9 Kalimat yang Dulu Dianggap Normal Ini Ternyata Bisa Berdampak Buruk untuk Anak

3 hours ago 4

Jakarta -

Cara mendidik anak dari dahulu hingga sekarang mengalami banyak perubahan, Bunda. Salah satunya terlihat dari bagaimana orang tua menyampaikan kata-kata kepada anak.

Beberapa kalimat yang dahulu diucapkan dianggap sebagai hal yang biasa dalam mendidik anak. Namun kini, kita perlu paham bahwa setiap ucapan bisa punya makna yang berbeda saat diterima oleh anak.

Di banyak keluarga, pola komunikasi lama masih digunakan karena sudah jadi kebiasaan yang turun-temurun. Namun, mulai ada kesadaran untuk mengubah cara berbicara agar sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembang anak saat ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Karena itu, orang tua kini diajak untuk berhati-hati dalam menggunakan kata-kata kepada anak, supaya pesan yang disampaikan bisa diterima dengan baik.

Kalimat yang dulu dianggap normal tetapi ternyata berdampak buruk bagi anak

Menilik pada laman Yahoo Life, terdapat beberapa ungkapan yang dahulu dianggap normal, tetapi ternyata dapat berdampak kurang baik bagi anak. Berikut penjelasan lengkapnya:

1. "Bunda hanya mengkhawatirkanmu"

Di banyak keluarga, kalimat ini masih suka diucapkan sebagai bentuk perhatian dan kasih sayang. Niatnya tentu baik, yaitu karena Bunda peduli dan ingin anaknya baik-baik saja dalam menjalani hidupnya.

Namun, bagi sebagian anak, kalimat ini terasa seperti tanda bahwa ada sesuatu yang "salah" dari dirinya atau pilihannya. Padahal, tidak selalu ada masalah dalam situasi yang sedang mereka jalani.

Penelitian yang diterbitkan di PLOS ONE oleh Michelle Jin Yee Neoh dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa pola pengasuhan yang terlalu protektif dapat membuat anak lebih sensitif terhadap kritik.

Mereka jadi mudah merasa dinilai, meskipun sebenarnya tidak ada maksud negatif dari orang tuanya.

2. "Di zaman Bunda, Bunda langsung saja mengerjakannya"

Kalimat seperti ini kerap diucapkan sebagai bentuk dorongan agar anak lebih kuat menghadapi masalah. Maksudnya, Bunda ingin menyampaikan bahwa tantangan hidup bisa dilewati seperti yang sebelumnya pernah Bunda alami.

Namun, bagi anak, kalimat ini seperti perbandingan antara masa lalu dan keadaan mereka sekarang. Seolah-olah masalah yang mereka hadapi dianggap tidak sebesar atau tidak sesulit yang pernah terjadi dahulu.

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Social and Personal Relationships oleh Erica Szkody dan Cliff McKinney menunjukkan bahwa komunikasi seperti ini dapat memengaruhi hubungan orang tua dan anak yang sudah beranjak dewasa.

Terlebih, ketika ada tuntutan agar anak mengikuti cara berpikir yang sama persis dengan orang tua.

3. "Bunda dan Ayah hanya menginginkan lebih banyak untukmu"

Ungkapan seperti ini biasanya disampaikan dengan niat yang tulus. Bunda dan Ayah ingin anak punya kehidupan yang lebih baik dari yang pernah dijalani.

Namun, kata "lebih baik" di sini terdengar seperti perbandingan, Bunda. Anak bisa merasa bahwa apa yang mereka miliki saat ini belum cukup memenuhi harapan orang tuanya.

4. "Kamu selalu bisa melewati semuanya dengan baik"

Kalimat ini biasa terucap oleh Bunda dan Ayah sebagai bentuk keyakinan pada kemampuan anak. Maksudnya, orang tua ingin menunjukkan bahwa anak sudah pernah berhasil melewati berbagai kesulitan sebelumnya.

Jadi, mereka percaya anak juga akan mampu menghadapi tantangan yang sedang terjadi saat ini. Namun, kalimat ini terasa seperti mereka harus menghadapi semuanya sendiri.

Seolah-olah karena sebelumnya anak berhasil, sekarang pun dianggap tidak perlu banyak bantuan. Padahal, di balik itu, setiap proses yang dijalani anak tetap butuh dipahami oleh Bunda.

Perlu diketahui bahwa tidak semua perjuangan terasa sama dan setiap situasi tetap layak untuk didengar dan diperhatikan.

5. "Semuanya akan baik-baik saja"

Berikutnya, ungkapan ini masih sering orang tua ucapkan dengan harapan anak bisa lebih tenang menghadapi masalahnya. Biasanya, ini sebagai bentuk dukungan bahwa keadaan akan segera membaik.

Namun, saat anak sedang berada di tengah situasi yang sulit, ucapan ini seperti menyederhanakan masalah anak. Apa yang sedang mereka rasakan sepertinya tidak terlalu berat untuk dipikirkan, Bunda.

6. "Kamu persis seperti ayahmu"

Kalimat yang satu ini mungkin terdengar sebagai pujian, terlebih jika disampaikan dengan nada yang lembut. Biasanya, ini terucap saat Bunda melihat sifat baik anak yang mengingatkan pada ayahnya.

Namun, dalam situasi tertentu, kalimat ini juga bisa terasa berbeda, apalagi jika disampaikan ketika terjadi masalah. Anak bisa merasa dirinya dibandingkan atau seolah ditempatkan dalam bayangan sosok ayahnya.

7. "Bunda membesarkanmu agar kamu mampu menghadapi apa pun"

Kalimat ini kerap orang tua ucapkan dengan rasa bangga melihat anaknya tumbuh menjadi pribadi yang kuat. Namun, di sisi lain, kalimat ini juga bisa membawa harapan yang berat jika sedang disampaikan di momen yang sulit.

Bagi anak yang sudah dewasa dan sedang berjuang, kalimat ini seperti tuntutan untuk selalu kuat. Mereka bisa merasa tidak punya ruang untuk mengakui bahwa saat ini mereka sedang kewalahan.

8. "Bunda merasa jarang bertemu denganmu"

Ucapan ini biasanya orang tua ucapkan dengan rasa rindu, bukan untuk menyalahkan anak. Bunda hanya merasakan bahwa waktu bersama jadi lebih sedikit karena kesibukan dan kehidupan anak yang sudah berbeda.

Perubahan ini biasa terjadi seiring anak beranjak dewasa dan punya kesibukannya masing-masing. Namun, anak bisa merasa bahwa mereka kurang hadir atau memperhatikan orang tuanya.

Padahal, mereka juga sedang berusaha menyeimbangkan banyak tanggung jawab dalam hidupnya, Bunda. Situasi ini pun kerap bikin mereka serba salah, karena sulit untuk menanggapi tanpa menyinggung perasaan Bunda.

9. "Bunda hanya ingin kamu bahagia"

Hingga kini, orang tua masih menggunakan kata-kata ini sebagai bentuk kasih sayang dan perhatian. Bunda pun mengucapkannya karena ingin memastikan anak baik-baik saja dalam menjalani hidup.

Namun bagi anak, ungkapan ini bisa terdengar seolah kebahagiaan mereka sedang dipertanyakan. Padahal, maksud Bunda sebenarnya adalah bentuk cinta dan kepedulian sebagai orang tua.

Itulah beberapa kalimat yang dulu dianggap normal, namun ternyata bisa berdampak kurang baik bagi anak. Semoga penjelasannya dapat membantu, ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/fir)

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online