indonesia. Mad Ali Haris selaku pemiliknya mengatakan perusahaan yang berdiri pada 2014 itu awalnya hanya memiliki 60 karyawan dengan omzet sekitar Rp 500 juta hingga Rp 1 miliar per bulan.
Adapun tantangan utama saat itu berada pada kualitas produk, ketepatan pengiriman, serta sistem manajemen produksi. Setelah mendapat pembinaan Yayasan Astra - YDBA pada 2022, Arkha memperkuat aspek mentalitas usaha, manajemen mutu, efisiensi biaya, dan sistem produksi hingga mampu masuk ke rantai pasok Astra melalui PT Astra Komponen Indonesia (ASKI).
Kini, omzet perusahaan meningkat menjadi sekitar Rp 8,5 miliar per bulan dengan jumlah karyawan 310 orang dan luas area produksi mencapai 17.000 meter persegi.
"Alhamdulillah dari sini dari Yayasan Astra - YDBA itu mereka memberikan beberapa training. Pertama untuk mentalitas basic mentality karena di sini penting jadi kita dijadikan untuk sebagai jiwa petarung bisa bersaing sama kompetitor yang lain," kata Ali.
Dengan pencapaian tersebut, Yayasan Astra - YDBA ke depan tidak hanya fokus pada pembinaan manufaktur otomotif, tetapi juga memperluas programnya ke sektor bengkel umum roda empat, kerajinan, kuliner, dan pertanian. Selain itu, Yayasan Astra - YDBA mengembangkan program Training for Trainers untuk mencetak lebih banyak pembina UMKM.
Sementara, dari sisi pengembangan sumber daya manusia (SDM) industri otomotif, Direktur ASTRAtech Henri Paul mengatakan pihaknya menerapkan konsep ASTRAtech Dual System. Konsep tersebut merupakan metode pendidikan vokasi yang menggabungkan pembelajaran teori di kampus dengan praktik langsung di jaringan industri Grup Astra.
Melalui kurikulum yang melibatkan industri secara langsung, mahasiswa terbiasa dengan standar industri seperti quality, cost, dan delivery (QCD) sebelum memasuki dunia kerja. Mahasiswa juga mendapatkan pengalaman lapangan melalui program internship, termasuk di perusahaan binaan Yayasan Astra - YDBA, serta didukung kerja sama dengan berbagai asosiasi di dalam dan luar negeri.
"Dengan itu kami bisa membangun ekosistem atau kompetensi para mahasiswa kita secara riil," kata Henri.
Selain itu, ASTRAtech menjalankan program Meister sebagai upaya meningkatkan kualitas kompetensi tenaga vokasi di bidang otomotif. Program sertifikasi berstandar Jerman ini membekali peserta dengan kemampuan yang tidak hanya mendukung karier profesional di industri, tetapi juga memungkinkan mereka membuka usaha, membimbing peserta magang, hingga menjadi tenaga pendidik.
Hingga saat ini, ASTRAtech telah meluluskan 69 peserta melalui program Meister. Program tersebut mencakup berbagai materi, mulai dari aspek teknis, manajerial, keuangan, hingga kepemimpinan dengan total pembelajaran selama 400 jam yang mengacu pada standar Jerman melalui kerja sama dengan HWK Koblenz, ZDK, dan AHK-EKONID. Para lulusan program ini kini telah tersebar dan berkontribusi di berbagai perusahaan dalam Grup Astra.
Salah satu alumni program Meister adalah Wisnu Prasetyo yang kini bekerja sebagai Workshop Supervisor BMW Astra Serpong. Ia mengatakan melalui program Meister, dirinya tidak hanya mendapatkan kemampuan memperbaiki kendaraan, tetapi juga mempelajari cara menangani pelanggan, melakukan estimasi perbaikan, hingga menyelesaikan komplain.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meninjau demonstrasi teknologi pendidikan vokasi di Booth Yayasan Astra pada ajang GIIAS 2026 di ICE BSD, Tangerang, Selasa, 4 Agustus 2026. Dok. Astra
Berbekal ilmu yang diperoleh dari Astra Meister, Wisnu yang sebelumnya berperan sebagai Technical Advisor dengan fokus pada penyelesaian masalah teknis kini memiliki wawasan lebih luas terkait bisnis otomotif. Program tersebut juga mendukung pengembangan kariernya hingga beralih ke posisi Workshop Supervisor.
"Ya harapannya industri-industri lain bisa bergabung sehingga program Meister ini lebih berkembang dan nantinya ya karir-karir dari lulusan alumninya bisa berkembang ke depan," ujar Wisnu.
Komitmen Yayasan Astra turut mendapat dukungan dari pemerintah yang tercermin melalui kunjungan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita ke Booth Yayasan Astra dalam rangkaian GIIAS 2026. Dalam kesempatan tersebut, keduanya mengapresiasi kolaborasi antara dunia industri, pendidikan vokasi, dan pemerintah sebagai upaya memperkuat daya saing industri otomotif nasional. (*)
.png)




































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/7336618/original/055797600_1780120424-20260530_105918.jpg)






:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8150672/original/053064500_1781004160-ChatGPT_Image_Jun_9__2026__06_20_55_PM.jpg)


:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/8219231/original/099371400_1781078947-AA-4.jpg)

